
Sepanjang perjalanan pulang Roxy nampak menggerutu, dia datang sebenarnya bukan karena uang gajih nya tapi dia ingin mengajak Olivia pulang.
Gengsi yang tinggi membuat Roxy malu mengatakan nya, terbiasa arogan membuat dia tidak bisa menurunkan sedikit harga dirinya untuk meminta maaf.
"Bawa pulang Olivia, jika tidak jangan harap kakek akan memberikan mu warisan!"
Kata-kata ancaman kakek Rut terus mengiang, membuat Roxy kesal di buatnya.
"Dia yang tidak mau pulang kenapa aku harus pusing, itu pilihan nya" ucap Roxy menggerutu.
Tapi entah kenapa setelah Olivia pergi Roxy banyak kehilangan, seperti tadi siang paginya hening tanpa ocehan Olivia yang membangunkan nya.
Tidak ada berebut kamar mandi lagi, tidak ada baju yang di siapkan dan tidak ada jatah di malam hari.
Hufh..
"Aku bisa gila kalau terus memikirkan nya, bodo amat dia mau melakukan apapun aku tidak perduli" kata Roxy yang lain di mulut lain di hati.
Lalu Roxy pun tak jadi mengendarai mobilnya ke arah rumah, dia memilih putar balik ke arah apartemen teman nya.
Tak lama kemudian Roxy sampai di gedung apartemen Billy.
Tapi sialnya setelah beberapa kali Roxy memencet bel Billy tak kunjung membukakan pintunya.
"Halo, buka pintu nya!" kata Roxy setengah marah.
"Pintu? apa?" tanya Billy.
"Pintu apartemen mu, aku sudah di luar menunggu" jelas Roxy.
"Aku sedang ada perjalanan bisnis ke luar luar kota, jika kau mau masuk masuklah pasword nya masih sama" sahut Billy cepat.
Apa!
"Kenapa kau tidak bilang kalau kau ada perjalanan bisnis" Roxy nampak kesal.
"What, kau tidak bertanya padaku sebelumnya dan a___"
Tut!
Tidak menunggu Billy menjelaskan Roxy memilih langsung mematikan panggilan nya sepihak.
"Sial" umpat Roxy semakin kesal.
"Kalau seperti ini tidak ada alasan untuk ku tidak pulang, pasti kakek tua itu akan memberikan ku ceramah panjang kali lebarnya" gerutu Roxy yang mau tidak mau akhirnya memilih pulang.
Sesampainya di rumah sang kakek Roxy langsung turun dari mobil nya.
Dengan langkah malas dia masuk ke dalam rumah, dan saat Roxy akan naik tangga tiba-tiba terdengar suara..
"Mana Via?" tanya Kakek Rut.
Membuat Roxy menghentikan langkahnya dan melirik ke sumber suara.
"Kakek tau jika tak mau pulang" kata Roxy berniat berjalan kembali.
"Dan kau tidak mengatakan apa-apa padanya?" tanya Kakek Rut.
"Untuk apa?" tanya Roxy tak jadi berjalan.
"Cucu bodoh, tentu saja untuk kelangsungan rumah tangga kalian" balas kakek Rut sewot.
Dan di balas dengan wajah kecut Roxy.
"Dia menolak pulang, lagi pula untuk apa mengemis satu wanita yang tidak penting di saat masih banyak wanita di luar sana" sahut Roxy santai.
"Ya banyak, tapi rata-rata dari mereka tak akan sebaik Via, dia yang terbaik untuk mu" ucap kakek Rut membela Olivia.
Roxy memutar bola matanya malas, kakek nya membela Olivia sudah seperti cucu nya sendiri.
"Ya kakek bilang begitu karena kakek ada udang di balik gajah, kakek hanya mau membuat nenek Alana kembali pada kakek karena itukan" Roxy membalas dengan wajah kesalnya.
"Terserah, lebih baik Olivia bercerai dari mu lagi pula dia tak pantas bersanding dengan gelandangan seperti mu, sudah di usir oleh orang tua tinggal di sini juga ngelunjak nggak pernah berubah selalu sesuka nya untuk bersikap, entah ngidam apa Mommy mu sampai memiliki anak yang sangat keras kepala seperti mu" marah kakek Rut, yang langsung pergi.
