
Ice Girls
Happy Readingđź’ž
"Aku pulang," seru Daffa sembari berjalan masuk ke dalam rumah.
"Kak Daffa!"
Bocah lelaki itu berlari mengejarnya. Daffa merentangkan tangan, membawa Alfian ke dalam gendongannya. Ia acak rambut adiknya dengan gemas.
"Mama mana?" tanya Daffa sembari menaiki tangga yang menuju ke kamarnya.
"Ada di kamar," jawab Alfian memainkan robot-robotan yang ia pegang.
Daffa membuka pintu kamarnya dan melangkah masuk. Ia duduk kan Alfian di atas kasur. Lalu membuka seragam sekolah nya.
"Alfi juga!" seru Alfian antusias sembari menunjuk ke perut Daffa.
"Hm?"
"Alfi juga mau kaya gitu! Mau punya perut kotak-kotak kaya Kak Daffa!" lanjutnya lagi dengan mata yang berbinar.
Daffa tertawa kecil melihat tingkah adiknya. Ia baru saja selesai ganti baju. Lalu membawa Alfian kembali dalam gendongannya.
"Kamu harus rajin olahraga kalau gitu."
Ia cubit hidung Alfian dengan gemas. Membuat adiknya itu mengangguk antusias dan berkata.
"Tentu saja! Alfi bakal rajin! Biar tampan kaya Kakak."
"Hahaha."
Daffa hanya tertawa mendengarnya. Ia keluar dari kamar dan pergi menuju ke kamar orang tuanya.
Ceklek!
Ia buka pintu itu perlahan. Betapa kaget nya Daffa saat melihat ibu dan ayahnya sedang berpelukan mesra di dalam. Sontak ia tutup mata Alfian dengan cepat.
"Ingat umur Pa, kalian bukan anak muda lagi," cibir Daffa tak suka.
"Makanya cari pacar sono. Jomblo mulu dari lahir, heran deh Papa sama kamu. Muka kamu ganteng tuh, tapi kok gak ada yang mau, ya?"
Daffa berjalan masuk. Memberikan Alfian pada Linda—ibunya.
"Dia gak kaya kamu yang pecicilan mulu cari perhatian sana sini sama cewek! Daffa gak kaya gitu! Putraku ini beda." Linda menatap sinis Rio—suaminya.
"Elah, beda apanya. Sama aja tuh."
"Gak tuh, Daffa memang beda," kekeh Daffa tertawa geli melihat pertengkaran mereka.
"Kamu udah makan Daff?" tanya Linda mengalihkan pembicaraan.
Daffa menggaru tengkuknya yang tak gatal. Lalu menjawab dengan cengengesan.
"Belum, Ma. Nanti Daffa makan di luar aja."
"Hoh ... pantes! Dia mau makan sama cewek tuh! Apanya yang beda? Anak kamu juga pecicilan 'kan?!" Rio tertawa geli penuh kemenangan.
"Liat aja bajunya rapi," lanjutnya lagi menatap Daffa dari atas sampai bawah dengan teliti.
"Kak Daffa mau pergi ketemu cewek?"
Alfian, bocah berumur enam tahun itu terlihat antusias. Ia tatap Daffa dengan mata berbinar. Membuat lelaki itu merasa was-was.
"Iya, aku mau jenguk temen di rumah sakit. Boleh 'kan? Ma, Pa?"
"Temen apa demen?" goda Linda menatap Daffa penuh selidik.
"Masih temen, Ma! Apaan sih?" kesalnya.
"Dih, 'masih' ya? Ada kata kuncinya tuh."
Perkataan Rio dapat mengundang gelak tawa semuanya, termasuk Alfian. Bocah itu bertingkah seolah paham dengan maksud sang Ayah.
"Udahlah, jangan ngejekin mulu! Aku pamit pergi, ya?"
Daffa berdiri hendak meninggalkan mereka. Namun pergerakannya terhenti kala Alfian memeluk kaki nya tiba-tiba.
"Alfi ikut! Alfi mau ketemu sama Kakak cantik itu."
Daffa tercengang. Sesaat kemudian menggeleng dengan kuat. Membuat orang tuanya tertawa kekeh melihat ekspresi Daffa.
"Gak boleh! Kamu gak boleh ikut Al, tetep di sini bareng Mama dan Papa! Entar kakak beliin coklat deh," pujukmya mengelus tangan bocah itu.
"Enggak mau! Alfi mau ikut, mau ketemu sama kakak cantik itu. Pokoknya Alfi ikut!!"
Alfian terus merengek layaknya anak kecil. Ia bahkan sudah siap siaga dengan memegang erat kaki Daffa. Bersiap-siap jika kakaknya itu kabur nanti.
Daffa menatapnya jengkel. Sudah ia duga, Alfian akan bertingkah! Lantas ia menoleh meminta pertolongan pada Ayah dan Ibunya.
