I Love Hot Daddy

I Love Hot Daddy
Bandara



Hari dimana media kedua akhirnya datang, nampak Olivia yang sudah mandi dan sedang memilih baju nya.


Olivia nampak memilih dress yang membuat nya terlihat lebih anggun, dress itu adalah dress yang semalam di berikan oleh sang kakak untuk nya.


Setelah berpakaian tak lupa Olivia memakai riasan sederhana di wajahnya, membuat wajahnya nampak terlihat begitu cantik tapi tetap tidak berlebihan.


Tok..tok..


"Masuk" kata Olivia.


Ceklek..


Jerry masuk ke dalam kamar sang adik, kedatangan nya kesini untuk melihat sang adik.


"Ada apa kak?" tanya Olivia menatap sang kakak.


"Kamu cantik" ucap Jerry duduk di tepi ranjang.


Matanya melihat adiknya yang terlihat cantik dengan dress murah yang dia beli di toko pinggiran jalan.


Olivia mengerutkan keningnya, jelas dia melihat gelagat aneh dari sang kakak.


"Apa kakak ingin bicara sesuatu?" tanya Olivia lagi.


"Ya, kamu memang selalu bisa menebak apa pikiran kakak. kakak kesini untuk bertanya sesuatu padamu" jelas Jerry.


"Apa?" tanya Olivia cepat.


Jerry nampak diam, lalu melihat ke arah sang adik lagi.


"Kamu yakin akan berpisah dengan Roxy?" tanya Jerry tiba-tiba.


"Kakak mendukung nya?" tanya balik Olivia.


Sejauh ini yang dia tau Jerry tak menyukai Roxy, tapi kenapa di saat detik terakhir kakak nya malah bertanya?.


"Jawab saja, kakak sedang bertanya pada adik kakak" kata Jerry lagi.


"Apapun keputusan ku itu adalah keputusan ku, kakak tau kan apa yang aku alami sebelumnya. aku yakin dengan keputusan ku kak, dia bukan pria tepat untuk aku" ucap Olivia dengan mata yang melihat ke arah lain.


"Kau yakin Via?" tanya Jerry memastikan.


Olivia hanya mengangguk kecil, dan tidak mengatakan apa-apa lagi.


Membuat Jerry yang melihat itu menghembuskan nafasnya panjang, lalu beranjak dari duduknya.


"Jangan terlalu membenci, meski kakak tidak menyukai nya tapi sejauh ini kakak sedikit takjub dengan apa yang dia lakukan untuk mengambil perhatian mu, sekali lagi pikirkan apa yang kamu mau karena keputusan ada padamu" jelas Jerry lagi.


Jerry sudah melihat perjuangan Roxy selama ini, bahkan untuk kemarin malam dia mengikuti sang adik ke pasar malam karena dia ingin melihat seperti apa sikap Roxy pada adiknya.


Dan dia banyak melihat kebahagiaan di sana, senyuman dan adiknya juga terlihat happy bersama Roxy, hingga setelah sampai di depan rumah Jerry mendengar ajakan untuk rujuk dari Roxy tapi tak di hiraukan sang adik.


"Kakak tau seperti apa yang aku mau" ucap Olivia sambil melihat sang kakak.


"Oke, kakak tidak akan memaksa mu Via, apapun keputusan mu itu adalah yang terbaik maka dari itu ikuti lah kata hatimu karena hatimu tak akan bisa berbohong" kata Jerry, lalu setelah itu keluarga dari ruangan Olivia.


Kata hati?


Olivia tak ingin memikirkan sejauh itu, dia takut terluka untuk yang kesekian kalinya.


****


Di pengadilan nampak Olivia yang bertemu dengan Roxy, tapi bedanya keduanya saling diam dengan seorang hakim yang menjadi mediator untuk keduanya.


Hampir setengah jam waktu terus berjalan, hingga akhir nya proses mediasi itu selesai dengan hasil akhir untuk tetap bercerai.


Olivia dan Roxy sama sekali tak saling menyapa, hingga akhirnya keduanya sampai di parkiran dan Roxy nampak langsung pergi dengan mobil mewah nya tanpa berniat mengajak Olivia.


Melihat itu Olivia hanya diam, dan dia menunggu taksi di pinggir jalan.


