I Can'T Control Myself

I Can'T Control Myself
Ending!



Hari ini adalah hari berbahagia Levi dan Amanda, karena setelah lamaran seminggu lalu membuat Levi sudah mantap untuk menikahi pacarnya itu meski mereka mengawali hubungan tidak dengan cinta tetapi cinta mereka muncul seiring berjalannya waktu. Pernikahan Levi dan Amanda yang diadakan malam hari pukul 8 malam hingga selesai sekitar pukul 12 tengah malam.


Pagi harinya pukul 5 pagi, Vallerie bangun lebih awal karena perutnya merasa tak enak dari malam tadi. Finley yang ikut terbangun beberapa saat kemudian, meraba kasur di sampingnya dan tidak mendapati keberadaan Vallerie di sebelahnya.


“Val?”


Finley berjalan ke arah kamar mandi dengan beberapa kali memanggil nama Vallerie dan karena tak ada jawaban dari Vallerie, Finley pun berjalan menuruni tangga dengan melihat keseluruh sudut ruangan di rumah mereka.


Saat sampai di dapur, Finley melihat bibi baru keluar dari kamarnya dengan membawa dua gelas kosong.


“Oalah den Finley udah bangun”


“Vallerie mana bi?” tanyanya


“Di kamar bibi den”


Vallerie keluar dari kamar Berbarengan dengan jawaban bibi itu, dengan wajahnya yang lemas Vallerie berjalan menghampiri Finley.


Finley yang seketika panik sesaat melihat istrinya dengan wajah pucat, menghampiri Vallerie terlebih dahulu untuk merangkul Vallerie yang berjalan kearahnya dengan langkah lemas. Sedangkan Bibi malah tersenyum senang melihat mereka.


“Bibi buatkan jamunya dulu non, kalian kembali saja dulu ke kamar” ujar Bibi


Finley berjalan membimbing Vallerie untuk kembali ke kamar mereka meski masih bingung mengapa bibi


membuatkan jamu untuk Vallerie.


“Kenapa bisa di kamar bibi?” tanya Finley setelah mendudukan Vallerie di ranjang mereka


Vallerie menggeleng dengan senyum lemas. Karena Vallerie telah bersama dengan bibi keluarga Harris dari ia kecil makanya ia sangat dekat dengan bibi bahkan ia menganggap bibi sebagai ibu keduanya sedari ia kecil.


Vallerie yang bangun lebih awal karena merasa perutnya sakit dan pencernaanya terasa aneh, ia lebih memilih mengadu pada bibi daripada membangunkan Suaminya.


Bibi pun kemudian datang dengan membawa jamu dan satu alat testpack, Finley terkejut setengah mati sesaat bibi memberikan hasil testpack itu kepada Vallerie.


“Bibi di dapur, kalau ada apa – apa panggil saja bibi” bibi pun meninggalkan kamar mereka.


Karena Vallerie belum melihat hasil testpack itu, ia pun menutup mata Finley dengan kedua tanganya agar ia


melihat hasilnya dulu dan bila itu sesuai keinginan Finley sejak lama barulah ia akan melihatkan hasil itu pada Finley.


Finley pasrah dengan matanya yang ditutup oleh Vallerie sedangkan Vallerie berusaha menyiapkan mental untuk melihat hasilnya. Ia juga menutup matanya dan membuka matanya perlahan ke arah benda itu.


Tangan Vallerie yang menutupi mata Finley itu menjauh secara  perlahan dengan sebelah tangan satunya ia menghadapkan testpack itu di depan mata Finley.


“Val” ujar Finley tak dapat berkata-kata lagi setelah melihat apa yang ada di depan matanya.


“Selamat jadi seorang ayah, sayang”


Seketika air mata jatuh tak terduga membasahi pipi Finley lalu ia memeluk Vallerie dengan senang tetapi


merenggangkan sedikit pelukannya mengingat ada anak mereka di dalam perut Vallerie kini.


Mereka pun memutuskan bersiap pergi ke rumah sakit untuk memastikan kebenaran tentang hal itu. Agar mereka dapat memperlihatkan kebahagian mereka ini pada keluarga yang juga menantikan hal ini akan terjadi.


Sesampainya di rumah sakit, mereka menunggu namaVallerie terpanggil sambil duduk di ruang tunggu. Vallerie yang melihat sekeliling mereka penuh dengan para ibu- ibu hamil yang juga menunggu untuk cek kandungan mereka.


Salah satu ibu menghampiri Vallerie dan Finley bersama anaknya yang berusia 2 tahun, ibu itu pergi sendiri tanpa di temani suaminya padahal ia tengah hamil besar saat itu.


