Ice Girl

Ice Girl
part 43



Ice Girls


~Happy Reading💞~


Matahari terbit menggantikan malam. Burung-burung berkicau dengan bising. Embun pagi terlihat jelas pada dedaunan. Membuat udara segar di hutan.


Adel terbangun dari tidur kala merasakan sesuatu yang berat telah menimpa tubuhnya. Ia buka mata perlahan dan langsung saja terperanjat kaget saat melihat sebuah kaki yang hampir mengenai wajah Adel.


Ia lirik pemilik kaki itu dengan tajam. Lantas menghempaskan kaki yang menimpanya dengan jengkel. Lihatlah, bahkan Siska tidak bangun karena hempasan itu. Padahal Adel yakin, ia sudah melakukannya dengan kuat.


"Grok ... grok ... grrok."


Suara dengkuran Siska dapat membuat Adel tambah kesal. Ia tatap gadis yang tengah tidur nyenyak itu dengan tajam.


"Emm ... hehehe." Siska mengigau sembari tertawa kecil. Adel menatapnya aneh. Apa yang ada di mimpi gadis itu sekarang? Hingga membuatnya tertawa riang di saat tidur.


"Wkwk mukanya si es batu gosong! Cair deh disambar petir, hihihi." Lagi dan lagi Siska tertawa cekikian. Lalu kembali tidur dengan nyenyak nya. Sesekali ia mendengkur keenakan.


Wajah Adel berubah jadi suram. Ternyata cewek jadi-jadian ini tengah memimpikan dirinya yang disambar petir ya?! Terlebih, dia malah tertawa senang begitu? Segitu senangnya dia melihat wajah gosong Adel di dalam mimpi?


Ditatapnya Siska dengan tatapan membunuh. Ingin memukul wajah gadis sinting itu hingga puas. Mumpung ia lagi tidur.


"Engg ...." Fani terbangun dari tidurnya. Lantas mendapati Adel yang tengah menatap Siska dengan wajah menyeramkan.


Gadis itu tersenyum smirk. Tampak sangat horror di mata Fani. Membuat ia ketakutan dan akhirnya berpura-pura tidur kembali. Untung saja Adel tak menyadarinya.


Terdengar suara bising beberapa saat. Entah apa yang Adel lakukan dengan Siska. Entahlah Fani juga tidak tahu.


Setelah selesai dengan urusannya. Adel terlihat puas meski berekspresi datar. Gadis itu lalu keluar meninggalkan tenda dengan tenang.


Mendengar langkah kaki Adel yang sudah pergi. Fani akhirnya bernafas lega. Ia buka mata perlahan dan beringsut duduk.


"Fyuhh ...!" helaan nafas lega Fani. Gadis itu kemudian menoleh hendak membangunkan Siska yang ada di sampingnya.


"Sis, lo tau gak? Tadi tuh Adel ...."


Fani menghentikan ucapannya. Memandang Siska yang masi tidur dengan wajah cengo. Sesaat kemudian ia tersadar.


"Pftt ...! Puahahaha ... Wkwk hahah aduh, perut gua."


Tawa Fani pecah. Ia pegang perutnya yang sudah keram akibat tertawa berlebihan.


Keadaan Siska benar-benar menggelikan. Adel mencoret wajah gadis itu dengan spidol. Lantas menggambar hidung babi di sana. Benar-benar deh! Bisa-bisanya Adel melakukan berbuat begitu.


Tak hanya itu, tangan dan kaki Siska juga ia ikat menggunakan selimut. Dan menulis kata 'Cewek jadi-jadian' pada dahi Siska. Adel mencoret-coret wajah gadis itu layaknya kanvas. Dan pergi dengan tenang tanpa rasa bersalah.


"Hahaha ...! Cewek jadi-jadian? Wkwk! Gambar hidung babinya boleh juga. Hahah bahkan pft ... A–Adel juga menggambar kumis wkwk. Siska jadi kaya jamet hahaha."


