I Can'T Control Myself

I Can'T Control Myself
PENJAGA



Masih pagi sekali, saat Bibi masih menyiapkan sarapan. Levi menghampiri bibi untuk meminta sarapan nya terlebih dahulu karena ia ada shift pagi hari ini.


“untuk Levi dulu yang bi, Levi mau isengin Vallerie dulu” Levi terkekeh sembari berjalan menuju kamar Vallerie


Karena kebiasaan Vallerie yang tak biasa bangun pagi, Levi sering mengganggu tidur Vallerie hampir setiap saat ia ada shift pagi. Saat sampai di depan kamar Vallerie, Levi melihat Finley yang sedang berdiri di depan pintu kamar Vallerie itu bersama salompas di tangannya.


“kalau mau masuk, masuk aja kali. Anak nya pasti juga belum bangun” ucap Levi membuyarkan tatapan kosong Finley.


Lamunan Finley yang di kacaukan oleh Levi itu membuat Finley langsung menyerahkan salompas di tangan nya ke Levi dan berlalu pergi meninggalkan Levi.


“dasar aneh”


Levi pun membuka pintu kamar Vallerie yang kini tak terkunci lagi, dan betapa terkejut nya Levi mendapati


kamar Vallerie yang kosong tanpa ada Vallerie di sana.


“Bi, Vallerie kemana?” teriak Levi dari atas


Finley yang masih berada di tangga,  spontan berlari kembali ke atas. Sementara bibi juga ikut berlari menghampiri Levi. Keadaan rumah itu menjadi riuh di pagi hari.


Dara yang keluar dari kamar dengan santai sembari mengucek mata nya, malah tambah membuat orang semakin kesal dan panik pasal nya ia berteriak seakan itu rumah nya sendiri.


“berisik!”


Levi yang langsung menuruni tangga dengan emosi, menghampiri Dara.


“Ini pasti ulah lo! dan kalau numpang tolong tau diri!” ketus Levi


Dara yang merasa tertuduh padahal terbangun karena mendengar keributan di pagi hari sekali, tak terima dengan tuduhan Levi pada nya.


“gue salah apa lagi sih!” Dara balas membentak ke Levi


Sementara mereka berdua ribut, Finley menelefon seseorang untuk mencari keberadaan Vallerie dan mengerahkan beberapa orang untuk melindungi Vallerie.


“handphone nya di tinggal tuan”


Bibi memberikan handphone Vallerie yang ia temukan di laci meja , samping kasur Vallerie itu. Finley yang hendak melacak Vallerie melalui GPS nya,menghentikan gerakan nya.


“Arghhhh”


Sesuatu yang terlintas di pikiran Finley adalah Athalla, ia berharap di luar sana Vallerie tidak bertemu dengan


Athalla karena bila bertemu, sudah di pastikan Vallerie akan ketakutan hebat lagi apalagi setelah mengetahui kebenaran tentang pelaku pembunuhan itu.


Finley berjalan ke arah Levi dan Dara di bawah. Dara pun senang melihat nya sebab ia merasa akan mendapat


keadilan dari Finley. Tapi yang terjadi


“Sampai bukti itu enggak ada! Lo bakal tau akibat nya!” ancam Finley dengan nada sangat serius


Levi percaya Finley dapat mengatasi masalah itu sendiri asal pemikiran nya luas dan tak ke kanak-kanakan


lagi, yang mengkhawatirkan adalah sifat sering nya ia merasa kepada banyak orang.


Lalu Finley berjalan melewati Dara untuk mengambil jaket nya dan mencari keberadaan Vallerie di luar sana.


Sedangkan Levi harus pergi ke kantor untuk melakukan shift pagi nya.


                                                                                    ***


Vallerie yang pergi pagi- pagi sekali itu, pergi untuk bertemu dengan Amanda tanpa pamit sama siapapun. Ia sudah mengatakan akan tinggal di hotel busan berdua dengan Amanda.


“harus bilang sama Levi pokoknya” bantah Amanda .


Amanda sebenarnya tidak ingin menemani Vallerie tapi karena keadaan memaksa nya untuk pergi, Vallerie beralasan ingin menenangkan diri untuk mengikhlaskan semua kejadian yang menimpa nya.


“Lagian lo enggak sendiri lagi, Ada Levi abang tiri lo dan Finley suami lo”


Amanda mencoba berkali – kali untuk menyakinkan Vallerie, agar ia ingin tinggal disini tetapi Vallerie tetap


bersikeras ingin pergi bahkan ia mengatakan akan pergi sendiri bila Amanda tak ingin ikut bersama dengannya.


Karena itu, Amanda mengikuti keinginan Vallerie. Ia mengabari Levi akan hal ini melalui pesan sebab Levi tengah bekerja pagi hingga sore nanti.


“gue keluar dulu” ujar Vallerie pada pukul 8 pagi saat itu.


Alasan Vallerie untuk pergi jalan – jalan pagi. Namun, Amanda melihat sedari tadi kaki Vallerie seperti pincang


saat berjalan.


Amanda yang tak ingin terjadi apa – apa pada Vallerie itu dengan senang hati menawarkan diri untuk pergi ke


menemani Vallerie jalan pagi di pagi buta hari itu.


Langkah kaki mereka terhenti saat berada di taman kompleks Amanda yang se komplek dengan Vika dan otomatis juga sekomplek dengan Yera, tetangga Vika. Mereka bertemu dengan Alfi yang tengah berada di taman itu juga bareng Yera.


“Val? Gimana kabar lo?” tanya Alfi


Sontak ketiga perempuan itu kaget, mendengar pertanyaan Alfi yang seakan perduli kepada mantan pacar nya itu.


