
Dengan bringas seperti kemarin Roxy menggempur Olivia, lain di mulut lain di hati mungkin pepatah itu yang pantas untuk Roxy yang malu-malu singa.
Wajah Roxy juga tidak bisa bohong jika dia menikmati permainan ranjang bersama Olivia.
"Ememhhh" Olivia terus meleguh selama permainan mereka.
Roxy benar-benar tidak membiarkan Olivia sedikit pun bisa bernafas lega bahkan untuk pelepasan pertama dan kedua kalinya pun Roxy malah mempercepat permainan nya higga Olivia bisa merasakan pelepasan yang begitu dahsyat.
Tangan Olivia semula mencekal kuat-kuat sprei, tapi karena ritme yang kuat di lakukan Roxy membuat Olivia akhirnya memeluk tubuh Roxy.
Awww!
"Kuku mu menyakiti punggung ku" kata Roxy meringis sakit.
Olivia yang berkuku panjang membuat punggung nya luka karena goresan yang di sebabkan kuku Olivia.
"Salah sendiri main nya kasar, pelan-pelan kan bisa" sahut Olivia tak mau di salahkan.
Tapi bukan nya membuat Roxy memperlambat ritme permainan mereka, yang ada malah Roxy semakin menjadi-jadi dan tangannya tak kalah gerak cepat memainkan tubuh Olivia.
Permainan terus berlanjut, hingga akhirnya Olivia merasa kembali pelepaaan nya tapi dua kali lebih dahsyat rasanya karena bersamaan dengan pelepasan pertama Roxy.
Uhhh..
Keduanya bersamaan orgasme yang sangat dahsyat.
Roxy menggulingkan tubuhnya ke samping Olivia, lalu tanpa ada obrolan ataupun perdebatan keduanya langsung terlelap ke dalam tidur nya.
Pagi harinya...
Olivia bangun dengan tubuh lemas nya, semalaman di gempor hampir dua jam membuat tubuhnya sangat terlihat lelah bahkan langkahnya sangat pelan sekali.
"Pengantin baru rambutnya basah ya" goda Bibi Lin saat Olivia ke dapur.
"Bibi bisa aja, kaya nggak pernah muda aja" balas Olivia tertawa.
"Pernah, tapi nggak sama bule Via, Ehk non Via" jelas bibi membuat senyuman Olivia luntur.
"Panggil Via aja bi, aku masih Via yang sama kok" ucap Olivia lagi.
Bibi Lin mengangguk sembari tersenyum.
"Bule hot nggak?" tanya bibi Lin kepo.
Karena setahu nya yang mendengar dari obrolan orang-orang di sekitar nya, para bule memiliki pentungan yang lebih besar dari lokal.
Dan bibi Lin percaya saja, tapi dia butuh membenarkan lagi pada Olivia yang suaminya adalah bule.
"Besar nggak?" lanjut bibi Lin random.
"Bibi nanya nya gituan aja, nanti bibi kepingin gimana?" ucap Olivia tertawa.
"Ya kalau mau berabe, mana suami jauh lagi jadi TKW lagi" sahut bibi Lin lagi.
"Ya udah jangan di bahas nanti bibi malah cari pelampiasan kan nggak bener, dah ya bi aku mau buatin bubur buat nenek dulu" kata Olivia memilih menyudahi obrolan nya karena jika berlanjut makan obrolan nya akan terus melebar kemana-mana.
Lalu Olivia lanjut membuatkan bubur untuk nenek Alana dan kakek Rut.
****
Di halaman depan nampak nenek Alana dan kakek Rut yang sedang duduk sambil melihat bibi Lin yang menyirami bunga.
"Alana" panggil kakek Rut.
"Kenapa?" tanya nenek Alana melirik.
Kakek Rut diam, dia sedikit ragu untuk bertanya.
Tapi jika terus di pendam dia akan penasaran dengan kehidupan nenek Alana.
"Kau mau bertanya kenapa aku jadi miskin?" tebak nenek Alana mendahului.
"Maaf, tapi aku hanya aneh saat melihat mu yang sekarang, bukan kah kau dulu kaya raya bahkan ayah mu memiliki perushaan dan salah satu donatur tetap di sekolah kita, lantas kemana semua itu?" tanya kakek Rut.
Nenek Alana menghembuskan nafasnya kasar, dia terlihat begitu berat untuk menceritakan pengalaman hidup nya yang menurutnya penuh drama itu.
"Seperti di film-film pada umum nya harta ayah ku di ambil ibu tiriku lebih tepatnya istri muda ayah ku, dan tak hanya itu suamiku juga mengkhianati ku dengan berpacaran dengan ibu tiriku" Nenek Alana menjeda ucapan nya.
"Roda berputar kadang di atas kadang di bawah tapi itu bukan menceritakan masalah ranjang, kisah hidup ku sangat penuh drama dan aku banyak di khianati selama hidup" jelas nenek Alana lagi.
"Kau di khianati oleh __" ucap Kakek Rut terpotong.
"Ya, Darwin. dia salah satu orang kepercayaan ayah saat itu, usia nya beda 10 tahun dengan ku" kata nenek Alana lagi.
Kakek Rut mengangguk, dia mengenal Darwin karena saat berpacaran dengan Nenek Alana mereka pernah di ikuti Darwin.
Dan setalah itu keduanya diam, nenek Alana teringat kembali akan pengkhianatan mantan suami dan ibu tirinya yang kejam itu.
"Via cucu Darwin?" tanya kakek Rut.
"Bukan, dia bahkan juga bukan cucu ku. Via dan kakak nya adalah cucu dari almarhum suamiku, sedangkan aku wanita yang tidak sempurna, aku mand*l" jelas nenek Alana.
"Jangan sedih, bagiku kamu adalah wanita hebat Alana" ucap kakek Rut lagi.
Membuat nenek Alana melihat kearah kakek Rut dengan senyuman nya.
"Aku tak pernah sedih, aku punya dua cucu dan mereka sangat menyayangi ku" kata nenek Alana memuji kedua cucunya.
"Hem, aku juga punya dua cucu, dan mereka sangat nakal bahkan mengataiku kakek tua" sahut kakek Rut.
Keduanya terus bercerita akan kehidupan nya masing-masing hingga Olivia datang dan mengajak keduanya sarapan.
"Suami mu sudah bangun?" tanya nenek Alana.
"Belum nek, mungkin sebentar lagi" jawab Olivia.
"Anak itu memang susah sekali di bangunkan, bahkan dia berjanji akan bekerja tapi sampai sekarang masih belum ada kejelasan nya" ucap kakek Rut kesal.
"Jadi cucu mantuku tidak bekerja?" tanya nenek Alana.
"Ya, dia pengangguran" balas kakek Rut.
Nenek Alana melihat ke arah Olivia, dan Olivia hanya tersenyum.
"Aku akan merubahnya nenek, tenang saja jika dia tidak mau bekerja maka tidak ada jatah di ranjang" jelas Olivia yang langsung mendapatkan jempol dari nenek Alana.
Sedangkan kakek Rut dia hanya tersenyum, dia harap Olivia benar-benar bisa merubah sifat malas cucunya yang sudah mendarah daging itu.
🌹
Jangan lupa like coment and vote ya❤🤗🙏