
"Pak langsung pulang" kata Olivia saat baru masuk ke dalam mobil.
"Baik nona" balas supir yang langsung mengemudikan mobilnya.
Selama di perjalanan Olivia nampak kesal, neneknya baru satu hari pergi dan Roxy sudah mulai berulah lagi.
Disamping Olivia nampak Roxy yang terlihat mabuk berat, Roxy bahkan tak sadar jika dia sudah ada di mobil dan dalam perjalanan pulang.
Tak lama kemudian mereka sampai di rumah, Olivia yang kesal meminta tolong pada supir pribadi kakek Rut untuk membantu membopong Roxy ke dalam kamar.
"Makasih pak" kata Olivia saat Roxy sudah di tidurkan di ranjang nya.
"Sama-sama nona, kalau begitu saya pamit pulang nona" balas pak supir yang langsung pergi.
Olivia yang lelah memilih ke kamar mandi untuk cuci muka, setelah itu dia juga mengganti pakaian nya menjadi piyama tidur.
Hufh..
Olivia menghembuskan nafasnya kasar saat melihat beberapa goresan merah di leher nya akibat kuku panjang wanita di club tadi.
"Lihat saja jika aku bertemu dengan dia di luar akan aku balas goresan ini" gumam Olivia kesal.
Goresan yang ada di lehernya ini tak lebih parah di bandingkan wanita tadi yang kehilangan beberapa helai rambutnya akibat jambak kan yang di lakukan Olivia.
Karena tidak mau satu ranjang bersama Roxy Olivia pun memilih tidur di sofa, dan tak butuh waktu lama Olivia pun masuk ke dalam mimpinya.
Pagi harinya..
Roxy bangun lebih awal karena ingin ke kamar mandi, dan saat keluar dari kamar mandi Roxy nampak terlihat seperti sudah mandi terlihat dari handuk yang melilit di pinggang nya.
"Kenapa dia tidur di sofa?" gumam Roxy heran.
Dan yang lebih anehnya lagi Roxy merasa semalam akan bersenang-senang di traktir Billy, tapi kenapa dia malah berasa di kamar nya.
Di saat banyak pertanyaan yang dia bingung harus mencari jawaban nya dimana tiba-tiba Roxy mendapatkan telpon dari Mark.
Mark mengatakan jika Olivia mencari Roxy, dan semua itu menjawab rasa penasaran Roxy akan apa yang terjadi tadi malam.
"Tumben dia belum bangun" Roxy yang baru selesai memakai baju kerja nya pun mendekati Olivia.
Olivia nampak masih terlelap, Roxy mengulurkan tangan nya untuk memegang kening Olivia dan alangkah terkejutnya dia merasakan kening Olivia yang begitu sangat panas.
"Dia demam? aku pikir dia tidak bisa sakit" Roxy berkata sambil menatap wajah Olivia.
Bisa dia bayangkan apa yang terjadi tadi malam dan alih-alih merasa bersalah Roxy malah tetap santai karena menurut nya yang semalam itu adalah hiburan.
Roxy berniat menggendong Olivia, dia akan memindahkan istrinya ke ranjang tapi saat Olivia sudah di pelukan nya tiba-tiba terdengar suara racauan Olivia.
"Apa kurang nya aku?" racau Olivia.
Yang mana membuat Roxy menghentikan langkahnya.
"Tidak ada kurang nya, hanya saja cinta tidak bisa di paksakan dan jangan salahkan aku jika aku tidak bisa setia pada wanita yang tidak aku cintai" kata Roxy sambil menatap wajah Olivia.
Setelah itu Roxy menelpon dokter dan sebelum dokter datang Roky meminta bibi Lin untuk mengantarkan air hangat beserta handuk kecil ke dalam kamarnya dia akan mengompres Olivia. sebelum dokter datang.
Di lantai bawah nampak kakek Rut yang keheranan melihat bibi Lin membawa wadah.
"Apa yang kau bawa?" tanya kakek Rut.
"Ini wadah berisi air hangat tuan, nona Via sedang sakit" jelas bibi Lin.
Apa!
"Via sakit?" tanya kakek Rut lagi.
"Iya tuan, seperti nya nona Via demam karena tuan muda hanya meminta air untuk kompresan" jawab bibi Lin lagi.
Lalu bibi Lin naik tangga karena sedang di kejar waktu sebelum terkena semprot si tuan muda.
Sedangkan kakek Rut dia nampak sedang berkutat dengan ponselnya.
"Halo"
"Ya, hallo siapa?"
"Alana, ini aku Rut. datanglah Olivia sakit" ucap kakek Rut tidak terlihat sedih.
Raut wajahnya memperlihatkan wajah yang sangat senang.
"Apa? Via sakit? tapi sakit apa?" tanya nenek Alana di sebrang telpon.
"Aku tidak tau, datanglah dia pasti merindukan mu karena terus menyebut nama mu" lanjut kakek Rut berbohong.
"Astaga cucu ku yang malang, aku akan ke sana nanti siang, cucu ku belum makan aku harus masak dulu" kata nenek Alana.
"Kau memasak?" tanya kakek Rut mengalihkan topik pembicaraan.
"Tentu saja Rut, aku bukan Alana yang manja lagi aku Alana si nenek tua yang miskin jadi jika aku mau makan pun aku harus mau cape memasak dulu" sahut nenek Alana.
"Nenek cepat! aku lapar" terdengar suara Jerry.
"Itu suara cucumu Alana?" tanya kakek Rut.
"Ya, sudah dulu aku harus fokus karena jika tidak makanannya nya tidak akan enak" kata nenek Alana dan langsung mematikan panggilan nya sepihak.
Kakek Rut melihat nomer ponsel yang dia namai Darling itu, ada rasa kesal saat wanita pujaan nya di perlakukan seperti pembantu.
Tapi di sisi lain juga ada rasa senang karena nenek Alana akan kembali tinggal bersamanya, karena sehari nenek Alana tidak ada kakek Rut benar-benar merasa kesepian.
🌹
Jangan lupa like coment and vote ya❤🙏🤗