Roxy juga pergi ke kamar nya, di kamar Roxy yang emosi dengan kata-kata sang kakek yang tak seolah merendahkan nya itu nampak terlihat marah.
Prenk!
"Kakek lebih sayang dia di bandingkan aku yang cucunya, menyebalkan!" umpat Roxy marah.
Dan semua kemarahan nya itu dia tujukan pada Olivia karena menurut Roxy Olivia lah yang bersalah atas semua kesialan di dalam hidup nya.
****
Seminggu berlalu..
Roxy yang baru bangun tidur terbangun karena suara ketukan pintu.
"Ada apa?" tanya Roxy marah karena tidurnya di ganggu.
"Maaf tuan, di bawah ada nyonya Olivia bersama nenek Alana" jelas bibi Lin.
Apa.
"Mau apa dia kesini?" tanya Roxy.
"Saya tidak tau tuan" balas bibi Lin lagi
Lalu Roxy memilih mencuci wajahnya setelah itu dia turun ke bawah untuk menemui Olivia.
Dan sesampainya di ruang tamu Roxy langsung duduk, dia kaget melihat sosok yang duduk bersama Olivia.
"Kau, security di kantor kan" Roxy mengenali Jerry.
Jerry dengan mengangguk.
"Kedatangan aku ke sini untuk memberikan surat ini, nenek dan kak Jerry jadi saksi jika aku meminta bercerai" kata Olivia dengan wajah tenang nya.
"Pikirkan baik-baik, pernikahan kalian masih seumur jagung" Kakek Rut memberi saran.
"Lebih baik berpisah dari sekarang, Rut kau jangan ikut campur ini keputusan cucuku, lagipula akh tidak ikhlas jika cucuku menikah dengan suami yang hanya mementingkan kebutuhan hasrat nya saja, kau pikir cucuku wanita murah*n yang di lirik hanya saat ingin di puaskan?" Nenek Alana menjawab dengan lantang.
Roxy masih melihat Jerry, dia berpikir jika Jerry mungkin adalah penggantinya alias kekasih Olivia.
"Alana cucuku akan berubah, berikan dia kesempatan" kata Kakek Rut memohon.
"Kakek jangan mengemis, jika dia mau berpisah maka ikutilah kemauan nya" ucap Roxy sambil menatap tajam pada Jerry.
Jerry yang mendengar itu rasanya tangan nya gatal, dia sangat ingin sekali meninju wajah tampan bos nya itu.
Bugk!
Satu pukulan mendarat di pipi Roxy, yang jelas itu adalah tinjuan khusus yang Jerry berikan untuk Adik ipar nya.
"Jangan sesekali kau memperlihatkan wajah mu di depan Via atau aku akan tak akan segan-segan kembali menghajar mu!" kata Jerry tegas.
"Dasar security tidak tau diri, kau akan aku pecat!" kesal Roxy sambil meringis.
"Tidak masalah lagi pula aku memang sudah memiliki pekerjaan baru, Via nenek ayo pulang" ajak Jerry pada nenek dan adiknya.
Sebelum pulang Olivia melirik Roxy yang nampak kesakitan, lalu dia pun di tarik oleh Jerry yang marah pada Roxy.
Kakek Rut melihat sedih kepergian nenek Alana, lalu di liriknya Roxy yang nampak sedang meringis sakit.
"Kakek bilang pada bibi Lin untuk membawakan kompres" kata Roxy yang kesakitan.
Dan langsung dijawab ketus oleh kakek Rut.
"Rasakan, itu balasan orang keras kepala seperti mu" balas kakek Rut yang malah pergi tanpa menghiraukan Roxy yang masih kesakitan.
Sedangkan Olivia yang baru masuk ke dalam taksi wajahnya nampak terlihat murung.
"Lupakan dia" kata Jerry tegas.
"Iya kak" balas Olivia tak mau berdebat.
Jerry menghembuskan nafasnya, lebih baik adiknya menjadi janda dari pada dia membiarkan sang adik hidup bersama pria arogan seperti Roxy.
Ya mungkin dia barndalan bahkan hoby judi sebelumnya, tapi dia tak akan pernah rela jika adik perempuan satu-satunya itu di jadikan wanita tidak ada harga nya oleh keluarga kaya.
🌹
Jangan lupa like coment and vote ya❤🤗🙏