Rio bersiul mengalihkan pandangannya pura-pura tak melihat Daffa. Ayahnya ini benar-benar menyebalkan!
"Alfi sayang, jangan gitu nak gak boleh. Kakaknya 'kan mau jenguk temen."
Satu sudut bibir Daffa terangkat. Merasa puas dengan Linda. Hanya ibunya saja yang selalu mengerti Daffa!
"Gak mau, Alfi mau ikut. Huaa ... pokonya Alfi mau ikut, Alfi gak mau tau."
Bocah itu menangis terisak membuat Rio menutup telinga bising.
"Udahlah Daff, bawa aja! Entar nih anak gak diam-diam nangisan kamu."
"Bawa atau kamu gak usah pergi sekalian! Pilih yang mana?"
Daffa berdecak sebal. Lalu menjawab dengan pasrah.
"Iya! Aku bawa," jelasnya dengan wajah kesal.
Alfian, bocah itu langsung saja menghapus air matanya dan tersenyum riang. Membuat Daffa hanya geleng-geleng kepala. Sungguh! Adiknya ini pandai sekali dalam akting!
****
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit. Alfian tak henti-henti menghunjami Kakaknya dengan pertanyaan. Membuat Daffa memijit pelipisnya pusing.
Ia parkir kan mobil kala sudah sampai di tempat tujuan. Lantas keluar dari mobil dan membantu Alfian turun.
"Ingat ya, jangan nakal! Kalau kamu nakal, Kakak bakal sumbangin kamu ke panti asuhan!!" ancam Daffa mengingatkan Alfian dengan tegas.
Alfian mengangguk patuh. Mengikuti kata-kata sang kakak. Ini adalah yang ke sepuluh kalinya Daffa berkata begitu. Membuat Alfian merasa sangat bosan mendengarnya.
Setelah memastikan Alfian patuh padanya, Daffa membawa bocah itu dalam gendongannya. Lantas memasuki area Rumah sakit.
"Kak."
"Hm?"
"Kakak udah punya pacar?"
"Anak kecil gak berhak tau."
"Oh, jadi kakak belum punya pacar? Kasian."
"Diam bocah!"
Alfi terkekeh geli melihat amarah Daffa. Ia sangat senang menjahili pria itu.
"Daffa!"
Daffa dan Alfi menoleh, menatap orang yang baru saja memanggil namanya.
"Ah, Tante!" sapa Daffa tersenyum hangat.
Rena mengangguk ramah. Matanya melirik Alfian yang ada di gendongan Daffa dengan kagum.
"Oh, ini adik saya, Tan. Namanya Alfian. Alfi, beri salam!"
"Halo Tante."
Alfi membungkuk hormat. Membuat ia terlihat sangat menggemaskan di mata Rena.
"Astaga! Kau imut sekali, aku ingin mencubit pipimu."
Sontak Alfi menutup kedua pipinya dengan tangan. Merasa was-was dengan orang di depannya. Hal itu membuat Rena tertawa geli.
"Kamu mau jenguk Adel 'kan?"
Daffa menganguk mejawab pertanyaan Rena. Kemudian wanita itu berkata padanya.
"Oh, kalau gitu langsung aja. Adel lagi di dalam kok! Baca buku, Tante mau keluar dulu beli barang," kata Rena berlalu pergi meninggalkan Daffa.
"Hati-hati, Tante!" teriak Daffa yang hanya dianjungi jempol oleh Rena.
"Kak," panggil Alfi.
"Hm?"
"Turunin Alfi dong, Alfi mau jalan aja."
Daffa mengangguk, menurunkan bocah itu dan kemudian membuka pintu kamar rawat Adel.
Tanpa aba-aba, Alfi masuk lebih dulu. Meninggalkan Daffa yang menatapnya kaget. Ternyata itu alasan Alfi meminta padanya untuk turun.
"Dasar bocah tengik!" gerutu Daffa menyusul adiknya masuk.
Adel tersentak kaget dengan kedatangan bocah kecil yang ia kira tuyul tadinya. Ia letakkan buku yang dipegangnya di atas nakas. Lantas turun dari kasur dan berjalan mendekati Alfi.
"Boneka," ucap Adel dengan wajah datar. Ia berjongkok tepat di depan Alfian dan mencubit pipi bocah itu lembut.
"Itu adek gua."
Adel mendongak, memandang Daffa yang baru saja tiba. Dahinya berkerut seolah memikirkan sesuatu.
"Adik?"
Mata Adel menatap lekat wajah Alfian. Lalu membandingkannya dengan Daffa.
"Ada apa?" tanya Daffa bingung.
Adel diam. Sesaat kemudian ia menjawab dengan enteng.
"Dia lebih tampan daripada lo."
Jlep!
TBC ....
Mohon maaf karena lama post>< sibuk wkwk, jadi harus pinter bagi waktu.
#Next?