Ice Girl

Ice Girl
part 32



Ice Girls


~Happy Readingđź’ž~


"Kalian ngapaiin?"


Bu Ayu menatap heran anak-anak didiknya itu. Padahal bus nya sudah ingin berangkat. Kenapa mereka masi di luar? Bahkan tas dan barang-barang belum dimasukkan.


"Kita lagi nungguin temen, bu," jawab Mika yang diangguki setuju oleh teman-temannya.


"Siapa? Semua kelas Xi ipa 1 sudah pada dateng. Jadi kalian nunggu siapa, lagi?"


Mereka terdiam ragu ingin menjawab pertanyaan dari Bu Ayu. Sesaat kemudian Daffa berdehem kecil. Memutuskan untuk angkat bicara menggantikan teman-temannya yang hanya diam.


"Kita lagi nungguin Adel, Bu."


"Adel?" tanya Bu Ayu dengan dahi yang mengerut.


"Bukannya ... Adel tidak ikut kemah?" lanjutnya dengan ekspresi bingung.


"Hah?"


"Kemarin, Riski dan Adel datang ke ruangan saya. Mereka bilang kalau Adel gak bisa ikut acara kemah dan minta izin ke ibu. Riski juga ikut bantuin Adel, kok! Kemarin," kata Bu Ayu menerangkan semuanya panjang lebar.


"Saya juga udah bilang, Bu. Tapi mereka gak percaya," sahut Riski dari dalam bus.


Rupanya, pria itu tengah mendengar obrolan mereka dari jendela bus di samping. Semua mata terfokus pada Riski yang menyahut dari dalam. Ia kemudian menyengir, menyadari dirinya yang tertangkap basah menguping pembicaraan.


"Tapi Bu, Adel bilang—"


"Gak ada tapi-tapi! Sekarang kalian masuk! Sebentar lagi bus nya mau berangkat," ucap Bu Ayu memotong perkataan Fani.


Fani menunduk dan mengangguk dengan wajah murung. Ia kemudian memasukkan tasnya ke dalam bagasi bus yang dibantu oleh Raihan.


Semua orang itu juga hanya bisa menuruti perkataan dari wali kelas dan melakukan hal yang sama seperti Fani.


"Kenapa kamu hanya diam saja? Cepat masuk!"


Bu Ayu menatap garang Daffa yang tetap berada di luar. Semua temannya sudah masuk ke dalam bus, tapi ia masi bersikeras berdiri di luar. Apa yang Daffa pikirkan?!


"Maaf, Bu. Tolong izinin saya buat nunggu Adel di luar. Saya yakin, dia pasti dateng kok."


"Yakin, apanya? Ibu 'kan sudah bilang, kemarin Adel izin sama ibu. Jadi, dia gak bakalan dateng hari ini."


"Saya tau, Bu. Tapi ... Saya mohon banget Bu, tolong ... undur waktu berangkatnya. Lima belas menit lagi saja. Saya yakin, Adel pasti datang!" pinta Daffa dengan wajah memelas.


Ia menghela nafas lelah melihat kelakuan Daffa. Dan kemudian memalingkan wajahnya. Tak sanggup menatap wajah memelas milik Daffa. Pria itu terlihat seperti anak kucing yang sedang merengek minta makan. Benar-benar menggemaskan! Pikir Bu Ayu.


"Hah ... Baiklah! Hanya lima belas menit saja. Tidak lebih! Saya tunggu di dalam bus. Jika Adel tidak datang juga, kamu harus masuk ke dalam dan kita berangkat."


Daffa tersenyum antusias saat mendengar jawaban dari Bu Ayu. Ia mengangguk setuju dengan kata-kata wanita itu. Walaupun hanya lima belas menit, setidaknya Daffa masi punya harapan untuk menunggu gadis itu datang.


Setelah mengatakan hal itu, Bu Ayu pergi masuk ke dalam bus dan meninggalkan Daffa yang masi menunggu sendiri di luar.


Daffa berdiri sembari bersandar di samping pintu bus. Menungggu gadis yang ia yakini akan datang sebentar lagi. Daffa memejamkan mata sedikit lelah dan akhirnya tertidur.


***


"Hei, Difa! Bangun!"


Daffa mengerjabkan mata terbangun dari tidurnya. Pria itu kemudian menatap gadis yang baru saja berteriak membangunkannya itu.


"Cepat naik! Udah mau berangkat," kata Siska dengan wajah kesal.


Rupanya gadis yang membangunkan Daffa adalah Siska. Sudah lima belas menit berlalu sejak Daffa menunggu Adel sendiri di luar dan akhirnya ketiduran.


Siska diminta untuk membangunkan pria itu oleh Bu Ayu. Awalnya Siska menolak karena malas. Namun Bu Ayu terus-terusan memaksanya dan akhirnya ia menurut saja.


"Adel mana?" tanya Daffa sembari menoleh ke sana ke mari mencari sosok gadis itu.


Siska terdiam. Kemudian menatap Daffa dengan raut wajah sebal.


"Gak dateng!" jawabnya dengan suara ketus.


"Lagian, si Es batu kurang ajar banget! Dia bohong sama kita semua! Gua kesel, tau gak?! Br*ngsek!! Keterlaluan! Emangnya dia siapa? Harus di tunggu-tunggu!" lanjut Siska mengomel.


Daffa hanya diam mendengarkan omelan gadis di depannya sembari memasang wajah masam. Ternyata sampai akhir pun Adel tak datang. Sebenarnya, apa yang Daffa harapkan? Menyedihkan!