Yera menyeringai kesal, tak terima dengan sikap perduli calon suami nya pada Vallerie, musuh bebuyutan nya.


“Lo pakai pelet jenis apa sih, Sampai semua orang nyangkut sama lo” sinis Yera pada Vallerie saking benci nya


Saat itu, tak ada perlawanan dari Vallerie karena ia sudah cukup lelah menghadapi satu perempuan yang tak tahu malu tinggal di rumah nya.


Belum terjadi hal lain yang tak di inginkan di antara mereka. Sebuah mobil secara tiba – tiba berhenti di dekat mereka berempat, kemudian turun lah seseorang dari mobil itu.


“Abang ayo kita pulang sekarang” Feren yang baru turun dari mobil itu menyeret Alfi masuk ke dalam mobil


Yera tak tinggal diam, ia pun juga menahan tangan Alfi dan menatap tajam ke arah Feren. Karena tatapan seorang kaki tangan pembunuh itu menyeramkan menurut Feren, ia pun angkat bicara soal pembunuhan itu di depan keluarga korban juga.


“Dia kaki tangan pembunuhan om Harris” Feren berbicara cepat tetapi dapat di dengar secara jelas


Feren yang juga menunjuk ke arah Yera membuat semua mata tertuju pada Yera seakan Yera sedang dikucil kan di tengah keramain. Terlebih lagi Vallerie yang rasa ketakutan kembali setelah mendengar kata pembunuh.


“val, jangan gini” Amanda panik melihat sekujur tubuh Vallerie bergemetar hebat.


Alfi ikutan panik di buat nya, dan Feren pun mengambil tindakan untuk menelefon Finley. Sedangkan Yera mempunyai kesempatan untuk melarikan diri dari tempat itu.


Melihat Vallerie seperti itu, yang lain pun hanya memperdulikan Vallerie tanpa menghiraukan Yera yang sudah melarikan diri dari sana. Sementara mereka tengah panik, Finley juga tak mengangkat telefon Feren, mereka memutuskan untuk membawa Vallerie pulang karena Vallerie tak mau di bawa ke rumah sakit.


Setibanya di rumah, Vallerie yang sudah lumayan mendingan, tak mau memasuki rumah nya sendiri karena ia sedari tadi mengatakan busan, busan.


“mungkin dia butuh psikiater” ucap Feren tiba- tiba.


Bicara Feren yang seperti menyindir itu, membuat Alfi, abang nya itu memarahi nya di tambah Amanda yang tak terima Feren mengata – ngatai sahabat baik nya.


“lo yang butuh ketenangan” balas Amanda ketus


Feren pun dengan senang hati menyuruh mereka semua turun dari mobil nya,termasuk abang nya sendiri. Karena mereka tadi pergi kembali ke rumah menggunakan mobil Feren, mereka pun harus rela turun dari mobil itu.


“tau gini, gue ambil mobil aja ke rumah” Amanda makin kesal di buat nya.


“Lo juga sih, kenapa enggak bawa mobil” sambung Amanda pada Alfi dengan ketus nya


Alfi pun membelalakkan mata nya mendengar celotehan Amanda sedari tadi. Dengan mereka bertiga yang masih berdiri di  depan rumah Vallerie itu, memanggil Dara untuk keluar dari rumah tersebut.


“apaan dah ribut – ribut!” ketusnya


“Wah, ada lagi Cewek gila” balas Amanda ketus


Dara yang merasa malas mendengar mulut Amanda ngomong terus,  menghina Amanda dengan kembali masuk rumah dan menutup pintu rumah itu dengan keras.


Semakin lama, semakin membuat kepala Vallerie pusing , di tambah dengan keributan yang sedari tadi di


timbulkan. Terpaksa Vallerie berjalan memasuki rumah padahal ia yang awalnya menolak untuk pergi ke rumahnya


Setelah Vallerie memasuki rumah dan di susul oleh Amanda. Alfi memutuskan untuk pergi mencari Yera, karena ia sebenarnya tidak mengetahui rencana pembunuhan yang di rencanakan oleh Athalla, sahabatnya.


Kondisi tubuh Vallerie makin melemah, ia seharian ini berada di kamar nya bersama Amanda. Vallerie selalu


menolak semua hal yang berhubungan dengan rumah sakit, seperti Dokter, obat dan perawatan.


Amanda pun tak habis pikir dengan sikap sahabatnya yang berubah hampir 360 derajat dari biasa nya itu, semenjak hari kepergian Harris kondisi Vallerie semakin lemah dan juga Vallerie yang selalu cerewet tergantikan oleh Vallerie yang pendiam.


Hari semakin gelap, tetapi rumah itu masih terasa sepi. Sampai Levi pulang terlebih dahulu dan langsung menghampiri kamar Vallerie setelah melihat pesan dari Amanda tadi pagi.


“apa yang terjadi?” tanya Levi


Amanda berada di samping Vallerie yang sedang tertidur di kasur nya, malah berbalik bertanya pada Levi pasal seorang Dara yang bisa berada di rumah Vallerie tanpa punya ikatan apa – apa.


“sahabat bukan, saudara apa lagi” Amanda kesal


Levi tak memberikan jawaban atas pertanyaan itu, ia malah mengalihkan pembicaraan dan bertanya tentang


keberadaan Finley. Amanda yang juga emosi pada Finley terhanyut dalam pembicaraan mengenai Finley itu. Finley yang sedari pagi tidak ada kabar nya, bahkan dengan handphone nya yang aktif tapi tidak mengangkat salah satu pun orang yang menelefon nya. Membuat semua orang kesal terhadap nya.


 


 


 


 


I CAN’T CONTROL MYSELF by @ca_sabrinaaa (INSTAGRAM)


Jejak mu , semangat ku :)