
Jangan jadi pembaca gelap!👀😾
Ice Girls
~Happy Reading💞~
"Beri tahu aku, dimana Adel tinggal?!"
Indra menatap jengah sang ibu yang tiba-tiba saja menyelonong masuk dan bikin rusuh di kantornya.
"Kenapa kau diam saja?! Aku berhak tahu! Dia itu putriku."
"Putri?" Dahi Indra menyerngit.
"Sejak kapan Mama nganggeb Adel sebagai anak? Bukannya, Mama yang ninggalin dia? Bukankah, Mama yang misahin aku dan Adel? Itu semua Mama, 'kan?"
Rena bungkam. Dia punya alasan sendiri melakukan itu. Ia tau dia salah. Tapi, apakah dirinya benar-benar tidak bisa menemui anak itu lagi? Padahal Rena sudah menahannya selama ini.
"Hiks ... maaf, ukh ... ma–maaf."
Hanya kata-kata itu yang keluar dari mulutnya. Rena menangis terisak. Dirinya benar-benar lemah tak berdaya. Indra benar, ini semua salahnya. Jika saja waktu itu Rena tidak terbawa emosi. Mungkin dia akan tetap bersama gadis itu sekarang.
Kematian Faisal yang begitu tiba-tiba membuatnya sangat terpuruk hingga tak tahu arah. Suami yang ia cintai itu meninggal. Bagaimana bisa Rena berpikir jernih? Ia dengan membabi buta menyalahkan Adel.
Meskipun ia tahu, gadis itu tak salah. Tapi, Rena ... entah kenapa jadi membenci Adel. Ia menganggap kematian Faisal disebabkan oleh Adel. Gadis itu jadi seperti monster di kehidupannya.
Namun sekarang ia telah sadar jika pikirannya itu salah. Adel sama sekali tak bersalah. Kenapa Rena begitu bodoh?! Ia telah menorehkan luka pada putri satu-satunya.
Mendengar Adel yang terserang tumor dapat membuat hati Rena sakit. Semenderita apa gadis itu selama ini? Lagi dan lagi Rena menangis terisak.
"Hah ...! Mau Mama nangis pun sudah gak ada gunanya."
Tangan Indra merangkul sang ibu. Membawa Rena ke dalam dekapannya. Ia juga tak tega melihat wanita itu menangis begini. Sepertinya, kali ini Rena benar-benar tulus? Ya, semoga saja begitu.
"Apa yang akan Mama lakuin jika aku memberi alamat Adel? Kuharap Mama tidak menyakiti anak itu lagi. Sudah cukup dia menderita selama ini."
"Ak–aku ... a–aku hanya akan mengawasinya dari kejauhan. Aku yakin, anak itu pasti gak mau lihat wajah ibu yang selama ini membuangnya."
"Itu gak bener Ma, Adel bukan anak seperti itu. Dia gak pernah benci sama Mama."
"Apa maksudmu?"
"Tidak. Bukan apa-apa." Indra melepas pelukannya lantas kembali duduk di kursi kerjanya.
Beginilah kehidupan Indra. Ia sering lembur tiap malam. Ada saja pekerjaan yang harus ia selesaikan tepat waktu. Benar-benar melelahkan.
"Akan kuberi tahu di mana Adel sekarang. Apa dengan begitu ibu bisa tenang?"
Rena tampak antusias. Wanita itu langsung saja mengangguk menyetujui perkataan Indra.
"Sekarang Adel lagi ada kegiatan kemah di hutan. Dia pergi dan—"
"Hutan?" potong Rena menyerngit heran. Bukankah gadis itu trauma dengan hutan? Tapi kenapa ....
Ah, tidak! Daripada itu. Bukannya Indra bilang ia akan melindungi Adel? Lantas kenapa ia membiarkan gadis itu pergi?
"Kau ini bodoh, ya? Di mana otak mu Indra? Bagaimana bisa kau membiarkan adik perempuanmu pergi ke tempat berbahaya begitu?!"
"Itu karena—"
"Kau bilang kau menyayangi nya."
"Tentu saja aku sa—"
"Lantas kenapa? Padahal kamu tahu kalau adikmu itu punya trauma!"
"Aku sudah—"
"Akh ...! Adel kan lagi sakit. Bagaimana bisa?"
Rena menjambak rambutnya frustasi. Lalu berjalan mondar-mandir di depan Indra. Ia sangat panik sekarang. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada gadis itu?
"Hah ...." Indra menghela napasnya lelah. Sedari tadi Rena terus memotong ucapannya. Setidaknya berikan ia kesempatan untuk bicara!
"Ma, Adel—"
"Beritahu aku nama sekolahnya!"
Lagi dan lagi Rena memotong ucapannya. Membuat Indra mendengus kesal. Mata wanita itu tampak berbinar menunggu jawaban dari Indra.
