
Finley kini sedang duduk di kursi Yera pada ruangan Yera dengan menghadap ke jendela. Karena Yera sedang menikmati makan siang di luar kantor membuat Finley menunggu cukup lama di ruangan nya itu.
Waktu yang berlalu pun melebihi waktu makan siang semestinya, Yera sangat telat beberapa puluh menit dari karyawan biasa nya.
Yera yang memasuki ruangan nya setelah 45 menit berlalu, langsung terkejut melihat orang yang duduk di kursi nya itu adalah Finley.
“ad- ada perlu apa?” tanya Yera seketika gugup
“ngapain kaget ngelihat bos Lo di perusahaan nya sendiri?” Finley balik bertanya
Melihat wajah Yera yang masih kebingungan sendiri membuat Finley enggan berlama-lama berada di ruangan itu.
Finley berdiri lalu berjalan mendekati Yera dengan tatapan datar. Yera memperhatikan Finley cukup lama sembari tersenyum berharap hal lain yang di pikiran nya terjadi. Namun, memang benar Finley menyudutkan Yera ke dinding.
Tindakan Finley yang awalnya tak menakutkan bagi Yera kini berubah menjadi menyeramkan, Yera awalnya mengira Finley akan kembali lagi kepada nya. Kini menjadi sangat takut sebab Finley membisik kan satu kalimat.
“kasih tau gue, Lo kaki tangan siapa?” bisik Finley yang kemudian menatap mata Yera dengan tatapn membunuh
“gue enggak ngerti maksud Lo” jawab Yera memalingkan wajah nya
“Oke, Lo lihat aja malam ini” ucap Finley meninggalkan ruangan itu
Seketika Yera membuang nafas dan mulai panik lagi sambil mencari – cari handphone nya di seluruh ruangan kerja nya itu, saking panik dan frustasi nya Yera bahkan menghamburkan barang – barang di atas meja nya juga mengeluarkan semua isi tas nya.
Sementara itu, Finley pergi ke ruangan Naufal. Di ruangan itu ada Vika dan juga Egi, mereka kini tengah berkumpul membahas perilaku tak habis pikir dari sahabat lama mereka, Samuel.
“gue enggak nyangka ***** bisa – bisa nya tu orang” ketus Naufal penuh rasa kesal
“gue lebih enggak ngerti sama sahabat kecil gue” sambung Vika
“lebih kasihan mana sama Finley yang di tinggal Istri nya pergi kencan sama musuh suami nya?” Egi ikutan menyahut.
Tatapan mematikan Finley mengarah tepat pada Egi, Egi kemudian menjawab nya dengan terkekeh dan kini tatapan Finley kosong tanpa sedang memikirkan sesuatu.
Melihat itu, Vika memarahi Egi yang bercanda nya keterlaluan sehingga membuat Finley yang sudah memiliki
banyak pikiran menjadi bertambah pemikiran nya.
***
Vallerie yang kini masih bersama dengan Athalla sedang menyatap makan siang karena Athalla memaksa nya
untuk makan sebelum sampai ke tempat tujuan mereka.
Athalla melihat Vallerie tanpa ada semangat menyuap satu per satu makanan nya, hal itu membuat Athalla
semakin merasa salah tetapi tak bisa mengungkapkan semua hal yang dimana kehidupan nya juga terancam.
Semakin melihat Vallerie, rasa suka Athalla juga semakin besar tetapi rasa suka itu di dampingin dengan
rasa bersalah yang sangat besar bahkan melebihi besar nya rasa suka.
Dan selama makan itu pula handphone Athalla terus berdering
“angkat siapa tau penting” ucap Vallerie yang masih fokus pada piring makanan nya
Athalla yang mendengarkan perkataan Vallerie itu, langsung melihat handphone nya. Isi handphone nya
Athalla bingung mengapa Yera menghubungi nya lagi setelah beberapa minggu ini mereka tidak contact-
contact kan. Beberapa saat ia merasa telefon itu tak penting sampai pikiran aneh menghantui nya.
“ayo kita pergi sekarang Val”
Athalla menarik tangan Vallerie yang memang sudah selesai makan. Mereka ingin melanjutkan perjalanan
sesuai tujuan di awal tadi, dimana Vallerie mengajak Athalla untuk pergi menemui pengacara Daddy nya.
Setiba di tempat pengacara Harris, Athalla memutuskan untuk menunggu Vallerie di lobby sembari mencoba
menghubungi Yera karena merasa sangat di hantui oleh pemikiran nya sendiri.
Vallerie yang kini telah bertemu dengan pengacara Daddy nya mulai membicarakan masalah yang menjadi
pikiran nya akhir – akhir ini.
“om kaget, tiba –tiba kamu bilang mau kesini tapi om juga senang akhirnya kamu bisa keluar rumah daan
menghirup udara segar” ujar pengacara Harris itu sembari celingak – celinguk mencari seseorang.
“Val pergi sendiri om” kata Vallerie yang mengerti pengacara itu mencari seseoorang.
Pengacara itu hanya tersenyum dan mereka pun mulai membicarakan hal – hal mengenai perusahaan.
Vallerie mulai bertanya tentang penerus perusahaan Harris Groups dan juga isi surat wasiat yang sudah di tinggalkan oleh Harris di dalam brangkas nya.
“untuk masalah perusahaan tidak bisa om ceritakan ke kamu Val kalau kamu ingin tau tanyakan saja pada
Finley” ucap pengacara itu sembari tersenyum
“kalau masalah wasiat tentu saja semua harta akan di tinggalkan pada kamu, semua atas nama Vallerie
dan juga kamu telah di percayakan kepada suami mu dan juga mertua mu” sambung pengacara itu lagi.
Vallerie yang mulai salah paham dan makin berpikir semua isi pesan dari orang tak di kenal itu tak salah.
Dengan wajah datar vallerie membungkuk memberi salam pada pengacara Harris itu, tanda pamit pergi.
“om harap kamu tidak salah paham Val” guman pengacara itu
Sementara Athalla di parkiran sedang menunggu Vallerie sembari bercakap melalui telefon dengan Yera.
Bahasan mereka di telefon sangat serius karena ini mengenai pembunuhan dan secara tidak langsung Athalla yang selama ini jadi dalangnya, tidak mengetahui banyak kaki tangan di belakang nya tanpa ia sadari.
“GUE ENGGAK MINTA BANTUAN LO!” Athalla murka di parkiran basecamp yang sepi itu
Namun, Vallerie keluar lebih cepat dari perkiraan athalla. Tak sengaja mendengar percakapan via telefon itu.
I CAN’T CONTROL MYSELF by @ca_sabrinaaa (INSTAGRAM)
Jejak mu , semangat ku :)