
Ice Girls
~Happy Reading💞~
"Wah ...! Dingin banget, kaya lagi dalam kulkas," kata Siska kagum sembari merentangkan kedua tangannya menikmati suasana di dalam Supermarket sekarang.
"Norak," sahut Adel yang tak digubris oleh Siska sama sekali.
Gadis itu berjalan mendorong sebuah troly. Ia memilih beberapa camilan dan berpindah ke camilan yang lainnya dengan bahagia.
"Cojut! Sini, buruan! Bantuin gua milih snacknya!"
Mika menyerngit tak suka melihat kelakuan Siska. Memangnya dia siapa? Seenaknya saja, menyuruh orang!
"Ogah!" ketus Mika.
Siska berdecak kesal melihat keras kepala Mika. Ia kemudian meninggalkan troly yang tadi ia dorong dan menarik kasar tangan Mika ke sana.
"Lo yang dorong! Gua yang milih!"
"Maksa banget jadi orang!"
"Eiii ... lo gak ingat? Kaki gua sakit karna siapa?" tanya Siska berbisik tepat di telinga Mika.
Mika bungkam, seketika ia menunduk menatap kaki gadis itu.
"Masi sakit loh ini," lanjut Siska melebihi lebih kan.
Mika membuang wajahnya kesal. Dan pada akhirnya mendorong troly itu tanpa berkata apapun lagi.
'Kalau bukan karna merasa bersalah, gua gak bakal pernah sudi ngikutin kata-kata si Cewan!' batin Mika meremas pegangan troly dengan kuat sangkinkan geramnya.
"Nah, gitu dong!" sewot Siska melihat Mika yang akhirnya menurut.
Adel, Fani, Daffa dan juga Raihan, sedari tadi hanya diam menonton perkelahian mereka berdua. Hingga akhirnya kedua orang itu pergi belanja bersama.
"Adel, mau belanja bereng?" ajak Fani menampilkan senyum hangatnya.
"Hm," dehem Adel.
Fani menatapnya antusias. Tak ia sangka, Adel akan menjawabnya secepat ini. Biasanya, gadis itu akan berfikir dulu. Dengan senang, Fani mengambil satu troly di sana dan mendorongnya.
"Ayo!" ajaknya sembari berjalan mendahului Adel.
Adel mengangguk mengikuti jalan gadis itu. Keduanya pergi begitu saja, meninggalkan Daffa dan Raihan yang sibuk mengobrol.
"Del, ambilin permennya!" pinta Fani sembari menunjuk permen Mentos di rak samping Adel.
Adel menoleh ke samping dan mengambil dua sachet permen yang diminta Fani.
"Rasa apa?" tanyanya sembari mengangkat dua sachet permen Mentos rasa mint dan lemon.
"Hmmm ... rasa apa, ya?" bingung Fani sembari menatap lamat-lamat kedua permen itu.
"lo suka?"
"Gua suka dua-duanya. Heheh," kekehnya sembari menggaru tengkuk yang tidak gatal.
Adel mengangguk, lalu memasukkan kedua permen itu ke dalam troly Fani. Kalau bisa pilih dua? Kenapa harus satu! Itulah prinsip Adel.
Kemudian mereka berjalan lagi dengan Fani yang mendorong troly seperti sebelumnya.
"Ah! Ada Chitato!" seru Fani melihat camilan kesukaannya dengan mata yang berbinar.
"Lo mau?" tanya Adel.
Fani langsung saja mengangguk antusias menjawabnya. Matanya tak henti-henti berbinar. Tak hanya chitato! lays, qtela, doritos, semua cemilan kesukaannya ada di rak itu.
Adel menatap gadis di sampingnya datar seperti biasa. Wajah Fani benar-benar terlihat senang sekarang. Segitu sukanya kah? Fani dengan camilan.
'Seperti kucing,' batin Adel melihat mata Fani yang tak henti-henti berbinar.
"Gua ambil."
Setelah mengatakan itu, Adel berjalan ke rak yang dimaksud Fani. Sayangnya, rak itu sedikit tinggi hingga membuat Adel harus berjinjit mencapainya.
Sebenarnya Fani ingin menolong, tapi, Adel lebih tinggi darinya. Jadi, mana mungkin ia yang pendek ini bisa menggapai itu.
Adel terus saja berjinjit. Membuat rok pendek yang ia kenakan sedikit terangkat ke atas. Para pria yang kebetulan belanja di sana. Menatap kaki Adel dengan tatapan yang tidak sopan.
Fani yang menyadarinya, langsung saja mengingatkan Adel dengan wajah panik. Tapi gadis itu tak mendengarkan. Ia tetap bersikeras menggapai snack yang diinginkan Fani.
Tap!
Sebuah tangan terulur, mengambil barang yang diinginkan Adel dari belakang. Gadis itu sontak menoleh karena penasaran. Siapa yang membantunya?
"Lo bodoh, ya?!" bentak Daffa dengan wajah yang memerah menahan emosi.
