
"Alana, 45 tahun kau pergi aku tidak percaya kita bisa kembali bertemu" lanjut kakek Rut menatap nenek Alana lagi.
Nenek Alana menaikan pandangannya dan langsung bertatapan dengan kakek Rut.
"Rut, kau botak?" ucap nenek Alana random.
"Kau juga terlihat seperti nenek-nenek" balas kakek Rut.
"Dan kau lebih terlihat seperti kakek tua legendaris Jepang" celetuk nenek Alana lagi.
Olivia yang sedari tadi mendengar obrolan random nenek dan kakek Rut itu merasa bingung.
Dia menerka-nerka akan hubungan kakek Rut dan nenek Alana, apakah mereka sudah mengenal lama? seperti yang kakek Rut katakan mereka kembali setelah tidak bertemu selama 45 tahun.
"Nenek mengenal kakek?" tanya Olivia yang penasaran.
"Ya, dia teman SMA nenek" kata nenek Alana menjawab.
"Ya teman dan sekaligus mantan pacar" timpal kakek Rut.
Membuat nenek Alana memukul tangan kakek Rut.
"Itu hanya sebentar Rut, jangan bahas kisah cinta kita. aku malu jika cucu kita tau kalau kita di masa lalu adalah rekan maling mangga" celetuk nenek Alana.
Membuat kakek Rut tertawa karena kembali mengingat kejadian di masa lalu dimana kisah cinta masa SMA nya dan nenek Alana yang paling berkesan.
Lain dengan Olivia yang merasa merinding melihat tingkah neneknya yang berubah drastis menjadi centil.
"Apa tadi di jalan nenek bertemu setan centil, kenapa nenek bersikap seperti gadis pemalu yang bertemu gebetan nya" batin Olivia yang terus memperhatikan gelgat neneknya.
Mereka lanjut mengobrol di ruang tengah, kakek Rut mematikan TV nya dan dengan asyik mengajak Nenek Alana kembali mengingat masa lalu mereka.
Olivia yang melihat kedekatan kakek dan neneknya itu hanya bisa senang karena itu artinya nenek nya akan betah tinggal bersama nya.
Karena lelah Olivia memilih ke kamarnya tapi malah melihat barang-barang nya termasuk bajunya sudah tidak ada di dalam kamar nya.
"Bi, baju aku kemana?" tanya Olivia.
"Di simpan di atas, tuan Rut yang minta" jelas bibi Lin.
"Enak ya kamu Via, jadi nyonya muda di rumah ini" lanjut bibi Lin iri dengan nasib baik Olivia.
Olivia hanya tersenyum, dia yakin bibi Lin tau semua ini dari kakek.
"Nggak juga bi, aku malah merasa punya tangtangan buat luluhin Roxy" jelas Olivia.
"Loh memang nya kalian nikah tanpa cinta?" tanya bibi Lin.
Dan membuat Olivia berpikiran jika kakek Rut tak mengatakan alasan Olivia dan Roxy menikah, itu lebih bagus karena yang nama nya aib tidak baik di umbar.
"Bukan tanpa cinta bi, tapi lebih ke sedikit paksaan ke akunya bibi tau kan aku nggak kenal sama tuan Roxy, Ehk tiba-tiba aja gitu dia ngajak nikah katanya jatuh cinta pada pandangan pertama gitu" jelas Olivia membual.
"Wah hebat kamu Via, pake pelet apa?" tanya bibi Lin tertawa.
"Pelet kentu bau bi, udah di kasih kentut Ehk langsung klepek-klepek deh tuan Roxy nya kan jadi susah aku juga jadi terpaksa nikah, katanya kalau nggak nikah sama aku dia nggak mau kerja dan makan loh bi" Olivia semakin bercerita kepalsuan.
Menurutnya ini hanya lucu-lucuan saja terlepas dari bibi Lin yang mau percaya atau tidak itu terserah bibi Lin.
Lalu bibi Lin pergi karena di minta membuatkan minuman untuk majikan nya.
Meninggalkan Olivia yang tertawa setelah kepergian bibi Lin, tapi tawa Olivia seketika hilang setelah mendengar suara Roxy di belakang nya.
"Ternyata selain so kecantikan kau juga seorang pembohong, cih! benar-benar menjijikan" ucap Roxy di telinga Olivia.
Olivia membalikkan tubuhnya dan melihat Roxy di depan nya.
"Ucapan adalah doa, semua yang saya ucapkan itu adalah doa dan semoga saja benar menjadi nyata" jelas Olivia dengan wajah enteng nya.
Membuat Roxy semakin ilfil dengan Olivia yang menurutnya memiliki niat untuk mengambil harta kekayaan keluarga nya.
"Aku mau bicara" kata Olivia.
"Aku juga" balas Roxy.
Karena takut obrolan mereka akan di dengar oleh bibi Lin atau kakek dan nenek, jadi mereka masuk ke dalam kamar yang sebelumnya di tempati Olivia.
"Apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Olivia.
"Aku ingin kau menandatangani surat perjanjian ini" Roxy memberikan selembar surat yang sudah dia buat.
Isinya berupa perjanjian dimana pernikahan mereka hanya bertahan satu tahun, lebih tepatnya setelah kakek Rut mengalihkan nama pemilik perusahaan menjadi nama nya.
Olivia yang membaca isi dari selembar kertas itu tentu tidak bodoh, dia paham apa saja yang di mau oleh Roxy.
"Hanya ini?" tanya Olivia berusaha tenang.
"Ya" balas Roxy santai.
"Aku akan menandatangani ini, tapi kamu juga harus menuruti syarat yang aku buat" kata Olivia memberikan syarat persetujuan mereka.
"Oke, katakan saja itu gampang" sahut Roxy masih santai.
"Berpura-puralah seolah kita pasangan yang harmonis di depan kakek nenek, hanya itu" jelas Olivia mengatakan syarat yang dia ajukan.
"Kalau aku tidak mau?" tanya Roxy.
"Maka aku juga tidak mau" balas Olivia santai.
"Ck, kau memang ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan" kata Roxy marah.
"Terserah" balas Olivia berniat pergi.
Tapi di hentikan oleh suara Roxy.
"Oke, aku akan melakukan nya" ucap Roxy akhirnya setuju.
Keduanya berjabatan tangan tanda mereka setuju dengan perjanjian konyol mereka.
Aww!
Tiba-tiba Roxy memelintir tangan Olivia membuat Olivia kesakitan di buatnya.
"Lepasin" kata Olivia sakit.
Tapi Roxy tak menuruti yang membuat Olivia kesal dan balik menginjak kaki Roxy.
Awww!
Sekarang giliran Roxy meringis sakit karena injakan kaki yang di berikan Olivia begitu kuat.
Dan tanpa keduanya sadari di luar ada kakek Rut dan nenek Alana yang sedang mendengarkan.
"Mereka sedang itu?" tanya nenek Alana.
"Ck, kau kepo sekali Alana. seperti tidak pengalaman saja" balas kakek Rut tertawa.
"Kau juga pengalaman bukan?" tanya nenek Alana lagi.
"Ya, aku ahli dalam hal itu, kau penasaran?" tanya kakek Rut yang sontak saja mendapatkan pukulan di lengan nya.
"Sadar umur botak!" kata nenek Alana manyun.
🌹
Jangan lupa like coment and vote ya❤🤗🙏