
Cukup lama Olivia memeluk Roxy sambil menangis, entah kenapa Olivia merasa teramat takut sekali.
"Tenanglah, kamu aman bersamaku" kata Roxy mengusap punggung Olivia.
"Aku takut" isak Olivia menatap Roxy.
Dan saat menatap mata penuh dengan air mata itu Roxy tidak bisa berkata-kata..
Darah nya terasa berdesir keras, jantungnya berdegup kencang seperti orang yang sedang jatuh cinta.
"Apa aku jatuh cinta? pada Olivia?" batin Roxy masih menatap Olivia.
Mata Roxy masih menatap Olivia, hingga keduanya saling membuang muka setelah keduanya mendengar suara sirine mobil polisi.
Tak lama kemudian polisi datang dan langsung meringkus tukang ojek itu, tak main-main Roxy akan memenjarakan pria mesum itu.
Roxy membawa Olivia yang cidera di lengan dan kakinya ke rumah sakit terdekat tentunya dengan di antar salah satu polisi, setelah itu keduanya memberikan kesaksiannya pada kepolisian.
"Kamu bisa berjalan sendiri?" tanya Roxy.
"Hem" balas Olivia berjalan dengan langkah tertatih-tatih karena kakinya mulai terasa sakit setelah di obati.
Roxy membantu Olivia berjalan, keduanya pulang dengan naik motor Roxy.
"Pelan-pelan" kata Olivia mengingatkan.
"Iya, pegangan" titah Roxy.
Olivia menurut saja, dia memegang sedikit baju Roxy, dan Roxy yang tidak merasakan Olivia pegangan padanya langsung menarik tangan Olivia agar memeluk pinggang nya.
"Ini baru pegangan" kata Roxy.
"Ini pemaksaan" balasOlivia melepaskan pelukan di pinggan Roxy.
"Ya sudah kalau mau jatuh ya jangan pegangan, tapi kalau tidak mau jatuh ya harus pegangan" sahut Roxy menyalakan mesin motor nya.
Dan Olivia yang takut jatuh akhirnya memilih pegangan pada Roxy dengan erat.
Selama di di perjalanan keduanya sama sekali tak ada obrolan sedikitpun, baik Roxy ataupun Olivia keduanya sama-sama larut akan apa yang terjadi pada hari ini.
Motor matic yang dikendarai Roxy terus melaju hingga motor Roxy pun tiba-tiba berhenti di tengah jalan.
"Kenapa?" tanya Olivia.
"Mana aku tahu" balas Roxy agak sewot.
Roxy langsung menyuruh Olivia turun dari motor, Olivia dengan malas akhirnya turun sedangkan Roxy dia nampak mengecek-ngecek motornya, tak lupa dia kembali menyalakan mesin motornya dan semua itu terus ia lakukan selama 15 menit lamanya.
Olivia yang sedari tadi melihat itu jengah, Roxy yang meneriksa tapi tak ada perubahan membuat Olivia bingung.
"Apanya yang rusak?" tanya Olivia.
"Nggak tau" balas Roxy jujur.
"Hah? terus dari tadi ngapain aja?" tanya Olivia tak habis pikir.
Membuat Roxy melirik pada Olivia yang menurutnya sangat bawel.
"Mana aku tau, lagi pula bukan salahku jika aku tak mengerti masalah seperti ini" ucap Roxy santai.
Olivia melongo melihat Roxy yang duduk santai, ini sudah sore bahkan sebentar lagi akan gelap karena hampir malam.
Dan Roxy malah bersantai seolah tidak terjadi apa-apa, bukan kah itu menyebalkan.
"Cari bengkel, usaha dong" kata Olivia lagi.
"Ya berdua, kan naik nya juga berdua" balas Roxy bangkit dari duduknya.
Hufh..
Jika bukan karena Roxy yang membantu nya Olivia pasti sudah meninggalkan Roxy sejak tadi, tapi tidak dia tidak sejahat itu.
Roxy mendorong motor nya, sedangkan Olivia berjalan di samping nya sambil melihat Roxy yang ternyata tak semanja yang dia pikirkan.
"Kamu tau ini pertama kalinya aku mendorong motor rusak"kata Roxy membuka obrolan.
"Pas SMA atau Kuliah?" tanya Olivia.
"Aku tidak di ijinkan naek motor, pas sekolah SMA aku di antar jemput supir tapi setelah punya SIM aku membawa mobil sendiri dan Mommy tetap tak pernah mengijinkan ku naek motor" jelas Roxy lagi.
