
Olivia melihat air yang jatuh ke jalanan, di hujan yang besar ini dia hanya sendirian tanpa di temani.
"Nenek" Olivia memeluk tubuhnya.
Saat ini Olivia sedang di duduk di bangku yang ada di halte, tadi setelah dia selesai makan bakso Olivia yang berniat pulang malah tertarik untuk melihat anak-anak yang sedang bermain taman kanak-kanak.
Dan kini Olivia malah harus duduk di halte sendirian sambil menunggu hujan reda.
Jederrr!
Tiba-tiba terdengar suara petir yang sangat keras, membuat Olivia yang sangat takut dengan suara petir itu seketika berteriak..
"Nenek!" teriaknya yang memeluk erat tubuhnya sendiri.
Olivia benar-benar sangat ketakutan apalagi hujan tak kunjung reda tapi malah sebaliknya hujan semakin deras yang membuat dia kedinginan sekaligus takut akan ada suara petir susulan.
"Nenek aku takut" Isak Olivia yang mulai menangis.
Karena hujan yang begitu deras pandangan akan jalanan pun tidak terlalu jelas, membuat Olivia hanya bisa duduk tanpa bisa berbuat apa-apa.
Hingga...
Jeder!
Kembali suara petir terdengar lagi.
"Aku takut, nenek" isak Olivia menangis lagi.
"Dasar cengeng" tiba-tiba terdengar suara seorang pria yang suaranya dia kenal.
Olivia seketika melirik ke sampingnya.
"Kamu!" Olivia kaget melihat sosok yang ada di sampingnya ternyata adalah Roxy suaminya.
"Cih, ternyata gadis kampung yang sok berani dan pandai berbicara ternyata tak lebih dari si penakut" Roxy yang mengejek itu tersenyum puas.
Olivia langsung mengusap air matanya mendengar ledekan dari suaminya itu.
"Mau apa kamu ke sini?" tanya Olivia Ketus.
"Tentu saja kedatangan ku ke sini untuk menjemputmu" balas Roxy cepat.
"Aku tidak butuh dijemput, jadi pergilah" sahut Olivia sewot.
"Ya sebenarnya aku juga tidak berniat untuk menjemputmu, tapi kakek mengancamku yang membuat aku mau tak mau harus menjemputmu" Roxy berkata dengan wajah malasnya.
Dan membuat berpikir jika Roxy datang bukan karena niatnya sendiri, tapi karena ancaman dari kakek Rut.
"Pergi aku akan pulang sendiri"usir Olivia sambil membuang mukanya ke samping.
" Kau pikir aku akan membiarkanmu pulang sendiri? tentu saja tidak. dengan kamu pulang sendiri itu artinya aku akan mendapatkan masalah dari dua lansia menyebalkan itu" geram Roxy sambil mendekati Olivia.
Tanpa basa-basi Roxy langsung menggendong tubuh Olivia, dan Olivia yang di gendong tentu saja berontak dengan memukul-mukul dada Roxy.
"Lepaskan aku!" ucap Olivia yang masih dengan berontak.
Tapi Roxy tidak menghiraukan dan malah terus berjalan mendekati mobilnya, Olivia di paksa masuk ke dalam mobil tapi karena tidak mau kehujanan, Olivia pun pada akhirnya masuk ke dalam mobil Roxy pun sama dengan Roxy yang sudah masuk ke dalam mobil nya.
"Pasang sabuk pengaman" tiita Roxy Olivia melajukan mobil pun mulai melaju dengan karena hujan membuat pandangan Jalan menjadi tidak terlalu jelas kau benar-benar merepotkanku
"Seharusnya setelah makan bakso kamu langsung pulang bukannya malah pergi" gerutu Roxy.
"Tidak jelas aku seperti ini kalau sudah begini Aku juga yang repot" kata Roxy yang memarahi Olivia.
Olivia yang dimarahi tentu saja tidak terima, bukankah Roxy sendiri yang memintanya turun dari mobil tadi, jadi jika dia menghilang sekalipun itu adalah kesalahan Roxy bukan salahnya.
"Jija tidak ikhlas mencariku turunkan saja aku di sini" kata Olivia yang merajuk.
Roxy yang melihat Olivia balik kesal padanya pun sangat kesal hingga..
Jeder!
