Ice Girl

Ice Girl
part 29



Ice Girls


~Happy Reading💞~


"Adel?"


Adel berjalan ke arah mereka dan tanpa permisi ia langsung duduk di samping Daffa.


"Gua gak sebodoh itu," kata Adel melanjutkan ucapannya tadi.


"Mana tau 'kan? Lo tertarik sama Riski sama kaya gua," balas Siska dengan tampang mengejek.


Adel menatap sinis Siska. Ingin sekali rasanya menyumpal mulut busuk gadis itu. Namun Adel mengurungkan niatnya, tak ingin berkalahi lebih lama lagi. Hal itu hanya akan membuang waktunya saja!


"Oh, iya! Ngomong-ngomong besok kita ada acara kemah. Kalian pada ikut 'kan?" tanya Raihan mengalihkan pembicaraan.


"Ikut, lah! Masa enggak?!" jawab Siska tak tertarik.


Daffa, Mika dan Fani mengangguk menyatakan kalau mereka juga akan ikut. Sedangkan Adel, gadis itu hanya diam saja tak ingin menjawab pertanyaan dari Raihan.


Melihat Adel yang tak menjawab apapun, semuanya dengan kompak menatapnya dan bertanya.


"Lo ikut 'kan?" tanya semuanya kompak sembari menatap Adel penuh selidik.


Adel yang ditatap seperti itu merasa sedikit tak nyaman. Melihat teman-temannya yang bersemangat. Ia jadi tak tega mengatakan yang sebenarnya pada mereka. Hal itu hanya akan merusak kesenangan yang ada untuk saat ini. Oleh karena itu, Adel terpaksa berbohong.


"Hm," dehem Adel yang dapat membuat senyuman lega di wajah orang-orang itu.


"Syukurlah," kata Daffa menunjukkan senyuman hangatnya.


Entah sejak kapan Adel jadi berpikir kalau senyuman orang-orang di sekitarnya ini sangat berharga baginya. Entahlah, mungkin Adel sudah gila sekarang. Itulah yang dipikirkan Adel saat itu.


"Berhubung kita semua bakal ikut, gimana kalau pulang sekolah nanti kita belanja snack bareng?" Mika menatap teman-temannya meminta jawaban.


"Wah! Bagus tuh ide si Cojut! Gua setuju!"


"Cojut pala lo peang?! Nama gua Mika woy! Dasar lo emang Cewan!"


"Loh? Cewan? Bukannya tadi lo bilang gua Cean, ya?"


"Gak, deh! Cean terlalu bagus. Gua ganti aja jadi Cewan. Toh artinya sama-sama cewek aneh."


"Gak sekalian aja, lo bilang gua hewan?!" geram Siska dengan darah yang mendidih.


"Kalau lo lebih suka dipanggil hewan, gua sih gak keberatan," jawab Mika santai dengan wajah tanpa dosa miliknya.


"B*ngs*t!"


"Gua juga setuju. Ide Mika bagus banget! Jadi pas di bus besok kita bisa nikmati perjalan sambil ngemil," sahut Fani setelah melihat perkelahian antara dua orang itu sudah selesai.


Fani benar-benar ingin mengatakan pendapatnya dari tadi. Hanya saja, melihat Mika dan Siska yang lagi-lagi bertengkar. Ia jadi takut untuk berbicara. Makanya ia memutuskan untuk menunggu hingga perkelahian kecil itu berakhir seuutuhnya.


"Bener! kalau Fani setuju, gua juga setuju. Fani kan jantung hati gua, jadi kalau jantung gua pergi, ya gua juga harus ikut dong. Kalau enggak, bisa mati gua tanpa jantung." Lagi-lagi Raihan mengeluarkan gombalan recehnya itu. Membuat semua orang begidik jijik mendengarnya. Kecuali Fani, gadis itu tampak tersipu malu mendengar omongan Raihan.


"Karna semuanya udah pada mau. Pulang sekolah nanti, kita ke Supermarket, nih?" tanya Daffa yang diangguki oleh semuanya kecuali Adel.


Sedari tadi, Adel hanya diam saja mendengarkan pembicaraan mereka. Gadis itu tampak melamun. Ada rasa bersalah di hatinya karna sudah berbohong pada teman-temannya. Sebenarnya, sejak kapan Adel menganggap orang-orang ini sebagai teman? Ia juga bingung.


Lagi-lagi pandangan semuanya terfokus pada Adel yang tak menjawab apapun.


"Lo mau pergi bareng kita 'kan, Del?" tanya Daffa yang dapat membuyarkan lamunan Adel.


