Ice Girl

Ice Girl
part 46



Jangan jadi pembaca gelap!👀😒


Ice Girls


~Happy Reading💞~


"Loh? Perasaan kita udah jalan jauh banget deh. Kok gak ada tanda lagi?"


Fani menghentikan langkahnya. Menatap Adel dan Siska secara bergantian.


"Bener juga. Padahal dari tadi setiap kita ketemu tanda jejak, gak butuh waktu lama pasti ketemu tanda yang baru," jawab Siska sedikit heran.


Adel, gadis itu hanya diam tak berkata apapun. Wajahnya masi terlihat sangat pucat. Di sini benar-benar gelap. Dalam situasi begini, sepertinya ia tak akan bisa berpikir jernih.


"Apa mungkin kita tersesat?" tanya Fani sedikit takut. Gadis itu bahkan menggigit bibir bawahnya sekarang.


"Sesat?" Dahi Siska menyerngit.


"Tapi, tadi tanda jejaknya—"


Bruk!


"Siska!" kaget Fani saat mendapati Siska yang tiba-tiba saja pingsan karena dipukul dari belakang.


Adel yang tadinya memejamkan mata langsung saja tersentak kaget mendengar teriakan Fani. Ia tatap Siska yang sudah tergeletak tak berdaya di tanah. Lantas berbalik hendak melihat pelaku.


"Apa yang—"


Bruk.


Belum sempat Adel melanjutkan ucapannya. Orang itu sudah terlebih dahulu memukulnya menggunakan kayu yang cukup besar.


"Adel!!"


Fani menutup mulut dengan kedua tangannya syok. Ia tatap Siska dan Adel yang sudah pingsan tak sadarkan diri. Tubuhnya gemetar ketakutan.


Apa yang harus Fani lakukan? Ia lirik orang yang telah memukul kedua sahabatnya itu.


"Halo!" sapanya ramah sembari melambaikan tangan ke arah Fani. Membuat Fani semakin merinding melihatnya.


Perlahan kaki Fani melangkah mundur. Ia genggam walkie talkie yang dibagikan Riski tadi dengan tangan yang gemetar.


Semua orang di depan Fani menatapnya tajam. Tak hanya gadis berhodie yang ada di sana. Tetapi juga ada tiga orang pria berbadan tegap. Yang Fani yakini adalah penjaga orang misterius menggunakan hodie, masker dan topi itu. Sangat tertutup!


"Tangkap dia!" serunya memerintahkan tiga pria untuk menangkap Fani.


Fani yang mendengarnya langsung saja lari. Meninggalkan Adel dan Siska yang masi pingsan.


'Maafin gua,' batin Fani menangis terisak sembari berlari kencang.


Ia terpaksa meninggalkan kedua sahabatnya itu. Fani berjanji, dia pasti akan mencari bantuan untuk mereka. Karena itu ... Fani harus sembunyi lebih dulu.


****


Mika menghela nafas lega saat sampai di perkemahan. Akhirnya, mereka berhasil keluar. Tapi, apa-apan ini? Kenapa kedua cabe ini terus menempel padanya?


"Buka mata kalian. Kita udah sampai," kata Mika malas. Ia tahu kalau mereka hanya pura-pura.


"Huaa ... Lia takut. Enggak mau!" Lia masih saja menutup matanya dan memeluk erat lengan Mika.


"Aku juga takut," sahut Olive melakukan hal yang sama seperti Lia.


Mika berdecih kesal. Lantas menarik tangannya secara paksa. Kesabarannya sudah habis. Kedua gadis ini benar-benar menyebalkan!


"Ih ... Mika kasar banget," ucap Lia tersenyum masam dengan suara manja.


"Iya, nih. Sakit tau," sambung Olive memanyunkan bibir.


Lelaki itu menatap mereka datar. Merasa geli dengan kata-kata menyebalkan itu.


"Mika, kamu kok—"


"Bodoh amat!" ketus Mika lantas pergi meninggalkan keduanya. Bisa gila ia jika terlalu lama di sana.


"Woy, Mika! Sini bareng kita!"


Mika menoleh. Menatap orang yang baru saja memanggilnya. Di sana tampak Raihan, Daffa, Haikal—dan— pacarnya Shinta. Tengah berkumpul sembari berbincang.


"Ah, kalian udah selesai?" tanya Mika begitu sampai.


"Udah dari tadi. Lo sih, lama banget," Raihan meminum aqua gelas itu hingga ludas. Sepertinya ia benar-benar haus.


"Ck, lo tau 'kan? Gua satu team sama Olive dan Lia! Nyebelin banget. Mana nempel mulu, lagi!"