“Hamil muda ya” ujar ibu itu


Vallerie menoleh dan tersenyum sambil menganggukan kepalanya.


“Kalian pasangan yang Cantik dan Ganteng” ucap ibu itu lagi


Dan anak Ibu yang berusia 2 tahun itu mendekati Vallerie dan Finley, dengan mukanya yang lucu dan ganteng itu membuat Vallerie senang melihatnya dan bersedia bermain dengan anak itu sampai nama ibu itu terpanggil untuk melakukan pemeriksaan.


“Ayo nak”


Ibu itu hendak membawa anak kecilnya itu untuk ikut memasuki ruangan bersama dengan nya tetapi anak itu tak ingin pisah dengan Vallerie dan Finley.


“Ibu masuk aja biar anak ibu kami yang menjaganya dulu” ucap Finley


Mendengar Finley mengucapkan itu dengan tulus, Ibu itu pun berterima kasih dan memasuki ruangan untuk cek.


Anak itu memegang perut Vallerie sembari berbicara dengan nada bicara yang masih belum terdengar jelas karena usianya.


“Dedek” ucapnya


Finley mengusap rambut anak itu dan mengangkatnya lalu mendudukannya di atas pangkuan Finley itu. Saat berada di pangkuan Finley anak itu menyebut dirinya Papa.


“Papa kamu mana?” tanya Vallerie kemudian


“ndak ada” jawab anak itu spontan


Vallerie dan Finley pun saling berhadapan sehingga ibu tadi keluar dari ruangan dengan pemeriksaan yang sangat cepat.


Nama Vallerie di panggil setelahnya, ibu tadi pergi membawa anaknya setelah berterimakasih pada Vallerie


dan Finley, walau anak itu tidak mau awalnya. Vallerie yang sebenarnya tidak tega melihat anak itu menangis setelah berpisah dengan mereka tapi mereka harus berpisah karena ini waktunya Vallerie melakukan pemeriksaan.


Saat memasuki ruangan dokter, Dokter kandungan itu terkejut melihat orang yang ingin melakukan pemeriksaan adalah seorang model terkenal dan seorang pengusaha terkenal. Dokter kandungan itu juga tengah hamil saat itu.


Setelah dipersilahkan duduk, mereka berdua pun duduk dan Finley melihat di atas meja dokter itu ada majalah pemotretan Vallerie dengan brand Gucci dan ada pula majalah bisnis dengan Finley sebagai model covernya.


“Silahkan duduk di ranjangnya kak”


Dokter itu pun, memulai pemeriksaannya yang berlangsung selama beberapa menit itu. Finley yang menunggu sembari melihat majalahnya sendiri. Sampai akhirnya, hasil pemeriksaan mereka keluar dari print dekat meja dokter itu.


“Selamat atas usia kandungan yang sudah seminggu kak Vallerie”


“terima kasih dok, permisi” ujar Vallerie setelah semuanya selesai.


“kak, Boleh minta tanda tangannya” ujar Dokter itu sebelum mereka meninggalkan ruangan itu.


Vallerie pun kembali duduk di meja dokter itu sembari tersenyum dan memberikan tanda tanganya di foto majalahnya itu pada dokter itu, setelah meminta tanda tangan pun dokter itu meminta satu hal lagi kepada mereka berdua.


“Kak Finley nya boleh elus perut saya enggak sekali aja” pinta dokter itu


Finley yang melihat ke arah Vallerie melihat Vallerie sedang menahan ketawanya dan melihat ke arah Finley


sembari mengangguk, tanda mengizinkan Finley melakukan hal yang di minta oleh Dokter kandungan itu.


Setelah selesai Finley buru- buru keluar dari ruangan itu sebelum dokter itu meminta hal lain lagi kepadanya.


“Permisi dok” ujar Vallerie sembari keluar menyusul Finley


“Terimakasih kak” sorak Dokter itu lalu memanggil pasien selanjutnya


Vallerie dan Finley pun pergi ke tujuan mereka yang selanjutnya yaitu butik karena Vallerie ingin membeli baju


bagus untuk menghadiri pernikahan sahabat baiknya dengan Abang tirinya itu.


Selama perjalanan, Finley sesekali melihat istrinya di kursi sebelah sembari senyum – senyum bahagia. Padahal Vallerie tengah tidur di mobil itu.