"Entahlah, tapi Daddy bilang dulu Mommy pernah kecelakaan saat naik motor dan setelah itu Mommy sangat takut naik motor jadi Mommy sangat melarang ku untuk naik motor" lanjut Roxy lagi.
Olivia manggut-manggut sambil berjalan, keduanya mengobrol banyak akan masa kecil Roxy sambil berjalan hingga mereka pun akhirnya melihat bengkel.
Sambil menunggu kerusakan motor yang sedang di perbaiki nya Roxy dan Olivia duduk sambil minum-minuman dingin.
"Bagaimana dengan mu, ceritakan masa kecil mu?" pinta Roxy.
Membuat Olivia yang minum melirik Roxy.
"Aku tidak punya masa kecil yang indah, ibu dan bapak meninggal karena kecelakaan setelah itu aku hanya punya nenek Alana dan kakak ku, mereka yang membuat aku bisa menjadi wanita kuat" kata Olivia sambil melihat ke arah motor yang di benarkan.
"Sorry aku tidak bermaksud__" ucap Roxy terpotong.
"Tidak masalah, aku tidak pernah sedih meski tidak memiliki orang tua lagi. bagiku kakak dan nenek adalah segalanya maka dari itu aku akan bekerja keras untuk bisa membuat mereka bangga padaku" lanjut Olivia dengan penuh semangat.
Roxy yang mendengar cerita Olivia entah kenapa merasa semakin kagum pada sosok yang sebelumnya dia rendahkan bahkan hina.
Ternyata kehidupan tak terlalu baik pada Olivia, malah Roxy yang selama hidup nya hanya merasakan senang dia malah merasa jika orang tuanya jahat karena membuangnya ke rumah kakek nya.
"Pak sudah beres" kata abang bengkel mendekat.
"Berapa?" tanya Roxy.
"65 ribu tambah minum 10 ribu jadi semuanya 75 ribu" balas abang bekel.
Roxy membuka dompet nya dan dia baru ingat jika uang nya habis semuanya di palak polisi tadi.
Olivia melihat Roxy diam, dia mengeluarkan uang 100 ribu dari dompet nya lalu dia berikan pada abang bengkel.
"Aku akan mengganti nya" kata Roxy merasa malu karena lagi-lagi dia selalu di bayari Olivia.
"Santai saja" balas Olivia sambil menerima kembalian nya.
Lalu keduanya lanjut pulang karena hari sudah mulai gelap.
Di sisi lain nampak kakek Rut dan Nenek Alana yang sedang duduk di teras rumah nenek Alana.
"Via kemana ya, ko belum pulang sampai sekarang" ucap nenek Alana cemas.
Jujur saja perasaan nya merasa tak enak, apalagi Olivia pergi sejak siang dan sampai malam juga belum pulang.
"Mungkin ke hotel" celetuk kakek Rut asal.
"Rut! jangan bercanda kau pikir lelucon mu lucu" nenek Alana menjawab ketus.
"Alana, santai saja mungkin mereka sedang asyik bercinta" kata kakek Rut yang kembali random.
Bugkk!
Nenek Alana memukul kakek Rut dengan kesal.
"Menurut mu mereka kemana dulu sebelum pulang!" tanya nenek Alana setelah memukul kakek Rut.
"Aku tidak tau, lagi pula untuk apa kita memikirkan mereka, lagi pula mereka sudah besar dan sudah bukan anak kecil lagi. mau mereka main kuda-kudaan ke atau apapun itu terserah mereka" balas kakek Rut lagi.
Nenek Alana diam, ada benarnya juga yang di ucapkan kakek Rut tapi meski begitu tetap saja nenek Alana khawatir.
Kakek Rut melirik nenek Alana, tangan nya gatal untuk memegang tangan keriput nenek Alana.
"Rut!" nenek Alana melotot sesaat tangan nya di pegang kakek Rut.
"Alana, ingat janji mu" kata kakek Rut.
"Rut, kau gila. ingat kita sudah tua" bentak nenek Alana.
Membuat kakek Rut melepaskan tangan nenek Alana, dia bangkit dari duduknya dan menatap nenek Alana.
"Aku memang tua, tapi jiwa ku masih muda" kata kakek Rut dengan tatapan penuh cintanya.
Nenek Alana membuang wajahnya ke samping sesaat merasakan desiran aneh saat di tatap kakek Rut.
"Alana sadar, kau sudah tua." batin nenek Alana mencoba menepis pemikiran nya.
🌹
Jangan lupa like coment and vote ya❤🤗🙏