Derett.


"Halo"


"Ada apa nek?" tanya Olivia.


"Rut, tua bangka itu sekarat" kata nenek Alana kejam.


Bagaimana tidak dia memanggil calon suaminya dengan panggilan tua bangka.


"Hah? bagaimana bisa?" tanya Olivia kaget.


Lalu nenek Alana menjelaskan jika semuanya di mulai dari Roxy yang akan pergi ke luar negri, dan Roxy tak akan pernah kembali setelah pulang dari pengadilan.


Olivia sontak kaget, dia tidak menyangka jika Roxy akan benar-benar pergi jauh darinya, dan entah kenapa hatinya merasa tidak rela.


"Apa ini kenapa aku mau menangi" batin Olivia heran.


"Via, nenek mohon cepat bujuk Roxy pulang. nenek tidak mau Rut mati cepat, kita belum liburan masa tua" kata nenek Alana lagi.


Membuat Olivia seketika tersadar dan langsung menghentikan taksi, dan entah kebetulan atau apa taksi itu adalah taksi yang kemarin mengantarkan nya ke perusahaan Roxy.


"Jalan pak" kata Olivia.


"Kemana neng?" tanya pak supir.


"Nenek kemana perginya Roxy?" Olivia malah bertanya pada sang nenek.


Lalu nenek Alana pun mengarahkan Olivia pergi ke bandara, setelah itu panggilan nya pun di matikan sepihak oleh nenek Alana.


"Astaga kakek" gumam Olivia khawatir keadaan kakek Rut.


"Pak cepat, kakek saya mau mati" kata Olivia sedikit berteriak.


" Iya neng, tapi kemana?" tanya pak supir yang sedari tadi hanya jalan lurus.


"Bandara pak" jawab Olivia cepat.


Hah?


"Kakek neng mati di bandara?" tanya pak supir.


Yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Olivia.


"Cepat pak" kata Olivia dengan wajah kesalnya karena pak supirnya banyak tanya.


Pak supir yang melihat wajah kesal Olivia nampak takut, nyalinya menciut saat itu juga dan dia merasa beruntung karena kemarin dia di terima oleh janda bahenol penjual jamu langganan nya, jadi dia tak akan tertarik pada Olivia yang ternyata galak.


Tak lama kemudian mobil sampai, Olivia langsung turun tanpa membayar terlebih dahulu.


Olivia berlari mencari Roxy, tapi dia yang melihat banyak orang tentu sadar jika sulit untuk menemukan satu orang di saat banyak nya pengunjung bandara.


"Astaga aku lupa kalau dia pasti belum sampai lama, ponselnya dia pasti bermain ponsel dulu" ucap Olivia yang langsung menelpon Roxy.


Olivia mencoba menelpon Roxy tapi nihil Roxy tidak menjawab telpon nya yang membuat Olivia kesal.


Karena tak bisa menelpon Roxy Olivia pun langsung pergi tempat menunggu, dia melihat sekeliling nya nampak seperti mencari wajah Roxy diantara banyak wajah yang dia lihat.


Hingga..


"Roxy" panggil Olivia.


Sosok yang di panggil melirik tapi dia bukan Roxy, dan Olivia langsung sadar jika meski postur tubuh sama tapi baju yang mereka pakai berbeda maka dari itu Olivia mencari menggunakan baju yang Roxy pakai ke pengadilan tadi.


Saat mulai lelah mencari tiba-tiba Olivia merasa pundak nya di pegang seseorang, dia tersenyum lalu berbalik dan alangkah kaget nya dia melihat siapa yang di belakang nya.


"Bapak lagi! mau apa lagi" Olivia nampak sangat kesal.


"Bayar dulu, enak saja sudah naik mobil nggak bayar" ucap bapak supir dengan wajah tanpa dosanya.


Olivia mendengar itu sangat jengkel, dia mengambil uang 100 ribu lalu dia berikan pada bapa supir.


"Pergi sebelum wajah bapak aku cakar sampai berdarah!" kata Olivia yang kesal.


"Oke" bapak supir langsung berlari secepat kilat karena takut melihat raut wajah Olivia yang menurutnya tidak ramah alias menyeramkan.