I Love Hot Daddy

I Love Hot Daddy
Cinta gila



Roxy dan Olivia menyudahi jalan-jalan malam nya dengan makan bakso, dan itu atas keinginan Olivia.


"Di sini bakso yang enak ya di sini, besar" kata Olivia.


"Besar?" Tanya Roxy ambigu.


"Iya besar bakso nya" sahut Olivia lagi.


"Aku kira bakso kembar" balas Roxy terseyum penuh arti.


Dan Olivia paham dengan bakso kembar yang Roxy maksud.


"Dasar mesum" Cibir Olivia.


"Biarin, mesum juga bisa bikin kamu keenakan" sahut Roxy santai.


Membuat beberapa pasang mata melihat ke arah keduanya yang berbicara random.


Sadar akan menjadi pusat perhatian Olivia mencubit pinggang Roxy, tapi bukan Roxy jika tidak membuat drama.


"Aww sayang, nanti di kamar saja kalau mau pegang-pegang bakso" kata Roxy dengan sengaja.


"Setres!" kesal Olivia yang akhirnya tidak melanjutkan mencubit Roxy.


Berhadapan dengan Roxy benar-benar membutuhkan kekuatan super sabar yang ekstra.


Masih ada yang berbisik karena melihat interaksi Roxy dan Olivia, yang membuat Roxy langsung berkata..


"Kami suami istri, bukan pasangan haram" kata Roxy menegaskan.


"Kirain masih pacaran" ucap salah satu ibu-ibu tersenyum malu karena sempat berpikiran yang tidak-tidak akan Roxy dan Olivia.


Karena bakso yang di pesan datang keduanya pun langsung makan, tak lupa Olivia mengambil kerupuknya karena makan bakso tanpa kerupuk terasa tidak nikmat.


Setelah meracik baksonya dengan kuah yang merah cabai Olivia pun langsung makan, Roxy tidak terlalu suka pedas tapi dia so-soan karena gengsinya tinggi.


Keduanya makan tanpa berbicara apapun, hingga..


Uhuk!


"Minum" ucap Roxy terbatuk-batuk.


Dan rasanya hidung nya panas karena dia batuk dengan mulut yang penuh dengan kuah cabai yang pedas.


Olivia yang melihat itu langsung mengambil air dingin dan memberikan nya pada Roxy.


"Pelan-pelan" kata Olivia memperingati.


Roxy menerima nya dan langsung minum, Olivia melihat itu hanya geleng-geleng karena Roxy terlihat seperti anak kecil yang baru mencoba makanan pedas.


Lalu Olivia lanjut makan lagi lain dengan Roxy yang memilih menyudahi makan nya karena dia tak sanggup dengan rasa pedas nya, dan memilih minum terus karena rasa pedas nya tak kunjung menghilang.


Setelah selesai makan bakso kedua nya pun pulang, selama di perjalanan tak ada obrolan yang keduanya bicarakan karena tak ada satupun yang memulai pembicaraan.


"Terimakasih" ucap Olivia sambil turun dari motor Roxy.


Lalu Olivia berjalan, tapi saat akan memegang klop pintu tiba-tiba langkah Olivia terhenti.


"Via" panggil Roxy.


"Ya? kenapa?" tanya Olivia.


Roxy berjalan mendekati Olivia.


"Aku mohon pikirkan sekali lagi, aku memang bersalah tapi apakah tidak ada maaf dan kesempatan kedua untuk ku?" kata Roxy sambil melihat Olivia.


"Aku mengantuk" balas Olivia yang memilih langsung masuk ke dalam rumah.


Sedangkan Roxy dia diam setelah Olivia masuk ke dalam rumah tanpa memberikan jawaban yang pasti.


Waktu semakin dekat dan itu tandanya Roxy dan Olivia akan di pertemukan kembali di pengadilan agama.


"Aku harap Olivia bisa memikirkan sekali lagi, waktu yang aku habiskan tadi semoga saja dapat meninggalkan kesan di hatinya" gumam Roxy sambil kembali mengendarai motor nya masuk k halaman rumah kakek nya.


Pagi harinya Roxy bangun pagi seperti biasanya, karena harus bekerja Roxy pun langsung berangkat ke kantor.


Olivia melihat Roxy yang pergi bekerja, semalaman dia berpikir keras untuk semuanya termasuk rumah tangga nya yang saat ini ada di ambang kehancuran.


Olivia tidak mau gagal, tapi rasanya sulit untuk dia tidak mengingat apa yang Roxy lakukan selama dia menikah, pertengkaran mungkin adalah bumbu pernikahan nya tapi sikap semena-mena nya Olivia merasa harga dirinya di injak-injak.


"Sudah jangan ngintipin terus orang nya udah pergi jauh juga" kata nenek Alana sambil tersenyum mencibir sang cucu.


"Nenek, mana ada aku mengintip" sahut Olivia sewot.


"Iya nggak ngintip cuman melihat dari balik jendela" balas nenek Alana yang membuat Olivia manyun di buatnya.


Olivia berjalan dengan wajah sebalnya dan membuat nenek Alana tersenyum saja melihat tingkah cucunya.


"Dia pasti jatuh cinta, ya begitu lah cinta dan benci itu bedanya tipis-tipis" ucap nya sambil berjalan ke arah kamar nyq.


Dan Olivia tentunya mendengar ucapan sang nenek yang mengejek nya.


"Cinta benci? aku bahkan tidak tau perasaan ku seperti apa" gumam Olivia sambil melihat dapur sederhana nya.


Lalu Olivia melihat ke kulkas baru nya yang di belikan oleh kakek Rut beberapa waktu lalu.


Olivia mengambil beberapa bahan masakan, menurutnya dari pada mood pagi nya menjadi berantakan lebih baik dia memasak untuk makan siangnya dan sang nenek.


"Aku harus jual mahal, jangan sampai mudah di taklukan agar dia tau siapa aku sebenarnya" ucap Olivia yang berbicara sendiri saat memasak.


Dan selama masak Olivia berbicara sendiri seolah ada yang mengajak nya mengobrol, dia bertanya dan menjawab pertanyaan nya sendiri.


Nenek Alana dan kakek Rut mengintip, keduanya saling melirik sambil berkata..


"Cinta gila" ucap keduanya kompak.