Dia memberikan Snack itu pada Adel yang langsung diterima gadis itu.
"Bodoh?" tanya Adel polos. Ia sama sekali tidak mengerti maksud Daffa.
Manik mata Daffa tak sengaja menatap blazer hitam yang dikenakan Fani. Ia kemudian berjalan mendekati gadis itu.
"Fan, gua boleh pinjam blazer lo, gak?"
Awalnya Fani bingung. Untuk apa Daffa meminjam blazer miliknya? Tapi, karna tak mau ambil pusing, Fani menyetujuinya saja.
"Boleh, kok!" Fani melepas blazer itu dari tubuhnya. Sekarang ia hanya mengenakan pakaian sekolah lengan pendek sama seperti Adel.
"Nih," kata Fani sembari memberikan blazernya pada Daffa. Daffa dengan senang hati menerimanya, lalu berjalan ke arah Adel lagi.
"Mau apa?" tanya Adel bingung saat Daffa mendekat ke arahnya.
Pria itu mengikatkan blazer hitam milik Fani di pinggang Adel. Sehingga dapat menutupi rok Adel yang terlalu pendek.
"Beres!" seru Daffa melihat blazer yang terikat sempurna di pinggang gadis itu.
"Sekarang kalian belanjanya bareng gua aja, entar kalau ada yang tinggi lagi. Gua bisa ambilin buat kalian," terang Daffa menampilkan senyuman hangat miliknya.
Adel menunduk menatap benda yang terikat di pinggangnya. Tangannya tergerak ingin mencopot benda itu karena risih. Namun, dengan cepat Daffa memegang tangan Adel.
"Jangan dicopot!"
"Hah ... Baiklah," jawab Adel menghela nafas malas.
"Raihan mana?" tanya Fani tiba-tiba yang dapat menarik perhatian keduanya.
"Lagi godaiin mbak kasir," jawab Daffa terkekeh.
Padahal bukan Raihan yang menggoda, tapi kasir itulah yang menggoda Raihan. Hingga membuat Daffa muak dan akhirnya meninggalkan Raihan yang terjebak di sana.
"Begitu, ya? Raihan memang playboy!" ketus Fani dengan wajah kesal.
"Lo cemburu?" tanya Daffa.
"Gak, tuh!" elak Fani membuang wajahnya ke samping dengan tangan yang ia lipat di dada.
"Yaudah, kalau gitu. Belanja bareng kita aja," ajak Daffa yang diangguki setuju oleh Adel.
"Gak, deh. Gua mau sendiri aja."
Setelah mengatakan itu, Fani memberikan troly yang ia dorong pada Daffa. Hanya ada permen Mentos dan beberapa snack kesukaan Fani di sana.
"Kenapa lo ngasi ini ke gua?"
Fani tak menggubris perkataan Daffa, ia dengan cepat berlari meninggalkan keduanya.
"Mau kemana, dia?" gumam Daffa melihat kepergian Fani yang tampak buru-buru.
"Raihan," sahut Adel.
"Maksud lo, ketemu Raihan?"
"Hm."
Ia mengangguk paham mendengar penjelasan singkat Adel.
"Mau lanjut belanja?" ajaknya yang diangguki oleh Adel.
Adel kemudian memasukkan snack yang masi setia ia pegang dari tadi ke dalam troly yang tengah di dorong Daffa.
Daffa tersenyum melihatnya. Kedua orang itu melanjutkan kegiatannya hingga troly yang Daffa dorong sudah hampir penuh sekarang. Mereka membeli macam-macam snack dan beberapa keperluan untuk kemah besok.
"Lo," Adel menatap Daffa penuh selidik.
"Suka coklat?" tanya Adel penasaran melihat Daffa yang membeli begitu banyak coklat sedari tadi.
Daffa menggeleng menyatakan kalau ia tidak suka. Adel menatap aneh Daffa. Untuk apa membelinya jika tidak suka? Pikir Adel.
"Hahah ...! Gak usah natap gua begitu. Gua emang gak suka coklat. Tapi, adik gua suka! Makanya gua beli banyak."
"Lo Punya adik?"
"Iya, dong! Adik gua cowok. Baru umur enam tahun. Namanya Alfian. Dia agak nakal sih."
"Alfian?"
"Hm. Kenapa? Lo mau ketemu Alfi?" tanya Daffa sambil mendorong troly yang sudah penuh itu ke kasir.
"Mungkin ... lain kali," jawab Adel merasa tertarik dengan Alfian.
Daffa kaget mendengarnya. Ia hanya basa-basi saja tadi. Daffa pikir Adel tidak akan tertarik. Bagaimana jika suatu saat nanti Adel benar ingin bertemu dengan Alfian? Anak nakal seperti Alfi! Tak boleh menyakiti Adel. Hah ... Daffa sudah salah bicara rupanya.
"Baiklah," cicit Daffa dengan wajah lesu.
TBC ...
#Next?