Semuanya tertawa mendengar ocehan Mika. Tahu jika lelaki itu sangat anti kontak fisik dengan para gadis. Dari dulu, Mika memang begitu. Tapi, sepertinya akhir-akhir ini berubah deh?


"Btw, mereka di mana?"


"Siapa?" tanya Haykal penasaran.


"Cewan."


"Hah? Siapa cewan?" Kini Shinta yang tampak bingung. Kedua orang itu menatap Mika penuh tanda tanya.


Daffa dan Raihan terkekeh melihatnya. Untung saja mereka tahu siapa yang dimaksud dengan Mika.


"Belum keluar. Kayanya masi di hutan."


"Hah? Ini 'kan udah dua jam sejak pelatihan di mulai. Masa belum keluar sih? Semua orang udah pada selesai, tau?!"


Daffa dan Raihan terdiam. Yang dikatakan Mika memang benar. Mustahil jika mereka masi belum selesai sampai sekarang. Apa yang terjadi? Apa mungkin ... ah tidak! Ayo berpikir positif.


Pertama-tama, mereka harus memastikan. Apakah Adel dan yang lainnya masi belum keluar dari hutan. Hanya ada satu cara untuk mengetahuinya!


Tiba-tiba saja Daffa berdiri dari duduknya. Membuat semuanya tersentak kaget. Kemudian lelaki itu berlari tanpa mengatakan apa pun.


"Daffa kenapa?" heran Haykal memandang punggung Daffa yang kian menjauh.


Mika melirik Raihan sekilas. Keduanya saling pandang selama beberapa detik. Kemudian mengangguk secara bersamaan. Seolah paham dengan maksud masing-masing. Dan pergi berlari menyusul Daffa.


"Kenapa, sih?!" kesal Haykal melihat tingkah teman-temannya itu.


"Udahlah, biarin aja," kata Shinta menyenderkan kepalanya pada bahu Haykal. Membuat lelaki itu tak lagi kesal.


***


"Hei, lo ketua osis 'kan?"


Riski memandang aneh Daffa yang tiba-tiba saja berlari ke arahnya. Napas lelaki itu tampak ngos-ngosan.


"Daffa! Tunggu."


Tak berapa lama kemudian, Mika dan Raihan sampai. Lalu berdiri di samping Daffa. Menatap Riski dengan lekat.


"Kalian kenapa?" tanya Riski heran.


"Anu Ris, coba lihat daftarnya!" pinta Raihan dengan panik.


"Hah? Daftar apaan?"


"Ah, lama!" ketus Daffa merampas kasar buku yang ada di tangan Riski.


"Woy! Santai dong balik halamannya! Entar sobek, gua capek nulis—"


"Gimana Daff? Ada?"


Tanpa peduli dengan Riski yang terus mengomel. Raihan dan Mika menatap Daffa penuh harap.


"Akh ...! Gak ada!" kesal Daffa membuang buku itu asal. Lalu menjambak rambutnya frustasi.


Di sana terdapat daftar siswa yang sudah selesai pelatihan. Dengan kata lain, setiap siswa yang sudah lolos harus melapor pada Riski. Sayangnya, Daffa tak menemukan satu pun nama gadis-gadis itu di sana. Ternyata benar, mereka belum keluar. Apa yang terjadi sebenarnya?


Riski menatapnya cengo. Sesaat kemudian tersadar. Emosinya melunjak. Bisa-bisanya Daffa membuang buku yang sudah susah payah ia tulis.


"Woy, bangs—"


"Fani belum keluar!" teriak Raihan memotong perkataan Riski.


"Ha–hah?"


"Fani, Adel dan Siska. Mereka belum keluar dari tadi," lanjutnya lagi mulai cemas.


Riski terdiam beberapa saat. Lalu tersadar lantas mengeluarkan walkie talkie yang ada di sakunya.


"Kalian tenang dulu," pinta Riski pada ketiga orang di depannya yang kini tengah menatap tajam dirinya.


"Semua walike-talkie siswa lain udah pada di kumpul. Hanya punya Adel dan yang lainnya saja yang tidak. Jadi, kalau kita nyalaiin ini. Otomatis akan terhubung ke tempat mereka."


"Oh begitu. Terserah. Cepat lakukan!" Mika tampak tak tertarik dengan penjelasan Riski.


Riski mengangguk. Kemudian menekan tombol push-to-talk selama satu detik. Muncul suara 'beep' yang menandakan jika ia sudah boleh bicara.


.


.


.


Di sisi lain pada waktu yang sama. Fani terus berlari ketakutan. Orang-orang itu masi terus mengejarnya.


