Ice Girl

Ice Girl
part 35



Ice Girls


~Happy Reading💞~


Adel mengerjapkan matanya beberapa kali. Kepalanya sangat pusing. Ia menatap langit-langit dengan pemandangan sedikit memburam.


Rupanya ia sedang ada di dalam tenda. Dengan posisi masi berbaring, Adel menoleh ke samping dengan paksa. Membuat kepalanya semakin terasa pusing karenanya.


Manik mata Adel melirik dua gadis yang tertidur dengan posisi duduk di sampingnya. Meski samar-samar, ia masi mengenal keduanya. Siapa lagi kalau bukan Siska dan Fani?! Keduanya tertidur dengan posisi saling bersandar satu sama lain.


Sepertinya mereka habis menunggu Adel bangun dan akhirnya ketiduran dengan sendirinya. Kedua sudut bibir Adel terangkat menampilkan senyuman kecil khasnya. Apa mereka sekhawatir itu pada Adel? Haha lucu sekali. Ia pikir tak akan ada yang peduli dengannya.


"Hah ...!" Adel menghela nafas panjang sembari kembali menatap langit-langit tenda jengah. Bahkan, sampai akhir pun dia tetap menyusahkan orang-orang di sekitarnya. Dasar lemah! Sampai kapan ia harus jadi beban? Menyusahkan!


Tidak bisa begini. Adel harus melawannya! Harus! Tak boleh menyusahkan orang lain lagi.


Dengan tubuh yang masi lemah, Adel memaksa untuk duduk. Ini menyakitkan, tapi ia harus bisa!


Tak lupa, Adel juga berusaha sebaik mungkin untuk tidak meringis kesakitan. Agar kedua gadis di dekatnya itu tak terbangun dari tidurnya. Kasian sekali, mereka pasti lelah pikir Adel.


Setelah perjuangan yang cukup lama, akhirnya Adel bisa duduk dengan sempurna. Ia menghela nafas lega. Kepalanya masi terasa amat sakit.


Di mana kopernya? Adel harus menemukannya! Di sana ada obat penghilang rasa nyeri yang ia dapatkan dari Dokter Sherin. Jika, meminum itu setidaknya besok Adel akan merasa lebih baik.


Syukurlah koper yang ia cari ada di dalam tenda. Rupanya Siska dan Fani sudah membereskan semuanya berdua.


Tangan Adel terulur membuka koper dan mengeluarkan satu botol kecil penuh berisi obat di sana.


Tanpa aba-aba ia menelan beberapa obat itu sembari meminum air yang sudah ia bawa sebelumnya. Setelah memastikan obat pahit itu ia telan. Adel berdiri sempoyongan. Ingin keluar dari dalam tenda. Ia mau mencari angin segar sebentar.


Sebelum keluar Adel menoleh menatap kedua temannya datar. Mereka benar-benar tertidur lelap pikir Adel. Ya sudahlah, ia juga tak ingin membangunkannya. Adel kembali berbalik dan akhirnya keluar dari dalam tenda.


Manik matanya menatap sekeliling dengan ekspresi datar. Ternyata hari sudah malam. Berapa lama ia pingsan?


"Adel?"


Adel menoleh menatap orang yang memanggilnya dengan dingin. Rupanya dia Naya pacarnya Riski. Sedang apa gadis itu di sini? Bukankah ini kawasan kelas Xi? Sementara Naya kelas X!


"Syukurlah!" kata Naya berjalan mendekat pada Adel yang hanya diam.


"Lo udah sadar. Kata Riski tadi lo pingsan. Lo sakit?" lanjutnya berbasa-basi.


Lihatlah betapa tak sopan nya gadis di depannya ini. Padahal Adel kakak kelas. Ia bahkan menyebut nama Adel tanpa embel-embel kak! Ya, Adel juga tak berharap dipanggil begitu, sih.


"Hm."


"Lo tau gak?"


"Gak!"


"Hah! Kan gua belum ngomong."


"...."


"Tadi, pas lo pingsan, Daffa, Raihan, bahkan Mika juga panik, loh! Oh, iya dan ada dua orang cewek. Gua gak tau namanya siapa! Tapi, yang satunya nangis yang satunya lagi marah-marah gak jelas. Dia ngomelin elo yang lagi pingsan," kata Naya terkekeh mengingat ekspresi Siska yang mengamuk.


"...."


"Lucu, ya? Padahal dia tau lo pingsan. Masi aja dituduh pura-pura. Hadeh!"


Adel masi diam menatap gadis di depannya datar. Rupanya anak ini banyak bicara juga.


"Oh, iya! Daffa dari tadi nungguin elo bangun, loh. Tadi gua sama Riski udah nyuruh dia buat masuk tenda. Tapi tetep aja Daffa nolak. Keras kepala—"


"Di mana?"