Siska yang terusik dengan suara tawa Fani yang berisik. Akhirnya terbangun dengan mata yang masi setengah sadar. Ia ingin duduk tapi ....


Gedubrak!!


"Kyaa ...."


"Pftthahah, jatuh kan jadinya wkwk." Fani tak henti tertawa. Ia pegang perutnya sembari memukul-mukul lantai tak tahan lagi. Ini benar-benar lucu.


"Bangs*t! Siapa yang ngikat gua? Hah?!" kesal Siska melepas ikatan itu dengan mudah.


"Bu–bukan gua, hahaha! Ta–tapi Adel."


"Es batu sial*n! Apa salah gua sama dia? Brengs*k! Kepar*t! Dasar Es batu kampret!!"


Siska tak henti-henti memaki dan berkata kasar. Sumpah serapah terus keluar dari mulutnya.


Fani menggeleng sembari mengedikan bahu acuh. Ia raih tas yang ada di dekatnya. Lantas mengeluarkan cermin dan memberikannya pada Siska.


"Ngapa lo ngasi gua kaca? Gua gak butuh!"


"Lo pasti butuh. Pftth. Haha ngaca dulu sana."


Dengan malas Siska menerima Cermin itu dari Fani. Lantas melihat wajahnya dan ....


"Euakkk ...!! Apa-apaan ini? Kenapa wajah gua gini??"


Fani tersenyum geli.


"Adel yang buat. Bagus 'kan?"


Ia buang cermin itu asal sangkin kesalnya. Untung saja tidak pecah. Lalu Siska berteriak marah.


"Es batu sialan!!!"


****


Seperti yang Riski katakan tadi malam. Hari ini mereka akan menjalani latihan atau bahkan bermain permainan.


Sudah cukup banyak yang mereka lakukan. Mulai dari menyebrang sungai menggunakan jembatan tali yang bergoyang. Sampai dengan sekarang yaitu tantangan untuk menemukan pita biru yang disembunyikan para anggota osis.


Ada sembilan total pita biru yang disembunyikan. Setiap regu terdiri atas murid kelasnya masing-masing. Dengan kata lain. Adel, Daffa, Mika dan yang lainnya satu team.


XI ipa 1 melawan kelas XI ipa 2. Siapa yang akan menang? Team mereka atau kelas ipa 1 telah menemukan empat pita biru yang disembunyikan. Begitu juga dengan team musuh, mereka juga telah menemukan empat pita. Keduanya imbang. Hanya tinggal satu pita yang tersisa untuk menentukan pemenang.


"Sial! Di mana sih pita nya sembunyi? Kesel juga gua lama-lama."


"Elah Han, Han. Sabar ngapa! Kalau pengen cepat selesai, yaudah cari yang bener."


"Bener tuh kata Daffa! Jangan ngomel mulu."


"Ribet banget sih! Pake nyari pita segala! Emang kalau kita menang dapat apa hah? Gak ada 'kan? Cih, buang waktu aja."


Daffa, Mika dan Raihan sontak menoleh menatap gadis yang baru saja mengomel itu. Siska? Kenapa gadis itu bisa ada di sini? Adel dan Fani ada di mana? Sejak kapan Siska ikut dengan mereka?


"Ada hadiahnya bego! Team yang menang bakal dapat hadiah jalan-jalan gratis ke bali. Kepsek yang traktir katanya. Royal banget yah, tuh kepsek!" jelas Mika.


"Hah? Beneran? Wah ...! Kalau ini mah harus dicari betul-betul!!"


Siska langsung saja semangat empat lima mendengar penjelasan Mika. Matanya seolah memancar dengan antusias.


"Oy, Sis!"


"Hm? Apaan?"


"Kenapa lo bareng kita? Adel dan Fani mana?"


"Cih ... ngapain lo nanyaiin si Es batu?! Bikin kesel aja."


"Kalian brantem?"


