
Malam ini Roxy dan Olivia nampak sudah bersiap untuk jalan-jalan, sebelumnya keduanya berencana untuk main ke pasar malam yang ada di kampung sebelah.
Bukan tanpa alasan keduanya pergi bersama, Roxy dan Olivia membuat kesepakatan dimana jika mereka punya waktu 3 hari sebelum sidang perceraian mereka.
"Pakai helm" titah Roxy.
"Nggak usah, kan dekat" balas Olivia menolak.
Mambuat Roxy langsung turun tangan dan memasangkan helm ke kepala Olivia.
"Maksa banget" ketus Olivia manyun.
"Demi keselamatan" ucap Roxy yang kini mulai menyalakan mesin motor nya.
Dan Olivia tak langsung naik membuat Roxy melirik Olivia.
"Naik" titah Roxy.
"Pakai helm, demi keselamatan!" Olivia menekan kata demi keselamatan.
"Keselamatan mu, aku joki jadi tak masalah kalau jatuh" balas Roxy menarik tangan Olivia agar mau naik.
Olivia dengan terpaksa naik, Roxy pun mulai melajukan motor nya meninggalkan rumah sederhana nya.
Nampak juga nenek Alana dan kakek Rut yang keluar dari rumah nya dan nampak tersenyum penuh harap pada keduanya.
"Rut, apa menurut mu mereka akan kembali bersama?" tanya nenek Alana karena sekali lagi jarak rumah mereka berdekatan.
"Entahlah, tapi seperti nya kita akan punya cicit karena cucu ku agresif" balas kakek Rut.
"Ya dia agresif seperti mu" ucap nenek Alana ingat jika ciuman pertama nya di berikan pada kakek Rut yang pemaksa.
Kakek Rut mendapatkan jalan tentu saja senang, dia berjalan mendekati nenek Alana yang berdiri di depan rumah nya.
"Bagaimana dengan kita Alana? apa akan ada kesempatan kembali bersama?" tanya kakek Rut semangat.
Hah?
Nenek Alana nampak bingung menjawab apa, dia memilih melihat ke sembarangan arah.
"Apa, aku kan sudah bilang kalau cucu kita yang utama" balas nenek Alana menghindar.
"Kau yakin hanya mau kebahagiaan cucu kita? bagaimana dengan masa tua kita? kau tak ingin masa indah tinggal di villa pedesaan seperti yang kita impikan dulu Alana?" tanya kakek Rut sengaja mengatakan impian yang nenek Alana katakan padanya saat masih remaja dulu.
"Kau masih ingat Rut?" nenek Alana melirik kakek Rut.
"Apapun yang menyangkut nama mu selalu aku ingat" balas kakek Rut.
Membuat nenek Alana tertegun, dia bahkan meneteskan air matanya.
Jika Rut begitu mencintai nya lalu kenapa dia menghilang dan tidak memperjuangkan nya?
"Alana, aku hanya ingin kita punya masa tua yang indah, kita bisa hidup dengan damai seperti impian mu" lanjut kakek Rut.
"Apa kamu mencintai mantan istrimu?" tanya nenek Alana.
Kakek Rut mengangguk.
"Cinta ku padanya selalu ada, dia wanita baik dan aku menyayangi nya. tapi di saat dia menghembuskan nafasnya Mantan istri ku meminta aku untuk mencari mu Alana" jelas kakek Rut.
"Kenapa?" tanya nenek Alana aneh.
Kakek Rut diam, lalu diam-diam tangan nya memegang tangan nenek Alana.
"Dia tau kalau aku juga mencintai mu, Alana" jelas kakek Rut.
"Dia tau?" tanya nenek Alana kaget.
"Ya, aku menceritakan kisah cinta kita, dia meminta ku untuk mencari mu tapi aku menolak karena aku tau kamu sudah menikah" lanjut kakek Rut lagi.
"Ya dan sekarang harusnya kita bisa setia pada orang yang kita cintai" balas nenek Alana berniat pergi tapi tangan nya malah ditahan kakek Rut.