Sampai mereka tiba di depan butik, Vallerie belum juga bangun dan Finley sama sekali tak berniat membangunkan istrinya itu. Ia menurunkan kursi Vallerie agar Vallerie dapat tidur dengan nyaman dan Finley juga menyelimuti Vallerie dengan jaket yang ia kenakan. Sampai hari menunjukkan pukul 3 sore, barulah Vallerie terbangun.


“ini dimana? Jam berapa sekarang” tanya Vallerie langsung saat baru bangun dari tidurnya


Vallerie melihat jam tanganya yang menunjukkan pukul 3 sore.


“kenapa enggak bangunin aku?” tanyanya


“Masa aku tega sih” jawab Finley


Vallerie langsung mengembalikan posisi kursinya dan mulai bermake up lagi agar cepat pergi untuk memilih baju untuk pergi ke pernikahan.


Setelah mereka selesai membeli baju di butik itu, mereka melanjutkan perjalanan ke tempat pengacara Harris


yang jaraknya agak lumayan jauh dari butik tadi. Mereka pergi untuk menjemput hadiah pernikahan Levi.


Malam hari telah tiba, semua orang telah berdatangan ke gedung pernikahan Levi dan Amanda yang dimana banyak sekali orang – orang berbadan tegap menghadiri pernikahan itu karena ini adalah pernikahan seorang jenderal polisi.


Semua berkumpul bersama di sana, Egi dan Vika yang sudah menikah beberapa bulan lalu berkumpul dengan Finley dan Vallerie juga Naufal.


“sampai kapan gue jomblo” sedari tadi kata itu keluar dari mulut Naufal


Sementara Naufal yang sedari tadi mengeluh akan nasih jomblonya, Finley malah memberitahu kabar bahagia tentang kehamilan Vallerie.


“Selamat sayang” Vika memeluk Vallerie


“Om Syam udah tau?” tanya Egi


“Papi orang pertama yang tau” ujar Finley


Semuanya pun tak percaya, karena Syam adalah orang terakhir yang mengetahui kabar ini sebab saat di telefon nomor Syam masih sibuk.


Mereka pun melanjutkan perbincangan dengan sangat berbahagia. Sampai acara salam menyalam kepada


pengantin. Giliran Vallerie telah tiba, ia membisikan sesuatu pada Amanda dan Levi.


“Gue hamil”


Saking bahagianya Amanda langsung memeluk Vallerie erat, begitu pula dengan Levi yang memeluk adiknya itu dan tak berlama – lama lagi Finley memberikan Map coklat kepada Levi.


“Hadiah pernikahan kalian” ujar Vallerie


Levi pun langsung membuka map itu saat itu juga, dan melihat isi map itu yang berupa sertifikat rumah dan tanah beserta dua buah mobil atas nama “Levi Dirgantara”.


“Kalian memang adik paling best di dunia ini”


Levi sangat berteriama kasih dan bersyukur atas semua kebahagian yang ia dapat selama hidupnya yang selalu di bantu oleh Harris.


Melihat kondisi Vallerie yang sedang hamil membuat mereka berdua harus pamit sebelum acaranya selesai dan itu di mengerti oleh seluruh rekan-rekan mereka.


Finley dan Vallerie yang telah sampai dirumah, duduk di kursi halaman belakang sembari melihat ombak pantai yang disinari oleh bintang dan bulan malam yang terang sembari meminum coklat hangat.


Mereka sangat bersyukur akhirnya hidup mereka kini tentram tanpa ada masalah yang datang menghampiri meski semua yang terjadi di masa lalu membuat mereka menerima sakit, kesal , kecewa dan senang pada akhirnya.


“Daddy, Mommy sekarang kalian sudah punya cucu. Kalian pasti sedang tersenyum diatas sana” ucap Vallerie


sambil menatap langit malam.


Finley memeluknya dari belakang sehingga Vallerie merasakan kehangatan dari tubuh Finley itu,air mata mulai menetes di pipi halus Vallerie sebagai tanda ia tengah bahagia memiliki berkah yang terjadi pada hidupnya.


“Apa kamu sudah merasa diberkati?” tanya Vallerie


“Ya, karena aku sudah memiliki semua yang aku inginkan, yaitu kamu dan anak kita” Finley tersenyum sembari mengelus perut Vallerie dengan kedua tangannya.


                                                                                     -TAMAT-


I CAN’T CONTROL MYSELF by @ca_sabrinaaa (INSTAGRAM)


TERIMAKASIH TELAH SETIA MEMBACA “I CAN’T CONTROL MYSELF” ,


JIKA ADA TANGGAPAN,SARAN ATAU MASUKAN SILAHKAN DM KE AKUN AKU :)


I LOVE YOU MY READER