
Sore hari itu, vallerie masih belum mengetahui apapun yang terjadi dihari esok. Tetapi semua persiapan bahkan gaun pengantin sudah ready sesuai keinginan vallerie seminggu lalu.
Di tengah teriknya matahari sebelum berganti senja, finley membawa vallerie ke apartement nya yang saat itu telah di hiasi banyak lilin dan bertaburan bunga di lantai, sepanjang pintu masuk hingga kebalkon apartnya.
Saat memasuki ruangan, finley menyuruh vallerie untuk masuk duluan dengan alasan mengambil cemilan tertinggal di mobil.
Vallerie membuka pintu begitu saja karena memang tidak mengetahui rencana finley. Setelah pintu terbuka, tak terduga betapa terkejutnya dan terharu nya vallerie melihat hal hadapannya tersebut.
Dengan langkah pasti vallerie mulai mengikuti jejak bunga-bunga yang ada di lantai tersebut lalu bunga itu berakhir di balkon dengan indahnya langit senja nan orange.
Di depan matanya saat itu hanya ada dua hal indah yaitu pemandangan senja dan sebuah cincin diatas meja kecil yang mengarah pada pemandangan indah itu.
Hal kecil menurut finley itu membuat mata vallerie mulai berkaca-kaca. Masih dengan posisi nya yang berdiri diam sembari menatap 2 cincin pernikahan di depan matanya, merasakan pelukan dari belakang.
Finley memeluk vallerie sembari berbisik karena tubuh vallerie lebih pendek dari finley membuat bisikian finley bisa terdengar jelas oleh vallerie.
“besok pernikahan kita” bisik finley
Sontak vallerie kaget mendengar perkataan singkat dari finley barusan. Vallerie pun berbalik sesudah mendengarnya.
“Besok” vallerie kaget
“kamu cukup siapin diri, gak perlu mikirkan apapun lagi” ujar Finley
Vallerie hendak mengeluarkan banyak pertanyaan lainnya. Namun, finley mengisyaratkan nya untuk berhenti bertanya dan memikirkan sesuatu.
Karena esok pernikahan mereka, mereka memutuskan untuk tidur lebih awal padahal hari masih menunjukkan pukul 7 lebih 15 menit. Terlebih lagi mereka memilih untuk tidur bersama di apartement finley tanpa memikirkan kalau gedung pernikahan mereka jaraknya lebih dekat dari rumah vallerie.
***
Sementara finley dan vallerie yang telah lelap tertidur di jam yang masih terbilang sore saat itu, Syam yang menginap dirumah Harris hari ini sibuk membahas pernikahan anak mereka yang dipercepat dua minggu oleh Finley tanpa alasan.
“anak itu kebelet nikah atau bagaimana sih” kini wajah syam malah berubah menjadi kesal
Harris hanya terkekeh melihat siklus perubahan papa rempong di depannya.
Di dalam tawa dan perasaan bahagia Harris untuk menunggu tibanya hari esok, ia menyimpan begitu banyak fikiran yang sama sekali tak masuk akal.
“bagaimana kalau aku menyusul istriku?” tanya harris tiba-tiba kepada syam yang terkejut mendengar pernyataan dari harris itu.
“hush, ngomong kok ngawur” jawab syam sembari menepuk bahu harris
“pikiranmu sudah melayang kemana-mana, lebih baik istirahat saja” sambung syam, menyuruh sahabatnya nya itu ke kamar untuk istirahat.
Dengan senyuman manis yang diukir harris di wajahnya sambil melangkah kan kaki menuju kamarnya. Setibanya di dalam kamar pikiran buruk harris mulai muncul lagi menghantui dirinya, entah ini sudah ditakdirkan atau direncanakan.
Melihat keadaan tenang diapartement finley dan keadaan aneh di kediaman harris, berbanding terbalik dengan keadaan di apartement athalla.
“walau akan menjadi seorang membunuh, gue gak masalah! Asal pernikahan itu bisa batal” Tegas athalla bertekad untuk dirinya sendiri.
Dari awal athalla memang hanya berniat untuk menjatuhkan finley saja, tetapi siapa sangka perasaan athalla juga mengarah ke gadis yang sama yaitu vallerie, calon istri finley dan juga mantan dari sahabatnya Alfi.
I CAN'T CONTROL MYSELF by @ca_sabrinaaa
jejakmu , motivasi ku :)