
"Antar makanan pada Roxy ya, sayang kalau makanan ini tidak di makan" kata nenek Alana sambil memberikan rantang bersisi makanan pada Olivia.
Olivia melihat rantang makanan yang di berikan sang nenek dengan wajah bingungnya.
"Udah antar aja, mubajir" lanjut nenek Alana lagi.
Hufh..
"Baiklah, aku pergi" ucap Olivia akhirnya setuju.
Olivia bersiap-siap sebentar setelah itu dia pun langsung pergi ke kantor Roxy.
Selama di perjalanan Olivia nampak memikirkan ucapan Roxy semalam, dia masih bingung untuk memutuskan apa yang yang akan dia pilih.
"Jika aku tetap lanjut aku akan menjadi janda di usia muda" gumam Olivia pelan.
Tentu hal itu akan membuat pandangan orang padanya menjadi jelek, tidak memiliki suami atau status janda terkadang membuat sekitar mencap jika wanita yang berstatus janda adalah wanita tidak benar.
Hal itu mereka kaitkan dengan rumah tangga yang hancur, meski sebenarnya Olivia tidak perduli dengan ucapan orang tapi Olivia juga akan risih dengan gunjingan orang.
"Neng Janda?" Tiba-tiba supir taksi bersuara.
Hah?
"Kenapa pak?" tanya Olivia pura-pura tak mendengar.
"Neng katanya janda ya?" tanya supir taksi tersenyum penuh arti.
Dan Olivia sadar jika senyuman itu terlihat sepertinya senyuman untuk orang yang memiliki maksud.
"Bukan pak, nenek saya janda" balas Olivia cepat.
"Oh kirain neng nya" balas bapak supir tersenyum kecewa.
Olivia tidak membalas, dia merinding yang benar saja dia harus mengakui status janda nya pada supir taksi.
Olivia yakin supir itu pasti akan berniat mendekatinya, ia sangat hapal wajah-wajah buaya darat seperti itu.
"Kalah neng udah janda nanti chat fb abang ya" kata bapak supir itu tersenyum dengan kumis tebal nya.
"Nggak akan jadi janda pak, suami saya ganteng" balas Olivia tegas lalu memberikan uang 50 ribu pada pak supir.
Olivia pun keluar dari mobil taksi karena memang sudah sempai, lalu dia berjalan ke area gedung perusahaan suaminya.
Statusnya memang masih seorang istri, sekalipun Olivia dan Roxy akan bercerai tapi itu belum benar-benar terjadi karena proses nya memang butuh waktu.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Resepsionis.
Seperti nya resepsionis nya baru sehingga tidak mengenali Olivia yang seorang istri bos.
"Saya mau bertemu dengan tuan muda, mbak" kata Olivia menjawab.
"Sudah membuat janji?" tanya resepsionis nya lagi.
Olivia menggeleng.
"Belum mbak" balas Olivia lagi.
"Kalau begitu saya akan mencoba menghubungi sekertaris nya dulu" ucap resepsionis itu terlihat tidak ketus, dan lebih ramah dari resepsionis yang terdahulu.
Lama Olivia menunggu di sofa, hingga akhir nya resepsionis itu menghampiri nya.
"Tuan sedang sibuk dan tidak bisa di ganggu, mungkin mbak bisa kembali nanti jika sudah membuat janji" kata resepsionis itu sambil melihat Olivia yang membawa rantang makanan.
Melihat hal itu tentu saja resepsionis itu kaget dan langsung menghalangi jalan Olivia.
"Maaf mbak, tapi saya di tugaskan untuk tidak membuat tuan muda di ganggu, saya mohon jangan membuat saya masuk ke dalam masalah besar. saya masih punya anak yang harus di beri makan" kata resepsionis itu memohon.
Membuat Olivia tersenyum karena kejujuran nya, bahkan sekalipun pekerjaan nya terancam resepsionis itu lebih memilih memohon di bandingkan dengan beteriak memanggil security ataupun membentak nya.
"Saya istri nya bos, tidak apa jika bos memecat mu aku akan memarahinya" kata Olivia tersenyum lalu masuk ke dalam lift.
Resepsionis bernama Winda itu tentu saja kaget, dia tidak menyangka jika wanita yang ada di depannya tadi adalah istri bos nya.
"Semoga saja aku benar-benar tidak di pecat, kenapa tidak ada yang memberitahu ku jika wanita muda tadi adalah istri bos" gumam Winda sambil berjalan kembali ke tempat dia bekerja.
Sedangkan Olivia dia sudah sampai di depan ruangan Roxy.
Ceklek..
"Sudah aku bilang jangan biarkan seseorang masuk ke ruangan ku!" ucap Roxy marah tanpa melihat ke arah pintu.
"Aku juga tidak berniat datang, tapi nenek yang memaksa ku untuk datang mengantarkan makan siang mu maka dari itu aku kesini" balas Olivia sambil mendekati tempat Roxy duduk.
Dan saat itulah Roxy langsung sadar jika yang masuk adalah Olivia, bukan sekertaris nya.
"Kamu mengantarkan makan siang? apa ini tandanya kita akan bersama?" tanya Roxy.
"Makanlah, aku akan melihat mu makan sampai habis" kata Olivia memilih tak menjawab pertanyaan Roxy.
Roxy mengajak Olivia duduk di sofa, lalu Olivia pun membantu menyiapkan makanan Roxy karena mesin bagaimana pun mereka memang masih suami istri.
Sekalipun keduanya sudah tidak tidur satu ranjang, tapi ikatan pernikahan keduanya masih ada.
"Sudah siap, ayo makan" ucap Olivia lagi.
"Terimakasih" Roxy mengambil makanan nya, dan mulai makan.
Selama Roxy makan tidak ada obrolan, Olivia memilih menyibukkan diri dengan bermain ponsel.
Dan hal itu Roxy sayangkan, dia ingin sekali bertanya tapi Roxy takut Olivia akan semakin jauh dari nya.
Hingga akhirnya makan Roxy pun selesai, dan Olivia yang melihat itu langsung membereskan makanan nya.
"Aku pulang, nenek akan senang karena makanan nya habis" ucap Olivia berbasa-basi.
"Ya, terimakasih makanan nya enak" balas Roxy.
Olivia hanya mengangguk, hingga saat Olivia akan pergi tiba-tiba Roxy memeluk nya dari belakang.
Hal itu tentu saja membuat Olivia kaget dan reflek memukul tangan Roxy.
"Biarkan hanya sebentar saja, setelah ini aku janji tidak akan menganggu mu" kata Roxy.
"Hanya dua menit" balas Olivia mengijinkan.
Dan Roxy mengangguk dengan masih memeluk Olivia, selama dua menit Roxy memeluk Olivia dari belakang tanpa mengatakan apapun.
Hingga akhirnya pelukan nya terlepas, dan Olivia langsung keluar dari ruangan Roxy.
"Mungkin apa yang aku lakukan memang tidak berkesan apa-apa" ucap Roxy yang pasrah dengan semua keputusan Olivia.
Sedangkan Olivia dia yang baru keluar dari ruangan Roxy entah kenapa merasa sedih untuk apa yang dia lakukan.
"Apa ini, kenapa aku ingin menangis? bukankah ini yang aku mau" gumam Olivia yang terdiam di depan pintu dengan raut wajah yang tidak bisa di artikan.