
Selesai masak Roxy di ajak makan bersama oleh nenek Alana, mereka pun makan bersama dengan suasana baru.
Bagaimana tidak mereka makan dengan duduk lantai, dan ini adalah sesuatu baru yang belum pernah Roxy rasakan.
"Nambah lagi" nenek Alana memberikan lauk pauk ke piring Roxy.
"Aku sudah keny__" ucap Roxy terpotong.
"Nggak mau nggak papa, buat aku aja" timpal Olivia yang langsung mengambil alih lauk pauk di piring Roxy.
Melihat semuanya ddi ambil oleh Olivia jelas Roxy tidak terima.
"Hey itu lauk ku!" Roxy mengambil kembali lauk pauk nya yang sebelumnya sudah ada di piring nya.
"Katanya kenyang" ketus Olivia manyun.
"Sudah jangan berebut makanan masih banyak makanan nya, kalau mau nambah tinggal ambil saja" kata nenek Alana menimpali.
Tapi Roxy dan Olivia malah fokus makanan, lalu keduanya saling melirik, tapi belum lama Olivia sudah menbuang wajahnya ke samping.
"Apa lihat-lihat" ketus Roxy.
"Cih, kepedean. siapa juga yang lihat situ" sewot Olivia dengan wajah malas nya.
Kakek Rut yang melihat kelakuan cucu-cucunya hanya geleng-geleng kepala.
Usia hanya angka dan tidak bisa membuat seseorang bisa terlihat seperti dewasa, apalagi sikap.
Setelah selesai makan kakek Rut meminta Roxy untuk membantu Olivia yang Sedang membereskan piring-piring bekas mereka makan tadi.
Semula Roxy menolak tapi pada akhirnya dia pun membantu Olivia yang membawa piring-piring kotor ke kamar mandi.
"Mau kemana" tanya Olivia saat Roxy akan pergi.
"Tentu saja pulang" Balas Roxy santai.
Dan mendengar itu Olivia langsung tersenyum aneh lalu tangannya menunjuk ke arah piring-piring kotor dan beberapa perabotan dapur yang juga kotor karena bekas memasak tadi.
Roxy melihat ke arah alat masak dan piring-piring kotor itu, lalu melirik Olivia yang di sampingnya.
"Kamu paham kan apa yang aku maksud" ucap Olivia sambil tersenyum.
"Enak saja! seumur hidup aku tidak pernah melakukan hal itu jangan coba-coba merendahkan Harga Diriku!" kata Roxy dengan tatapan wajah tajamnya.
"Harga diri? berapa? jadi harga diri bisa di beli?" tanya Olivia yang malah mengejek.
Dan mendengar ejekan itu Roxy tentu saja murka dia berniat mengeluarkan kata-kata mutiaranya, tapi belum sempat dia mengeluarkan suaranya tiba-tiba kakek Rut datang.
"Kamu bantu Via untuk mencuci piring, kakek akan membantu nenek Alana membereskan rumah" kata kakek Rut memberikan gelas kotor, lalu pergi lagi.
Hufh..
"Aku yang membilas dengan air dan kamu yang membasuh dengan busa" ucap Olivia masuk ke dalam kamar mandinya.
Roxy melihat spon yang bahkan belum pernah dia pegang seumur hidupnya, matanya melihat spon itu dengan tatapan tak percaya.
"Tunggu apalagi cepat di kerjakan" titah Olivia.
Dengan gerakan pelan Roxy pun akhirnya satu persatu membasuh piring kotor dengan busa, dia melakukan semuanya pada semua piring tanpa terkecuali dengan piring yang memiliki sisa makanan nya.
Olivia melihat itu, sebenarnya dia kasihan dan tidak enak menyuruh Roxy membantunya, tapi dia harus melakukan nya karena Olivia ingin Roxy bisa melakukan hal yang tidak pernah dia rasakan.
"Ternyata jika dia dalam mode diam dan penurut seperti ini manis juga, ganteng lagi" batin Olivia dalam hatinya yang melihat Roxy.
Setelah selesai Roxy pergi ke ruang depan dia melihat nenek Alana dan kakek Rut yang sedang duduk sambil mengobrol.
"Lebih baik nenek dan kakek menikah saja, aku rasa kalian lebih cocok menjadi suami istri bukan besan" celetuk Roxy yang membuat kedua nya kaget.
"Ya itu memang akan terjadi, iyakan Alana" balas kakek Rut cepat.
"Iya, kita akan menikah karena hidup sendiri itu jomblo" balas nenek Alana menngangguki.
Yang mana membuat Roxy kaget karena dia pikir cinta kakek nya akan bertepuk sebelah tangan.
"Kakek pakai pelet apa?" tanya Roxy random.
Hah?
"Kau memakai pelet, Rut?" tanya nenek Alana.
Kakek Rut menggeleng dengan cepat.
"Bukan pelet, tapi lebih ke usaha yang membuahkan hasil" balas kakek Rut tersenyum.
"Lagi pula meski aku tua wajahku lumayan tampan, dan aku juga tidak terlalu tua untuk menikah kembali" lanjut kakek Rut lagi.
Roxy mendengar itu memutar bola matanya malas, lalu di saat mereka sedang mengobrol tiba-tiba Jerry datang.
"Kau!" Jerry yang melihat Roxy nampak murka.
Dia langsung emosi dan langsung memberikan bogemnya tepat di bagian perut Roxy.
Bugk!
"Aww!" ringis Roxy.
"Jerry apa yang kamu lakukan!" nenek Alana kaget dengan apa yang di lakukan cucunya.
"Ini hukuman yang pantas untuk pria seperti dia nek, dia harus tau jika dia tak bisa seenaknya mempermainkan adik ku" kata Jerry marah.
Adik?
Roxy di sela sakitnya bingung dengan kata adik yang keluar dari mulut Jerry.
Jerry berniat memukul lagi, tapi kali ini berhasil Roxy hindari.
"Kau siapa! kau tidak seharusnya ikut campur ke dalam masalahku" ucap Roxy dengan tatapan tajam nya.
"Kau tanya aku siapa? aku adalah kakak dari wanita yang kau permainkan, dan aku tidak akan membiarkan kau bisa bernafas lega setelah menyakiti adik ku!" jawab Jerry dengan wajah dingin nya.
Jadi dia kakaknya Olivia?
Entah kenapa Roxy merasa lega setelah mengetahui jika Jerry adalah kakak Olivia, bukan kekasih dari Olivia.
"Rut bawa cucu mu pergi" titah nenek Alana.
Kakek Rut mengangguk, lalu dia menarik Roxy untuk pergi.
"Aku belum selesai memberikan pelajaran pada dia nenek" Jerry tak setuju.
"Sudahlah, biarkan mereka pergi. kamu masuk sebentar lagi tamu kita akan datang" ucap nenek Alana menarik tangan Jerry masuk ke dalam rumah.
🌹
Jangan lupa like coment and vote ya❤🤗🙏