
Di jalan nampak Olivia yang sedang duduk di tempat mangkal gerobak bakso, seharian mencari pekerjaan membuat Olivia merasa lelah.
Olivia tak mencari kerja sebagai pembantu lagi, dia sudah trauma takut di lece*kan majikan nya.
"Hari gini susah ya pak cari kerja" ucap Olivia sambil mengipas-ngipasi wajahnya dengan map berisi lamaran kerja.
"Bener neng, susah banget apalagi cari jodoh susah banget banyak nya yang mandang fisik" balas si bapak penjual bakso cepat.
Olivia hanya manggut-manggut saja, lalu bakso pesanan nya datang.
"Berapa banyak yang neng lamar?" tanya si bapak penjual bakso.
"Banyak, nggak tau 6 atau 8 toko gitu lupa" balas Olivia lagi.
Lalu Olivia mulai meracik bakso nya, seperti biasanya Olivia meracik bakso nya dengan sambal yang melimpah pedasnya.
Di tengah teriknya matahari seperti ini makan pedas adalah jalan terbaik, apalagi di tambah minuman dingin yang akan membuat nya semakin segar.
"Di tolak semua?" tanya si bapak lagi, dia duduk di bangku panjang tepatnya di samping Olivia.
Membuat Olivia yang sedang makan bakso itu menggeleng.
"Ada yang di tolak ada yang nggak, tapi rata-rata katanya sudah tidak menerima lowongan kerja lagi, ada sih yang nerima tapi kerja nya jaga konter pulsa, gajahnya cuman 900 ribu sedangakan ongkos aja pulang pergi sudah 40 ribu, iya sih ada uang makan nya 25 ribu tapi nggak deh mending cari yang lain aja" ucap Olivia panjang kali lebar.
Lalu Olivia lanjut makan karena tidak baik mengabaikan makanan tereenak dan termurah sejagat raya.
Setelah selesai makan Olivia berniat menbayar nya, tapi si bapak penjual bakso nya malah tidak menerima uang nya.
"Kenapa pak? jum'at gratis ya?" tanya Olivia.
"Bukan neng, kalau jum'at gratis yang ada saya bangkrut neng kan nggak ada modal lagi" balas si bapak cepat.
"Terus apa?" tanya Olivia heran.
Tiba-tiba si bapak mengeluarkan ponsel nya, lalu memberikan ponsel jadul nya pada Olivia.
"Gini aja neng sebagai gantinya neng kasih no aja, biar gampang telponan kalau mau ketemu" ucap si bapak tersenyum.
Hah?
"Maksudnya?" tanya Olivia tidak paham.
Yang membuat si bapak tersenyum.
"Neng kan ngeluh susah nya cari kerja, ngelamar juga di tolak kan?" ucap si bapak penjual bakso menggantung.
"Terus?" Olivia penasaran meski dia sudah merasa tidak enak hatinya.
"Dari pada neng cape lamar kerja mending saya lamar aja, atau mau langsung di halalin juga nggak masalah neng" jelas si bapak tersenyum.
Apa!
"Yang benar aja pak, cape sih cape tapi nggak di lamar bapak juga kali" Olivia memberikan uang 50 ribu.
"Neng jangan bayar kata saya kan neng hanya perlu menuliskan no__" ucap si bapak terpotong.
"Nggak ada, ngimpi saja punya istri muda sadar pak sudah tua juga pantasnya juga udah punya cucu" balas Olivia sewot.
"Enak aja saya gini-gini juga masih perjaka neng, umur juga baru 45 tahun" balas si bapak tak kalah sewot.
Yang mana membuat Olivia geleng-geleng kepala.
"Kalau gitu cari yang peraw*n pak, saya sudah nggak peraw*n soalnya" sahut Olivia lagi, lalu karena malas berdebat dengan bapak penjual bakso Olivia pun memilih pergi.
"Neng gimana!" teriak si bapak.
"Ogah!" balas Olivia berteriak sambil naik ojek yang kebetulan ada di depan nya.
"Jalan Mas" kata Olivia takut di Kejar pria yang lebih pantas menjadi ayahnya itu.
Sesampainya di rumah Olivia langsung di sanbut oleh nenek Alana yang sedang duduk di kursi.
Nenek Alana melihat wajah lesu cucunya, dia langsung pergi mengambil minum untuk sang cucu.
"Minumlah" kata nenek Alana memberikan minum.