Jalan sangat gelap. Ia tak bisa lihat apa-apa. Fani hanya menerobosnya saja tanpa tau arah.


"Hosh ... hosh ... Hosh!" Nafas Fani tersenggal. Ia sangat lelah dan akhirnya memutuskan untuk berhenti sejenak.


Fani berbalik. Menoleh ke belakang. Tampaknya orang-orang itu tertinggal jauh. Ia harus sembunyi sekarang!


Ia celingak-celinguk. Mencari tempat persembunyian yang bagus. Tanpa sengaja manik mata Fani menatap semak yang cukup rimbun. Mungkin ia bisa sembunyi di sana?


Tanpa pikir panjang lagi, Fani berjalan ke arah semak itu. Mendudukkan dirinya di tanah. Bersembunyi di balik dedaunan.


"Tes! Hei, apa kalian bisa denger suara gua?"


Fani tersentak kaget saat walkie talkie yang ia pegang tiba-tiba saja berbunyi.


"Tolong dijawab. Jika kalian denger. Ganti!"


Lagi dan lagi suara keluar dari sana. Membuat Fani meneteskan air mata terharu. Ternyata masi ada harapan!


"To–tolongin gua ... hiks. gua di–dikejar. A–Adel dan Siska ... hiks, hiks, me–meraka ... dalam bahaya."


Ia menangis terisak. Ini sangat menakutkan. Fani tak tahu harus berbuat apa lagi sekarang.


.


.


.


"Ah, itu suara Fani!" teriak Raihan antusias saat mendengar gadis itu berbicara dari sana.


"Berikan benda itu ke gua! Gua mau ngomong," Lanjutnya merampas kasar alat komunikasi dari tangan Riski.


"He–hei Fan, lo ... bisa denger gua?" Raihan berbicara dengan nada cemas.


"Hiks, Raihan ... tolongin, to–tolongin gua. Hiks ... hiks! Gua takut."


Mika dan Daffa yang mendengarnya tampak gelisah. Sekilas mereka dengar, Adel dan Siska dalam bahaya. Apa maksud Fani sebenarnya?


"Fani, jangan nangis. Gua bakal jemput lo. Katakan, lo dimana sekarang?"


Hening, tak ada jawaban. Apa sambungannya terputus?


"Fan, lo bisa denger gua?"


"Bi–bisa, maaf gua gak jawab tadi. Gua takut. Di sini gelap. Hiks, gak tau ... i–ini di mana?" balas Fani berbicara pada walkie talkie yang ia pegang.


"Oke Fan, jangan nangis, oke? Tetap di sana. Jangan kemana-mana! Kita nyusul."


"Ta–tapi, gua ... hiks, gak tau ini dima—"


"Tenang aja. Pasti ketemu kok!"


"Rai ... gua bztt ... bztt."


Tiba-tiba saja suara Fani tak terdengar lagi. Sepertinya ada masalah dengan benda ini. Sambungannya terputus.


"Akh ... sial!" Raihan menjambak rambutnya frustasi.


"Apa yang harus kita lakuin sekarang?" lanjutnya bertanya pada Daffa dan Mika.


"Apalagi? Tentu saja mencari mereka!" jawab Daffa berlari ke dalam hutan tanpa pikir panjang.


Ia harus menemukan gadis-gadis itu. Bisa saja mereka dalam bahaya sekarang.


"Daffa, kita ikut!" Mika dan Raihan ikut menyusul.


Berbeda dengan kedua temannya yang pergi dengan tangan kosong. Mika tak lupa membawa senter dan alat komunikasi. Ia yakin, ini akan sangat berguna nanti.


***


"Ugh ...!" erang Siska merasakan pusing di kepalanya.


Ia buka mata perlahan. Tampak sebuah ruangan kecil berwarna putih di sekeliling. Tangan dan kakinya terikat pada kursi. Apa yang terjadi?


Siska menoleh ke samping. Dilihatnya Adel yang juga terikat sama seperti dirinya.


Gadis itu belum sadar. Wajahnya tampak pucat seperti biasa. Ada luka di bahu Adel. Siska bisa lihat itu. Darah keluar mengalir dari lengan bajunya.


"Bzzt ... Es batu, oy bangun!" Siska berbisik berniat membangunkan Adel tanpa ketahuan. Pasti ada penjaga di sekitar sini. Situasinya sangat aneh.


"...."


"Ck, bangun woy!"


"...."


Siska menelan salivanya gusar kala Adel tak kunjung bangun. Kenapa gadis ini tidak menjawab? Bibirnya tampak pucat. Apa mungkin Adel sudah ....


TBC ...


#Next?