"Lo juga cepatan masuk! Udahlah, si Es batu gak bakalan dateng. Gak usah ditunggu lagi! Lo bodoh, ya?!"


"Iya, gua emang bodoh," lirih Daffa tersenyum miris.


"Itu lo tau! Yaudah, ayo masuk!" sewot Siska dan kemudian masuk meninggalkan Daffa lebih dulu.


Daffa lagi-lagi tersenyum miris meratapi kebodohannya. Ia melangkahkan kaki hendak masuk menyusul Siska ke dalam.


"Daffa!"


Baru saja ia ingin masuk, seseorang sudah memanggilnya dari belakang. Daffa tersenyum senang, ia sangat mengenal suara ini. Daffa kemudian berbalik dengan hati yang berdebar.


"Adel?"


Di sana tampak Adel yang baru saja keluar dari dalam mobil dengan Indra di sampingnya. Gadis itu berdiri sembari menatap Daffa yang menatapnya bengong.


Mika, Raihan dan Fani yang mendengarnya dengan kompak menatap ke luar. Semuanya berlari ke luar dan berjalan ke tempat Adel.


"Lo dari mana aja?"


"Heh?! Es batu s*alan! Lo pikir lo itu siapa? Seenaknya dateng lama-lama! Kita capek nungguin lo, tau gak?!"


"Emang deh, lo pinter tapi gak punya perasaan! Berhati dingin! Kali ini gua setuju sama si Cewan!"


"Tega banget lo! Kasian Fani, udah nungguin dari tadi!"


Banyak lagi omelan-omelan yang keluar dari mulut teman-temannya itu. Tetapi Adel hanya diam menatap mereka datar seperti biasanya.


Namun, jauh di dalam lubuk hati Adel. Ia sangat senang. Ternyata, orang-orang di depannya ini menunggu dirinya dari tadi. Tapi, kenapa Daffa hanya diam? Sedari tadi pria itu tidak bicara sepatah kata pun. Adel pikir, ia akan ikut mengomel seperti yang lain nya. Apa Daffa marah?


"Daffa lo—"


"Kenapa bawa koper? Lo mau kemana?" tanya Daffa dengan mata yang terfokus pada koper yang ada di tangan Indra.


Indra tersenyum mendengar pertanyaan Daffa. Ia melirik Adel sekilas yang kini menatapnya tajam. Apa salah Indra?


"Oh, ini?" Indra mengangkat koper yang ia pegang. "Tadi, gua sama Adel mau ke rumah kakek di ban—"


"Bukan apa-apa!" potong Adel merampas kasar kopernya dari tangan Indra.


Indra geleng-geleng kepala melihat kelakuan adik satu-satunya itu. Adel benar-benar!


"Dia, siapa?"


Siska menatap kagum Indra. Membuat Adel menatapnya sinis.


"Kakak gua!" jawab Adel ketus. "Dia gak suka sama lo," lanjutnya lagi dengan nada dingin.


"Pfttth ...!" Indra memalingkan wajah menahan tawanya yang hampir pecah. Rupanya, adiknya itu masih sama.


Dari dulu, Adel sangat tidak suka saat para gadis menatap Indra kagum. Apalagi, sampai mereka naksir dengan kakaknya itu. Bagi Adel, tidak ada yang boleh merebut kasih sayang kakaknya darinya! Adel tidak suka disaingi!


"Elah! Kakak lo emang ganteng sih, tapi karna lo adiknya! Gua gak jadi naksir!" tegas Siska yang membuat Indra tertawa kekeh mendengarnya.


"Sudahlah, sana masuk! Kayanya udah mau berangkat." Indra mengelus lembut rambut Adel sama seperti kebiasaannya.


"Makasi, kak Indra."


"Iya, sama-sama. Kamu harus hati-hati, ya? Kalau ada bahaya, telpon kakak! Harus!!"


"Hm."


Daffa menatap kakak adik di depannya sedikit tak suka. Matanya terfokus pada koper yang ada di tangan Adel dan mengambilnya.


"Hah?"


"Biar gua yang bawa. Ayo!" ucap Daffa menarik tangan Adel pergi dari sana.


Siska dan yang lainnya juga ikut pergi bersama kedua orang itu. Meninggalkan Indra seorang diri yang menatap kepergian mereka dengan tersenyum hangat.


"A–anu Tuan muda," ucap sang Supir menatap Indra gelagapan.


Wajah Indra yang tadinya tersenyum dengan cepat ia ubah jadi datar. Indra menoleh dan menatap tajam pria paruh baya di sampingnya.


"A–anu sa–saya cuma mau nanya. Ki–kita jadi ke bandara?"


"Tidak."


"Jadi, apa saya harus mengantar anda ke kantor? Se–sepertinya, nyonya menunggu anda di sana."


"Mama?!" Indra menyerngit bingung.


"I–iya, kemarin nyonya pulang ke indonesia."


Indra memutar bola matanya malas. Apa yang dipikirkan ibu nya sekarang?!


"Ngapain?"


"Sa–saya tidak tau. Mungkin beliau ingin ber–bertemu dengan anda?"


"Ck, menyebalkan!" umpatnya.


Supir itu menelan salivanya susah payah. Takut melihat wajah menyeramkan Indra. Kenapa pria itu sangat berbeda jika tidak ada Adel? Benar-benar menyeramkan!


"Kita ke kantor! Temui Mama. Sekarang juga!"


"Ba–baik!"


TBC ...


Halo, guysđź‘‹


Sampai jumpa di part selanjutnya(◍•ᴗ•◍)❤️


#Next?