"Lah? Lo masi nanya Daff?! Kaya gak tau aja kalau Siska sama Adel ketemu udah kaya Tom and Jerry. Berantem mulu kerjaannya," sahut Raihan tak tertarik. Daffa mengangguk paham, yang dikatakan Raihan memang benar adanya.


"Eh? Bukannya itu ...." Mika menyipitkan mata seolah sedang mempertajam penglihatan nya.


"Ketemu!!" seru Mika antusias.


Daffa, Raihan dan Siska terperanjat kaget mendengarnya. Semuanya menoleh menatap Mika penuh tanya.


"Apanya yang ketemu?" tanya Siska penasaran.


Sebelum menjawab, Mika tampak celingak-celinguk. Ada banyak team lawan di sini. Akan menyusahkan jika mereka juga menyadarinya. Jadi ia berinisiatif menjawab pertanyaan mereka dengan berbisik.


"Pita nya ketemu! Coba kalian lihat di atas sana. Pita itu disembunyiin di atas pohon," terang Mika sembari berbisik tak ingin ucapannya terdengar oleh team lain.


Siska menatap pita itu dengan mata yang berbinar kagum. Lalu berteriak sangkin senangnya.


"Bener! Pitanya ada di pohon!!"


Sontak teriakan Siska dapat menarik perhatian semuanya. Orang-orang yang tadinya sibuk mencari mulai berdatangan ke arah mereka. Kacau sudah!


"Kampr*t! Kenapa lo kasi tau bego?!!" geram Mika melihat tinggah Siska. Tak hanya Mika, Daffa dan Raihan juga melirik sinis Siska. Mereka kesal!


"Upss!" Siska menutup mulutnya. "Sorry gua—"


"Bodoh! Cepat panjat pohonnya! Anak lain udah pada manjat tuh!!" potong Daffa panik melihat team lawan yang sudah ingin mengambil pita itu.


Siska melotot kaget. Lalu berlari ke arah pohon sembari berteriak.


"Woyy! Itu punya kita! Jangan diambil!"


Ketiga lelaki itu menatapnya cengo. Siska bar-bar sekali! Pikir mereka.


"Han, cepatan panjat pohonnya."


"Masa gua lagi, sih? Lo lah sekali-sekali!" balas Raihan mendengus kesal.


"Daffa aja deh! Masa gua sih?"


"Gak deh, tangan gua masi sakit. Lo kan yang nonjok gua kemarin?"


"Ck. Iya, iya! Gua yang manjat!"


Mika berjalan maju menyusul Siska. Daffa dan Raihan juga ikut menyusulnya. Kali saja, Mika membutuhkan bantuan mereka.


"Cewan? Lo ngapaiin?" tanya Mika saat mendapati Siska yang tengah menarik-narik kaki anak laki-laki yang sedang memanjat itu.


Gara-gara Siska, lelaki itu jadi tidak sampai-sampai ke atas. Sedari tadi ia terus memukul dan menarik kaki anak itu. Membuatnya jadi gagal konsentrasi.


"Pake nanya lagi! Cepetan panjat! Biar gua yang tahan nih bocah."


"Wkwk, iya! Tahan ya! Gua pasti bakal dapetin pita nya."


Setelah berkata begitu Mika mulai memanjat pohonnya dengan cepat.


Sementara anak lelaki di sampingnya masi tak bisa naik karena Siska.


"Woy, turun gak lo?" oceh Siska memukul-mukul anak itu dengan kayu yang entah darimana ia dapat.


"Eh, cewek bar-bar! Kenapa lo mukul-mukul gua?! Lepasin kaki gua Bangs*t!"


"Bodo! Itukan pita punya kita! Kita yang nemuiin duluan. Kenapa lo yang mau ngambil?" ketus Siska tak mau kalah.


"Cojut semangat!! Bali menanti kita!"


Mika yang mendengarnya terkekeh kecil. Ia sudah mendapatkan pita nya. Tinggal turun, maka pita itu akan jadi milik mereka.