Olivia yang ketakutan langsung memeluk Roxy dengan erat, Roxy yang dipeluk oleh Olivia entah kenapa dia merasa jantungnya berdetak tidak karuan.
"Apa ini kenapa jantungku berdegup hanya karena dipeluk gadis kampungan ini" batin Roxy sambil merasakan pelukan Olivia yang semakin erat.
Di saat Roxy yang pikirannya kemana-mana tiba-tiba terdengar suara Olivia.
" Jangan geer, aku memelukmu karena aku takut dengan suara petir" bisik Olivia di telinga Roxy.
"Siapa yang geer" tanya Rocky sewot.
"Tentu saja kamu" balas Olivia cepat.
"Sama sekali tidak, asal kamu tahu kamu bukan tipeku tegas Roxy" sambil mendorong Olivia yang memeluknya itu.
Olivia yang di dorong pun akhirnya mau tak mau melepaskan pelukannya, dengan wajah geram nya dia menatap suaminya itu dengan rasa kesal.
"Dasar suami laknut, giliran jatuh saja gak mau kurang, awas ya kalau minta jatah" gerutu Olivia sambil menatap tajam pada Roxy.
Sedangkan Roxy dia lanjut mengemudikan mobilnya selama di perjalanan, Roxy sempat merasakan getaran getaran Aneh tapi dia mencoba untuk tidak menggubris perasaan anehnya terhadap Olivia.
Sedangkan untuk Olivia dia nampak kedinginan karena tadi Olivia sempat kehujanan, hingga akhirnya mobil pun sampai di halaman rumah kakek Rut.
Roxy dan Olivia pun langsung masuk ke dalam rumah, Olivia langsung dipeluk nenek Alana yang cemas pada cucunya karena dia tahu jika Olivia sangat takut dengan suara petir.
"Kamu tidak apa Sayang" Tanya nenek Alana.
"Aku baik-baik saja, di saat suara petir terdengar aku langsung memeluk Roxy, tubuh nya membuat aku nyaman" jelas Olivia sambil melirik suaminya.
Dan Roxy yang di lirik hanya memutar bola matanya malas.
"Syukur lah, nenek senang jika sekarang ada yang menggantikan nenek untuk memeluk kamu di saat suara petir yang membuatmu merasa takut, terima kasih nak Roxy" lanjut Nenek Alana sambil tersenyum pada Roxy.
"Sama-sama nek, Olivia adalah istriku jadi sudah seharus nya aku bisa menjadi pelindung nya di saat dia takut" balas Roxy.
"Via beruntung memiliki kamu nak Roxy" lanjut nenek Alana lagi.
"Tentu saja, Roxy keturunan ku jadi dia hebat" timpal kakek Rut.
Roxy yang mendengar suara kakek nya memilih pergi ke kamar nya, dan langsung diikuti oleh Olivia yang juga langsung pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya yang basah.
Grepp!
Saat sampai ke dalam kamar tiba-tiba Roxy memeluk tubuh Olivia, tak hanya itu suaminya itu juga mencium lehernya dengan sangat panas.
"Ini kenapa ya? jangan bilang kamu mau ___" ucap Olivia terpotong.
"Iya aku mau, apalagi suasana hujan yang deras ditambah hawa dingin seperti ini membuat aku ingin membuat kehangatan bersamamu" jawab Roxy sambil tersenyum penuh gairah.
Glekk!
Olivia menelan ludahnya kasar, apalagi saat ini tangan Roxy mulai tidak kondusif dan perlahan bergerak liar ke beberapa titik yang sangat sensitif untuk Olivia.
Tak bisa menolak dengan tawaran yang juga disukainya Olivia pun mau tak mau hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan suaminya itu.
"Kamu suka aku?" tanya Olivia saat Roxy mulai merebahkan tubuhnya ke ranjang.
"Apa itu penting?" tanya balik Roxy sambil membuka kancing kemejanya.
"Sangat penting. karena aku tidak mau mengandung anak dari pria yang tidak mencintaiku" balas Olivia lagi.
"Oke" singkat padat dan jelas Roxy menjawab dengan tiga huruf saja.
Dan jawaban ambigu itu sukses membuat Olivia kebingungan akan apa yang Roxy inginkan dari hubungan mereka yang tidak jelas.
🌹
Jangan lupa like coment and vote ya❤🙏🤗