"Gak akan pernah," tegas Indra menolak mentah-mentah. Membuat raut wajah Rena berubah jadi suram. Ditatapnya anak itu dengan tajam.
"Mau mata Mama keluar pun, aku gak bakal kasi tahu. Aku tahu rencana Mama. Kau pasti ingin mendatangi sekolahnya 'kan? Lalu bertanya dengan orang-orang di sana. Di mana letak hutan tempat anak-anak berkemah?"
"Setelah mendapat jawabannya Mama pasti langsung pergi ke perkemahan dan membuat keributan di sana. Kalau semua itu sampai terjadi, maka Adel tak akan pernah memaafkan ku!" terang Indra panjang lebar. Lalu kembali berkutat pada berkas-berkasnya. Tanpa peduli dengan Rena lagi.
"Cih!" Rena berdecih kesal kala Indra mengetahui semua maksudnya.
"Hah, yasudah kalau begitu."
"Hm."
"Pinjam ponselmu."
"Ponsel Mama, mana?"
"Batrainya habis. Lupa ngecas tadi. Mama lupa ngabarin sama klien Mama kalau Mama gak bisa meeting besok. Jadi mau pinjam ponsel kamu buat nel—"
"Pakai telpon kantor aja."
"Pelit ya, kamu? Mama cuman pinjam ponsel doang! Kamu gak ingat kalau—"
"Yaudah iya! Nih, pake!" potong Indra sembari menyodorkan ponselnya. Tak mau mendengar omelan wanita itu lebih lama lagi.
Rena tersenyum senang. Lantas menerima ponsel Indra dengan riang.
"Emm ... Mama telpon di luar aja. Takut ganggu kamu kerja."
"Terserah," jawab Indra tak tertarik. Sedari tadi dirinya masi sibuk mengurus kertas-kertas itu.
Setelah mendengar jawaban Indra. Rena akhirnya keluar dari ruang kerja lelaki itu. Ia buka layar ponsel Indra yang kebetulan tidak dikunci.
"Halo, tuan muda. Bukankah anda lembur malam ini? Kenapa anda menelpon saya? Ah! Atau ada yang bisa saya bantu?"
Terdengar suara dari seberang sana. Rena bukannya menelpon klien atau apalah itu. Semua itu hanyalah alibinya saja. Sebenarnya, wanita itu ingin menelpon Irwin—orang kepercayaan—Indra. Tapi, ia tak punya nomornya dan akhirnya memutuskan untuk meminjam ponsel Indra.
"Hm, halo Irwin."
"Benar, ini aku Mamanya Indra. Ada yang ingin ku tanyakan padamu."
"Hah? Pada saya? Memangnya hal apa yang ingin anda tanyakan? Sampai-sampai menelpon orang rendahan seperti saya ini."
"Bukan apa-apa. Tapi, apa kau bisa menjawab dengan benar?"
"Emm ... I–itu tergantung pertanyaan nyonya. Jika saya tahu jawabannya, pasti akan saya beritahu."
"Kamu pasti tahu, kok!"
"Baiklah, nyonya. Jadi, apa yang ingin anda tanyakan?"
Rena menelan salivanya gugup. Sebelum akhirnya menjawab.
"Katakan, di mana hutan tempat putriku berkemah?"
*****
Di hutan, tempat berkemahnya anak SMA Taruna Bangsa. Siswa-siswi berbaris di kegelapan malam.
Mendengarkan arahan dari para anggota osis.
"Dengerin baik-baik. Gua bakal jelesin ulang aturannya. Tapi, sebelum itu ...." Riski menggantung ucapannya. Matanya melirik kedua gadis di sampingnya.
Kedua gadis itu mengangguk paham dengan maksud Riski. Lantas mulai membagikan senter dan walkie talkie yang sudah mereka siapkan sebelumnya.
"Senter dan walkie talkie itu akan sangat berguna nanti. Jadi simpan semuanya baik-baik. Kalau ada yang bertanya, kenapa harus walkie talkie padahal ada ponsel? Kalian tau 'kan jika di sini gak ada jaringan?"
Semuanya mengangguk.
"Jadi begitulah, menggunakan walkie talkie untuk berkomunikasi di tempat begini adalah pilihan yang bagus. Jika ada yang tersesat atau bahkan dalam bahaya, kalian bisa mengatakannya lewat alat itu. Karna walkie talkie ini saling terhubung satu sama lainnya. Dengan kata lain, semua orang di sini akan mendengar suaramu di sana. Apa kalian paham?"
"Paham!"
"Baiklah, tugas kalian hanya mengikuti petunjuk jalan yang sudah kami sebarkan. Petunjuk itu akan membimbing kalian pulang ke perkemahan ini lagi nanti. Dan bukankah kami sudah memberikan kelompok kalian? Pelatihan kali ini akan dilakukan secara berkelompok. Satu kelompok terdiri atas tiga orang!"
