I Love Hot Daddy

I Love Hot Daddy
Jangan pergi



Olivia masih mencari Roxy, hingga dia begitu kelemahan mencari dan yang membuatnya kaget lagi saat Olivia mendengar jika penerbangan akan segera di lakukan.


Tiba-tiba airmatanya jatuh, Olivia melihat ke sekeliling nya di saat seperti ini kenapa rasanya seperti dia begitu takut kehilangan?.


Apa ini artinya dia masih memiliki rasa?


"Roxy, aku mohon" ucap Olivia sambil menyeka air matanya dengan tangan.


"Via" panggil Roxy tiba-tiba berada di belakang Olivia.


Deg..


Olivia berbalik dan saat dia melihat Roxy yang ada di depan nya seketika air matanya yang semula jatuh kini sudah tidak bisa di tahan lagi dan tumpah.


Tanpa mengatakan apapun Olivia memeluk Roxy, dia bahkan menangis sesegukan sambil memeluk Roxy.


"Kenapa menangis?" tanya Roxy.


"Jangan pergi" ucap Olivia.


"Why? aku akan pergi karena kita sudah selesai bukan? aku ingin memulai hidup baru ku" balas Roxy sambil melepaskan pelukan nya.


Olivia menatap Roxy dengan wajah sedihnya, dia memggeleng.


"Aku mohon, pulang lah karena kakek sangat khawatir padamu" kata Olivia memohon.


"Kakek mendukung kepergian ku, lagi pula kakek akan bahagia dengan nenek Alana jadi untuk apa aku masih di sini" jawab Roxy lagi.


Roxy melihat Olivia yang menangis, lalu tersenyum kecut.


"Kau akan menjadi janda setelah itu kejarkah impian mu, dan aku akan fokus dengan kehidupan baru ku" lanjut Roxy.


"Jangan, aku mohon tetap di sini" mohon Olivia.


"Untuk apa? aku bahkan tak memiliki mu, dan aku tidak ingin Terus-terusan memperjuangkan sesuatu yang tidak bisa di gapai Via, kau dan pilihan mu membuat aku sadar jika cinta memang tidak bisa di paksakan" jelas Roxy.


Olivia menggeleng cepat.


"Tidak seperti itu, aku__" ucap Olivia terpotong.


Dia ragu mengatakannya, Olivia terlalu malu untuk mengatakan jika dia juga mencintai Roxy.


Penolakan nya yang sebelumnya itu hanya dia lakukan karena kekecewaan nya, dan jauh dari lubuk hati nya Olivia tidak ingin Roxy pergi.


"Via aku harus segera pergi" kata Roxy berbalik.


Olivia diam saat Roxy perlahan pergi, dia nampak berperang dengan perasaan nya.


"Tidak, dia tidak bisa meninggalkan ku seperti ini, tidak bisa" gumam Olivia sambil menatap tajam Roxy.


Olivia berjalan mendekat dan langsung memeluk Roxy dari belakang.


"Aku mencintaimu, aku mohon jangan tinggalkan aku pergi" ucap Olivia dengan nada suaranya yang terdengar lirih.


Roxy tentu saja mendengar, tapi dia pura-pura tidak mendengar nya.


"Coba ulangi, disini berisik aku tidak mendengar ucapan mu" kata Roxy dengan senyuman smrik nya.


Senyuman full terlihat di wahah Roxy, tentu saja Roxy senang karena Olivia mengakui perasaan nya.


Tapi dia masih pura-pura tidak bisa bersama Olivia, hingga Roxy iseng bertanya satu hal..


"Apa ini tandanya kita tidak akan jadi berpisah?" tanya Roxy.


"Aku akan membatalkan perceraian kita, ini baru satu jam dan aku yakin surat nya belum sampai ke pengadilan" kata Olivia penuh yakin.


Sekali lagi Roxy tersenyum, pancingan nya benar-benar berhasil dimana sekarang bukan dia lagi yang mengejar Olivia, tapi Olivia sendiri yang mengejar cintanya.


Roxy berbalik dan menatap Olivia yang terlihat wajahnya seperti takut.


Tangan Roxy memegang tangan Olivia, lalu dia menatap wajah wanita yang saat ini sedang memohon untuk tak di tinggalkan.


"Aku tidak akan pergi" ucap Roxy.


"Benarkah?" tanya Olivia menatap wajah Roxy.


"Iya, aku akan memulai semaunya bersamamu seperti keinginan mu" balas Roxy lagi.


Olivia tersenyum lalu kembali memeluk Roxy, keduanya berpelukan cukup lama hingga Olivia mendengar suara yang tak asing di telinga nya.


"Roxy apa kalian sudah bersama kembali?"


"Alana aku mendengar jika cucumu mengajak kembali bersama"


"Cucu ku di jebak tentu saja dia akan terdesak mengaku"


"Itu artinya cucu mu memang mencintai cucuku, mereka saling mencintai hanya saja keduanya gengsi"


Roxy menggerutu di dalam hatinya karena mendengar perdebatan kedua lansia di sebrang telpon nya.


Olivia diam, lalu matanya menatap ke earphone yang ada di telinga Roxy.


Segera Olivia mengambil paksa earphone itu, lalu Olivia mendengarkan suara nenek nya dan Kakek Rut di sebrang telpon.


"Roxy seperti nya berhasil Alana, karena rencana kita berhasil itu tandanya kita menikah besok" kata kakek Rut.


"Rut pikiran mu menikah terus, diamlah kita belum mendengarkan obrolan Roxy dan Via lagi" balas nenek Alana.


Olivia diam dan matanya menatap ke arah Roxy, seolah kedok nya sudah di ketahuan Roxy hanya tersenyum cengegesan.


Roxy tak benar-benar akan pergi, dia hanya pura-pura pergi karena itu yang nenek Alana suruh dan Roxy hanya menurut karena dia juga ingin melihat seperti apa ekspresi Olivia.


"Kau menipuku!" Olivia menatap tajam.


"Bukan aku, ini ulah mereka aku hanya menurut saja" balas Roxy tak mau di salahkan.


"Kalian telah menjebak ku" kesal Olivia.


"Bukan menjebak lebih ke membenarkan, tapi sudahlah kita pulang saja, nenek dan kakek pasti happy karena kita bersatu kembali" balas Roxy santai.


Olivia mengerucutkan bibirnya kesal, meski dia senang karena Roxy tidak jadi pergi sekalipun Olivia harus menurunkan gengsi nya.