Nenek Alana menghela nafasnya panjang lalu melirik kakek Rut.
"Apa kau yakin tidak mau bahagia sebentar dengan ku?" tanya kakek Rut.
Nenek Alana diam, matanya melihat wajah serius dari sang mantan kekasih lama nya itu.
"Entahlah, kita lihat nanti saja" nenek Alana melepaskan tangan kakek Rut yang menahan nya, lalu pergi dengan cepat masuk kedalam rumah nya.
Kakek Rut melihat itu tersenyum, nenek Alana tak menolaknya tapi masih memberikan harapan yang belum pasti padanya.
"Alana aku bersungguh-sungguh" teriak kakek Rut.
Dan nenek Alana yang ada di balik pintu nampak tersenyum kecil.
"Rut, kau masih saja keras kepala seperti dulu. terimakasih Rut karena kamu sudah mengatakan semuanya, aku senang" gumam nenek Alana pelan.
Menikah dengan kakek Rut sejak dulu adalah impian nya, hanya saja perjodohan dan takdir membuat dia harus menikahi pria yang tidak dia cintai, adapun kakek nya Olivia Nenek Alana menikah karena perhatian dan almarhum suaminya membutuhkan seorang istri untuk mengurus anak-anak nya.
Tapi jika boleh jujur nenek Alana memang masih mencintai kakek Rut, dia ingin menghabiskan sisa hidup nya bersama Rut cinta pertama nya.
Di luar Kakek Rut masih melihat ke arah pintu rumah nenek Alana, dia masih berharap nenek Alana keluar dari rumah dan menjawab iya, bahwa dia mau menikah dengan nya.
"Satu dua.. tiga.." kakek Rut menghitung.
Tak ada tanda-tanda nenek Alana keluar membuat kakek Rut sedikit kecewa.
"Tak apa masih ada esok" kakek Rut berbalik dan berniat pergi.
Hingga tiba-tiba..
"Rut, tunggu" teriak nenek Alana.
"Alana kau mau?" tanya kakek Rut nampak senang.
"Bukan itu, aku hanya mau mengatakan jika kau peot" ucap nenek Alana berjalan mendekati kakek Rut.
Hah?
"Kau menghina ku, ck dasar nenek tua tidak sadar diri, kau bahkan lebih peot dariku lihat kulit mu sudah keriput dan rambut mu juga banyak uban nya" balas kakek Rut sewot.
"Dari pada kau rambut nya sedikit mana ada lapangan bola di kepala lagi" sahut nenek Alana tak kalah sewot.
"Ck, kau memang tidak bisa di beri hati Alana" kesal kakek Rut.
Nenek Alana tertawa cekikikan, dan itu sangat menyebalkan di mata kakek Rut.
Hingga..
"Rut, aku mau menghabiskan sisa tua ku bersama mu" ucap nenek Alana.
"Apa aku tidak salah dengar?" tanya kakek Rut kaget.
Nenek Alana menggeleng sebagai jawaban.
"Oh Alana, kau akan jadi istriku" kakek Rut kegirangan sampai memeluk nenek Alana.
Nenek Alana membiarkan kakek Rut memeluk nya, dia juga memang merindukan pelukan dari pria tengil nya itu.
"Astaga, dunia memang sudah aneh, inget umur Nek Kek udah tua masih aja doyan pacaran" ucap seorang hansip yang sedang berkeliling di jalan.
Kakek Rut dan nenek Alana sontak melepaskan pelukan mereka lalu menatap horor pada hansip yang bertubuh kecil itu.
"Syirik aja, emang nya yang muda aja yang boleh pacaran" ucap nenek Alana sewot.
"Iya syirik tanda tak mampu!" timpal kakek Rut tak kalah sewot.
Hansip yang masih berdiri di pinggir jalan itu menggelengkan Kepala nya.
"Dasar bau tanah" celetuk hansip itu sambil berjalan terburu-buru.
"Dasar calon jenazah, siapa tau situ dulu yang mati bukan kita" balas nenek Alana berteriak.