Lalu setelah minum Olivia langsung bersandar pada sang nenek yang kebutuhan duduk di sampingnya.
"Sudah jangan sedih mungkin belum ada yang cocok" kata nenek Alana yang seolah paham dengan raut wajah masam sang cucu.
"Ya nek, tapi capenya" Olivia menghembuskan nafasnya kasar.
"Iya nenek paham, mending sekarang kamu mandi terus makan" titah nenek Alana lagi.
Tapi Olivia hanya diam dan terlihat seperti memikirkan sesuatu.
"Apa lagi?" tanya nenek Alana.
Olivia diam lalu melirik sang nenek.
"Tadi di jalan aku mendapatkan notif m-banking dari kakek" ucap Olivia sambil melihat neneknya.
"Uang?" Tanya nenek Olivia lagi.
Olivia mengangguk cepat.
"Itu uang gaji dari Roxy selama 1 bulan" balas Olivia dengan cepat.
"Berapa?" tanya nenek Alana lagi.
"Banyak, bahkan bisa untuk membeli rumah mewah dan mobilnya" sahut Olivia lagi.
Nenek Alana diam lalu dia melihat cucunya.
"Itu adalah uang Roxy jadi sebaiknya kamu berikan saja orang itu pada pemiliknya" kata nenek Alana memberi saran.
"Nenek benar, sebelumnya aku juga berpikir seperti itu meski sekarang aku masih berstatus istrinya, tapi aku benar-benar tidak memiliki hak untuk semua uang nya apalagi Roxy selalu marah-marah padaku hanya karena uang gajinya dikirim ke rekeningku" jelas Olivia panjang kali lebar.
"Jadi bocah kampret itu selalu memarahimu karena uang? kurang ajar! cepat kirimkan uang itu pada pemiliknya, nenek tidak mau dia datang kemari untuk mengambil uang gajinya dengan Ahlak kurang nya itu" balas nenek Alana yang terlihat kesal setelah mengetahui pernikahan cucunya benar-benar sangatlah rumit.
Dan di saat keduanya sedang mengobrol tiba-tiba dari luar terdengar suara ketukan pintu, yang membuat keduanya sontak melihat ke arah pintu.
Nenek Alana langsung bangkit dari duduknya untuk membuka pintu, dan saat pintu terbuka dia kaget saat melihat Roxt yang berdiri dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya.
"Mau apa kamu ke sini?" Tanya nenek Alana sambil menatap tajam pada Roxy.
Roxy membuka kacamatanya lalu dia melihat pemandangan rumah Olivia yang menurutnya sangat memprihatinkan karena sangat kumuh.
"Kedatanganku ke sini untuk mengambil uangku, enak saja minta pisah tapi masih mau uang" ucap Roxy dengan wajah dinginnya.
Dia tidak berpura-pura lagi untuk bersikap baik pada Olivia, Roxy sudah mengetahui semuanya dari kakeknya jika Olivia pergi karena nenek Alana sudah mengetahui kebohongan mereka.
Mendengar kata uang Olivia yang duduk seketika langsung berdiri lalu dia mendekati Roxy.
"Aku sudah mentransfer semua uangmu cepat cek di ponselmu" kata Olivia tak kalah dingin.
Roxy melihat ponselnya dan benar dia mendapatkan notif m-banking sejumlah uang yang masuk ke dalam m-banking-nya.
"Pergi dari sini sebelum aku akan mengusir mu!" kata nenek Alana sambil menatap tajam pada Roxy.
Roxy memutar bola matanya malas lalu kembali memakai kacamatanya.
"Tidak usah mengusirku karena tanpa diusir pun aku akan pergi dari rumah tak layak ini" balas Roxy yang langsung pergi.
Olivia yang ucapan bersisi hinaan yang keluar dari suaminya itu langsung membuka sepatu heels-nya, lalu dia lemparkan ke arah Roxy.
Pletak!
Roxy meringis sakit karena kepalanya di lempari heels oleh Olivia.
"Pergi sana! awas jika kau kembali lagi" teriak Olivia marah.
Yang langsung di jawab oleh Roxy dengan wajah murkanya.
"Dasar gadis gila" umpat Roxy sambil masuk ke dalam mobilnya. lalu mobil Roxy keluar dari area rumah Olivia.
🌹
Jangan lupa like coment and vote ya❤🤗🙏