"Untuk kelas XI IPA 1 saya yang akan jadi penanggung jawab sekaligus pembimbing nya. Untuk kelas lain akan dibimbing oleh anggota osis lainnya."
Semua orang lagi-lagi mengangguk paham dengan penjelasan yang diberi Riski.
Siska yang ada di barisan tampak antusias.
"Wah! Es batu, lo denger? Riski yang bakal jadi pengawas kita, loh."
"...."
"Emangnya kenapa kalau Riski?" Bukan Adel yang mengatakan itu. Tetapi Mika, entah sejak kapan lelaki itu ada di sana.
"Cojut? Ngapain lo di sini? Ini barisan anak cewek, woy!"
"Suka-suka gua dong. Kok malah elo yang sewot? Anak-anak lain b aja tuh."
Siska milirik ke samping. Melihat gadis-gadis yang menatap Mika malu-malu kucing. Pantas aja gak keberatan! Toh orangnya pada suka Mika.
"Cih, gua yang keberatan. Lagian lo jongkok pula! Lo mau ngintip gua hah?"
"Eh?" Mika baru sadar jika ia tengah jongkok di belakang gadis itu. Terlebih Siska memakai rok pendek. Menoleh sedikit saja maka akan ....
"Sempet lo noleh ke atas! Gua tusuk tuh mata! Mau lo?" geram Siska melihat Mika yang hendak mendongak. Untung saja ia dengan cepat mengancam dan menghentikan pergerakan lelaki itu.
Mika memejamkan matanya lantas berdiri perlahan.
"Maaf gua gak bermaksud begitu kok," katanya sambil menyengir menampilkan deretan gigi putih.
"Dasar lo cowok me—"
Perkataan Siska terpotong kala melihat orang-orang yang sudah bubar. Ternyata pengarahan nya sudah selesai.
"Oh! Udah selesai. Kalau gitu gua pergi dulu, mau gabung sama kelompok gua. Entar mereka nyariin lagi."
"Emang kelompok lo siapa?" tanya Fani dengan dahi yang mengerut menatap Mika.
"Gua? Hah ...! Ini agak menjengkelkan tapi, lo tau gak? Gua satu kelompok bareng anak cewek. Nyebelin banget!" ketus Mika tak terima dengan keputusan osis yang seenak-enaknya memilih kelompok secara acak.
"Siapa?" kini Siska yang bertanya. Gadis itu tampak tertarik dengan pembicaraan Mika.
"Bareng Lia dan Olive. Bisa-bisanya gua satu kelompok dengan dua cewe cabe itu. His, asal jangan dipeluk aja deh. Geli gua," jawab Mika bergidik ngeri membayangkannya.
"Idih ... Pede amat lo!" cibir Siska.
"Daffa?"
Mika, Siska dan Fani kompak menoleh menatap Adel yang baru saja bicara itu. Tumben sekali gadis ini mau ikut nimbrung.
"Daffa bareng Raihan dan Letta temen sebangku gua. Tenang aja, Letta orangnya gak centil kok!" jawab Mika terkekeh kecil.
"Btw, bukannya kalian satu kelompok ya? Hebat banget ya. Gak kepisah, tapi hati-hati! Karena kalian cuma cewek bertiga, gak ada cowok pula!" lanjut Mika sedikit khawatir dengan ketiga gadis itu.
"Hm."
"Tenang aja! Ada Siska kok."
"Bener, kan ada gua. Gua ini jago tahu?!"
"Yah, terserah deh. Gua pergi dulu," ujar Mika berlari kecil meninggalkan mereka.
Siska berbalik setelah melihat kepergian Mika. Ia lalu berseru kaget melihat wajah Adel.
"Darah!" heboh Siska. "Hidung lo berdarah!!" lanjutnya dengan panik.
Fani yang juga menyadari itu dengan gesit mengeluarkan tisu dari dalam tasnya.
"Nih, lap dulu." Fani memberikan tisu pada Adel yang mendongak ke atas agar darah tak mengalir lebih banyak lagi. Ia ambil tisu yang diberikan Fani, lantas membersihkan darah di hidungnya.
"Lo sakit? Perasaan dari kemaren lo mimisan mulu," ucap Fani cemas.
"Bener! Lo sakit 'kan? Tolong jangan sembunyiin apapun dari kita."
Keduanya menatap Adel khawatir. Menunggu jawaban dari gadis itu dengan raut wajah serius. Membuat Adel menelan Salivanya gusar. Apa yang harus ia katakan? Apakah Adel harus mengatakan yang sebenarnya?
TBC .....
Jangan lupa like, komen and vote....
#Next?