
"Nonton apa nek?" tanya Olivia yang melihat nenek nya yang fokus menonton.
"Itu film ikan terbang" balas nenek Alana tanpa melirik cucunya.
Olivia ikut melihat film di layar TV, lalu dia duduk karena di rasa film nya cukup menarik untuk di komentari.
Keduanya fokus menonton hingga mulut nenek Alana mulai gatal untuk berkomentar.
"Dasar lakinya hoby ngoleksi istri aja, masa iya mau punya tiga istri" ucap nenek Alana malah kesal.
"Wajah nggak seberapa tapi so mau punya istri banyak" Olivia ikut berkomentar.
Dan langsung di lirik nenek Alana.
"Bukan itu yang paling penting kalau mau istri banyak" kata nenek Alana.
"Duit kan?" balas Olivia.
Nenek Alana menggeleng.
"Yang bisa di cari bersama, tapi yang jadi masalah utama itu bisa nggak si laki-laki nya adil, mau dari uang ataupun jatah ranjang nya, ya kalau nggak bisa jangan sosoan mau punya istri banyak" ucap nenek Alana kembali melihat ke layar TV.
"Lagian yang nenek lihat dari tubuh nya yang agak buncit itu palingan juga kecil, kuatnya cuman 5 menit lagi" celetuk nenek Alana yang membuat Olivia melongo.
Kecil?
Kuat 5 menit?
"Yang besar kuat satu jam nek, nusuk nya berasa banget" batin Olivia sambil mengigit bibirnya.
Tidak, dia tidak boleh mengingat Roxy yang sebentar lagi akan menjadi mantan suaminya.
Lagi pula ia yakin jika Roxy juga tak akan memikirkan nya, jadi untuk apa Olivia kembali mengingat semua kenangan bersama pria arogan itu.
Di saat keduanya sedang fokus menonton tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
"Siapa nek?" tanya Olivia.
"Nggak tau kan belum di lihat, kamu lihat gih nenek tiba-tiba sakit perut" balas nenek Alana yang langsung memegang perutnya lalu meleos pergi ke arah dapur karena kamar mandi di rumah nya hanya ada satu.
Saat neneknya pergi Olivia mencium bau tak sedap, dia langsung menutup hidung nya karena tak tahan dengan bau nya.
"Nenek kentut ya!" teriak Olivia.
Tapi tak ada sahutan, yang membuat Olivia kesal, lalu Olivia bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu.
Ceklek..
"Kamu!" kaget Olivia melihat Roxy.
"Bau apa ini" ucap Roxy yang mencium bau tak sedap.
Ditangan nya Roxy memegang kresek berisi kue yang sengaja di pesan kakek nya untuk di bagikan pada tetangga.
"Itu kentut nenek" kata Olivia dingin.
"Ini untuk kamu dan nenek, dari aku dan kakek" Roxy memberikan kresek berisi kue.
Olivia menatap penuh selidik pada Roxy yang tiba-tiba baik memberikan kue.
"Jangan geer, aku pindah kesini lebih tepatnya kita bertetangga" lanjut Roxy seolah menegaskan jika dia memberi kue karena kepindahan nya.
"Pindah?" tanya Olivia kaget.
Tapi Roxy malah meleos pergi, membuat Olivia keluar dan melihat ke samping rumahnya.
Olivia melihat Roxy yang masuk ke rumah yang tak kalah kumuh dari rumah neneknya, dia heran kenapa Roxy mau saja tinggal di tempat seperti ini.
"Apa jangan-jangan ini memang rencana Roxy untuk mendapatkan warisan, seperti nya begitu jika iya aku tidak boleh sampai kembali luluh, dia hanya ingin memanfaatkan ku bukan benar-benar menyukai ku" gumam Olivia sambil buru-buru masuk ke dalam rumah nya.
Sedangkan di rumah tepatnya rumah di samping Olivia nampak kakek Rut yang sedang berdiri di kursi.
Roxy yang baru masuk itu kaget saat melihat kakek nya, tapi belum sempat dia bertanya apa penyebab kakek nya berdiri Roxy tiba-tiba melihat kecoa yang ada di meja.
Aaaa
"Kecoa!" teriak nya langsung naik ke kursi yang sama dengan kakeknya.
Tapi Roxy yang takut dengan kecoa tentu saja tidak mau turun dan tetap memilih berdiri di kursi kayu.
"Kakek saja yang turun, aku geli melihat kecoa" ucap Roxy sambil melihat kakeknya.
"Badan saja besar takut pada kecoa" ledek kakek Rut sambil melihat ke lantai.
Yang mana di balas dengan Roxy yang memutar bola matanya malas.
"Lalu kakek apa? kakek berani dengan kecoa?" tanya Roxy pada kakek nya.
Dan di balas dengan gelengan kepala kakek Rut.
"Kakek takut dengan kecoa" ucap kakek Rut sambil melihat ke lubang di dekat rak jadul.
"Cih, mengaku saja" sahit Roxy kesal.
Kakek Rut menunjukkan ke arah lubang,dan Roxy mengikuti arahan jari telunjuk kakeknya yang mengarahkan ke lubang yang cukup besar di dekat rak jadul kosong.
Glek!
"Itu apa?" tanya Roxy melihat ekor yang sangat hitam berbulu.
Tiba-tiba ekor itu makin keluar dan semakin keluar hingga..
Aaa!
"Tikus!" teriak keduanya kompak.
"Kakek tikus" takut Roxy.
"Ya itu tikus bukan gorila" balas kakek Rut juga takut.
Kedua nya berpelukan apalagi tikusnya mendekat ke arah mereka.
Di saat tikus itu akan sedikit lagi sampai di kaki kursi yang mereka pijak tiba-tiba pintu terbuka.
"Rut, apa maksud mu kenapa kau pidah ke sini!' teriak nenek Alana di ambang pintu.
Dan nenek Alana melihat kakek Rut yang sedang berpelukan dengan Roxy.
"Kalian berpelukan?" nenek Alana terkejut.
"Nenek tolong usir tikus itu" kata Roxy memohon.
"Alana tolong" timpal kakek Rut.
Tikus?
Nenek Alana mencari tikus yang di maksud, lalu dia tiba-tiba keluar lagi yang membuat Roxy dan kakek Rut beteriak memanggil nya.
"Nenek kau cantik" teriak Roxy.
"Hey jangan memuji Alana" kata kakek Rut sewot.
"Alana, tolong aku" teriak kakek Rut.
Dan tak lama kemudian nenek Alana datang dengan membawa tiga kucing, lalu nenek Alana membiarkan ketiga kucing itu masuk ke rumah kakek Rut.
"Turun" titah nenek Alana.
"Ada tikus!" kompak cucu dan kakek itu.
"Astaga biarkan masalah tikus di urus ketiga kucing ku, kalian tenang saja" balas nenek Alana lagi.
Roxy dan kakek Rut pun turun, dan belum sampai keduanya sampai ke pintu di mana nenek Alana berdiri tiba-tiba saja keduanya di kagetkan dengan satu kucing yang membawa tikus yang lumayan besar.
"Kerja bagus Joni" kata nenek Alana memberikan jempol nya.
Joni?
Kakek Rut dan Roxy saling berpandangan, keduanya merasa aneh dengan nama kucing milik nenek Alana.
🌹
Jangan lupa like comment and vote ya❤🙏🤗