Anak-anak bersorak riang melihat pita yang ada pada genggaman Mika. Sementara lelaki yang dihalangi Siska itu tampak geram.


Brak!


"Aaakk ...!"


Ia tendang Siska hingga membuat gadis itu jatuh ke tanah.


"Cewan!" teriak Mika spontan dan tanpa sengaja menjatuhkan pita biru itu. Ia langsung melompat dari ketinggian. Bahkan tak peduli jika dirinya terluka.


Tap!


Anak laki-laki itu menangkap pita yang jatuh. Lalu tersenyum riang. Dan pergi membawa pita itu ke anggotanya.


"Lo gapapa?" Mika membantu Siska berdiri. Gadis itu tampak menepuk-nepuk kecil bajunya yang kotor.


"Gapapa. Pita nya mana?"


"Ck, masi aja mikirin pita. Lo gak luka 'kan? Coba liat sikut lo siapa tau berdarah."


"Apaan sih?! Lebay banget! Gua gapapa oy! Cuma jatuh dikit," jawab Siska ketus.


"Oi, Siska lo gapapa?"


"Nih lagi, lo bedua masi aja nanya. Gua gakpapa. Luka juga kagak! Cuma jatuh doang." Ia menatap jengah Daffa dan Raihan yang baru saja sampai itu.


"Btw, pita nya mana?" lanjut Siska bertanya pada Mika saat tidak melihat apapun di tangan lelaki itu.


"Em itu ... waktu lo jatuh, Mika langsung lom—"


"Hilang dimakan rayap," jawab mika cepat memotong perkataan Raihan.


"Lah? Kok bisa sih?! Mana mungkin di makan rayap! Pasti cowok tadi yang ngambil." Kesal Siska dengan wajah cemberut.


"Biar gua ambil lagi tuh pita dari tangannya." Ia mulai berdiri hendak pergi mengejar anak laki-laki tadi. Namun ditahan oleh Mika.


"Lo mau ditendang kaya tadi? Tuh bocah kurang ajar banget!" Wajah Mika tampak kesal mengingatnya.


"Lo tunggu sini bareng Raihan dan Daffa. Biar gua yang kasi pelajaran sama tuh orang."


"Udahlah ka, biarin aja," sahut Raihan mencoba menahan Mika.


"Bener, lagian udah sore juga. Malam ini kita kan masi ada satu kegiatan lagi. Simpen tenaga lo untuk nanti." Daffa juga ikut membujuk Mika.


"Hah ... udahlah, bener juga kata si Difa. Malam ini kita kudu nyari jalan dalam kegelapan."


"Nama gua Daffa woy!"


Mau tak mau akhirnya Mika hanya mengangguk pasrah mengikuti perkataan teman-temannya. Tapi, bukan berarti ia akan melepaskan anak laki-laki itu. Lihat saja nanti, akan Mika balas berkali-kali lipat!!


"Di sini rupanya."


Mereka semua menoleh menatap dua orang yang baru saja datang itu.


"Halo!" sapa Fani tersenyum manis.


"...."


"Kalian dari mana aja?" Daffa bertanya sembari melirik Adel yang hanya berwajah datar.


"Siska ngambek sama kita. Jadi dia kabur. Makanya gua sama Adel nyariin. Eh taunya ada di sini."


"Hm." Adel hanya berdehem membenarkan ucapan Fani.


"Ayo kita ke tenda Siska. Udah sore, bentar lagi malem. Kita kan harus buat persiapan untuk latihan nanti malam."


Fani tersenyum riang lalu menarik tangan Siska dari sana. Meninggalkan Adel dan yang lainnya.


"Gua pergi." pamit Adel lalu menyusul kedua orang itu. Daffa, Mika dan Raihan hanya mengangguk menjawab pertanyaannya. Lantas ikut pergi dari sana.


Mereka juga harus mempersiapkan diri malam ini. Semoga saja semuanya berjalan lancar nanti.


TBC ....


tolong bantu vote🥺🙏🏻🙏🏻🙏🏻


#Next?