Adel yang tadinya hanya diam kini bersuara. Membuat Naya bengong karenanya. Naya pikir Adel tak akan meresponnya, walaupun sudah bicara panjang lebar begini.


Sebenarnya, Naya diam-diam mengidolakan Adel sejak ia masuk ke sekolah SMA Taruna.


Saat melihat Adel yang hanya menatap datar orang-orang di sekelilingnya dapat menarik perhatian Naya.


Tak hanya itu, gadis itu juga sering dapat prestasi di sekolah. Populer, tegas, cuek, cantik, yang paling penting Adel tak pernah membuly orang lemah. Sungguh sempurna untuk dijadikan idola! Naya sangat menyukai Adel! Tapi, gadis itu sangat susah untuk didekati.


"Lo tuli, ya?!" tanya Adel dingin melihat Naya yang hanya menatapnya bengong sedari tadi.


"Eh? Em i–itu apa tadi? Di mana?" Naya yang tersadar seketika bicara asal. Sedikit gugup melihat Adel yang menunggu jawabannya.


"Ah, iya! Daffa. Dia ada di ... sana!" jawab Naya menunjuk sebuah pohon besar. Mata Adel mengikuti arah telunjuk Naya. Itukan tempat tenda siswa laki-laki. Tapi, sudah sangat sunyi. Sepertinya mereka sudah pada tidur.


"udah masuk?"


"Hah? Maksud lo? Gu–gua gak paham." Naya menggaru tengkuk yang tiba-tiba gatal.


"Daffa."


"Boleh ngomong yang lengkap gak? Heheh, gu–gua gak paham. Sumpah!"


Adel berdecak sembari melihat Naya kesal. Kenapa gadis ini begitu lemot?


"Masi ada, kok! Di bawah pohon. Cek aja kalau lo gak percaya. Tenang, semua anak-anak udah pada tidur. Ini udah jam satu malam. Dia lagi duduk di sana!"


Adel dan Naya menoleh. Menatap orang yang baru saja berbicara itu. Dua sudut bibir Naya terangkat. Ia tersenyum senang melihat kedatangan orang itu dan berlari memeluknya.


"Sayang!"


"Kamu udah nunggu lama? Maaf, tadi aku ada urusan sebentar," kata Riski terkekeh sembari mengusap lembut rambut Naya.


Adel yang melihat adegan yang menurutnya menjijikkan itu. Memutuskan untuk pergi meninggalkan keduanya.


"Kamu ngerti kata Adel?" Riski mengangguk menjawab pertanyaan Naya. Dia tahu betul, jika pacarnya ini mengidolakan Adel.


"Kalau gitu, Adel lo—"


"Hah? Adel mana?"


Riski terkekeh kemudian mencubit gemas hidung Naya. Pacarnya memang menggemaskan.


"Udah pergi," jawabnya yang dapat membuat Naya cemberut kesal.


****


"Bangun," ucap Adel sembari menatap Daffa yang tertidur pulas di bawah pohon.


"...."


Adel melihat Daffa datar. Pria itu bahkan tidak bangun juga. Adel kemudian berjongkok tepat di depan Daffa.


Ditatapnya lamat-lamat wajah tenang yang sedang tertidur itu. Adel mengayunkan tangannya tepat di depan wajah Daffa. Mengecek apakah pria itu benar-benar tidur. Ternyata benar! Daffa bahkan tak sadar kalau Adel kini berada di depannya.


"Hah ...!" Adel menghela nafas lelah.


"Lelap sekali," lanjutnya sembari bergumam memperhatikan wajah tampan itu.


Angin tiba-tiba berhembus kencang. Hembusan angin dingin menerpa wajah keduanya. Membuat dedaunan kering yang terbawa angin menempel di wajah Daffa yang masi tidur.


Adel yang melihatnya berinisiatif untuk mengambil daun itu. Tangannya terulur hendak menyentuh wajah Daffa.


Tap!


Ia tersentak kaget. Menatap Daffa yang memegang tangannya secara tiba-tiba.


"Gua udah bangun,"


Kedua alis adel bertaut menatap Daffa bingung. Sedangkan Daffa, pria itu tengah tersenyum jahil sekarang.


"Karna gua gak tidur," jawab Daffa terkekeh.


"Hm?"


"Gua ngeliat lo datang tadi," jujur Daffa tersenyum. Ia hanya pura-pura tidur. Saat menyadari kedatangan Adel, Daffa refleks memejamkan mata.


"Oh!"


Adel berdiri merasa kesal dengan Daffa. Ia kemudian berbalik hendak pulang ke tenda.


"Tunggu!"


TBC ...


#Next?