Adel menatap Daffa sejenak. Tak seharusnya ia berbohong tadi, apa Adel harus berkata jujur sekarang?


"Maaf, Sebenernya—"


"Oh, ayolah Es batu! Jangan jual mahal, dong! Cuma beli snack doang, gak bakal guras waktu lo yang berharga itu!" potong Siska sedikit kesal dengan tingkah Adel.


"Lagian, lo sok sibuk banget, sih?! Palingan juga, pas pulang sekolah langsung makan, main ponsel, terus tidur 'kan?! Ngaku gak, lo?!" lanjut Siska mencibir.


Adel melirik tajam Siska. Bukan itu yang Adel maksud. Adel hanya ingin mengatakan yang sebenarnya. Kalau dia tidak akan ikut berkemah dan memilih untuk pergi mengunjungi kakeknya di bandung.


"Bukan—" lagi-lagi perkataannya dipotong. Kali ini Fani lah yang melakukannya.


"Ayolah Del, gua mohon ... mau, ya?"


"Ter–terserah," jawabnya dingin sembari membuang wajah ke samping.


Semuanya tersenyum senang mendengar jawaban Adel. Pada akhirnya, Adel tak bisa jujur dan tetap berbohong pada mereka.


***


"Yeay! Akhirnya nyampe juga!!"


Dengan kekanak-kanakan nya Siska keluar dari mobil Mika sembari menampilkan wajah khas orang bahagia.


"Woi, Cewan! Kalau nutup pintunya pakai hati, dong! Bisa rusak mobil gua gegara lo!" ketus Mika jengkel kala Siska membanting pintu mobilnya dengan kasar.


Mereka baru saja pulang sekolah dan sesuai rencana langsung pergi ke Supermarket untuk membeli camilan.


Siska berlari meninggalkan Mika yang masi mengomel di dalam mobil. Ia bahkan tidak dengar dengan apa yang dikatakan pria itu sekarang.


Tok, tok, tok.


Daffa dan Adel yang masi berada di dalam mobil dengan kompak menatap ke luar jendela.


"Hei, Es batu!"


Di luar tampak Siska yang mengetuk kaca jendela dengan senyuman jahilnya. Kelihatan sekali, kalau gadis itu ingin mengganggu Adel. menyebalkan sekali!


Daffa tertawa melihat ekspresi jahil Siska. Gadis itu benar-benar lucu. Ia selalu saja ingin mengganggu Adel jika ada kesempatan sedikit saja.


"Hei, Sis. Mika mana?"


"Gua kan nyapa si Es batu! Kenapa malah elo yang jawab? Lagian si Cojut gua tinggalin di—"


"Bagus, ya lo! Main cabut aja! Buruan ikut gua, si Raihan sama Fani udah nungguin di dalam."


Mika tiba-tiba saja muncul dari belakang dan menarik kasar tangan gadis itu.


"Oh, iya! Lo bedua juga, cepatan turun! Jangan pacaran mulu." Mika menghentikan langkahnya dan berbalik mengatakan hal itu pada Daffa dan Adel yang masi di dalam mobil.


"Siapa yang pacaran?" tanya Daffa yang diangguki setuju oleh Adel.


Mika mengedikkan bahunya acuh, lalu melanjutkan kembali jalannya sembari menarik kasar tangan Siska. Jangan sampai, gadis ini kabur lagi darinya.


"Kenapa?"


Daffa menatap Adel yang baru bertanya itu.


"Kenapa apanya?" tanya balik Daffa.


"Senyum."


"Senyum?" Rupanya kali ini Daffa sedikit lemot.


"Ck." Adel berdecak sebal.


"Kenapa lo senyum ke si cewek jadi-jadian?!" tanyanya dengan ekspresi dingin dan wajah suram.


"Ya? Ah ma–maksud gua," jawab Daffa gelagapan. Iya sedikit bingung dengan reaksi Adel sekarang.


Apa Adel cemburu? Ah, mana mungkin! Adel bukan gadis yang seperti itu.


"Karna Siska lucu, makanya gua ketawa," kekeh Daffa mengingat wajah Siska yang mengganggu Adel beberapa menit yang lalu.


Brak!


Daffa menelan salivanya kaget melihat Adel yang tiba-tiba membanting pintu mobil. Gadis itu keluar tanpa berkata apapun meninggalkan Daffa yang masi bengong di sana.


'Ada apa dengannya?' batin Daffa melihat kepergian Adel yang suram.


TBC ...


#krisan?😢


#Next?