I can see you

I can see you
part 49



Kepalanya seakan pecah, berputar-putar layaknya roller coaster. Hani memejamkan matanya, padahal mereka sudah berada di rumah, tapi entah mengapa perasaan takut dan cemas masih menguasai mereka.


"Ini sangat buruk..." Lirih Elvano saat melihat kondisi ketiga orang di hadapannya, apalagi kondisinya yang juga tidak dapat di bilang baik.


"Maafkan aku..." Tubuh Hani gemetar, perasaan bersalah menghantui pikirannya, dia hampir saja mengorbankan teman-temannya sendiri hanya karena rasa penasaran, benar-benar jahat.


"Sudahlah, istirahat dulu...nanti kita bicarakan lagi." Tanpa menunggu respon Hani, Azka langsung merebahkan dirinya di atas karpet dan menutup wajahnya dengan sebelah tangan, berharap rasa sakit di tubuhnya hilang setelah dia bangun tidur nanti.


Reyhan mengambil posisi rebahan di sebelah Azka, mencoba memejamkan matanya juga, pikirannya sangat kacau sekarang, sehingga dia memilih untuk menjernihkan pikirannya dengan tidur.


Tak berapa lama, Azka dan Reyhan terlelap, sedangkan Hani hanya diam memperhatikan kedua temannya itu, sampai Elvano duduk di sebelahnya dan menyentuh bahu Hani.


"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Elvano, ekspresi wajahnya menunjukkan perasaan khawatir yang kentara, Hani yang melihat hal itu hanya dapat tersenyum kecil, dan sadar saat melihat luka di dahi elvano.


"Pastikan keadaan mu dulu, baru tanyakan keadaanku...yang benar saja." Hani berdiri dari duduknya, berjalan menuju dapur dan mengambil kotak putih, membawanya ke tempat Elvano dan temannya berada.


Mengambil posisi duduk di hadapan Elvano, perlahan membersihkan luka dan memberikan obat serta menempelkan plester di sana, walaupun posisi mereka sangat dekat, Hani hanya terpaku pada luka dan menghiraukan tatapan Elvano yang mengarah padanya.


Setelah mengobati luka elvano, Hani beralih pada luka Azka yang lukanya terdapat di bagian lengan, terlihat dalam dan menganga, entah bagaimana Azka bisa tertidur pulas dengan luka seperti itu, yang pastinya terasa berdenyut sakit.


Luka Azka sudah terbalut rapi, hani memperhatikan wajah polos kedua temannya itu, hampir saja dia mengulang kesalahan yang sama, mencelakai temannya.


"Istirahatlah El, kamu bisa istirahat di kamar tamu atau di sini, aku mau ke kamar dulu ya..." Hani tersenyum kearah Elvano yang sekarang mulai mengambil posisi tidur di sebelah Reyhan, dan Hani langsung melangkah ke arah kamarnya.


•••••


Hawa kamar Hani terasa dingin, langkahnya mengarah ke kamar mandi, ditatap wajahnya di depan cermin dan menyingkap rambut panjangnya memperlihatkan telinganya yang mengeluarkan darah yang sudah kering.


Perlahan tangannya membersihkan darah yang mengering itu, walau masih berdengung tapi untung Hani masih dapat menahannya, setidaknya dia tidak ingin membuat temannya cemas akan keadaannya.


"Sshhh...apakah ada yang luka?" Saat Hani mengguyur tubuhnya dengan air, rasa perih langsung menjalar di seluruh tubuhnya, seakan tubuhnya tergores-gores.


Seakan tidak sanggup menahan perih, Hani menyudahi ritual mandinya dan berjalan keluar dari kamar, memakai pakaian santai.


"Ya ampun...." Hani menutup mulutnya saat melihat luka cakaran di sekitar bahu dan lengannya, bagaimana mungkin luka itu bisa berada di tubuhnya? Dia bahkan tidak dapat merasakan nya tadi, sangat menakutkan.


"Berhati-hatilah, Hani." Hani mengerutkan dahinya saat mendengar ucapan Kevin, padahal dia belum mengatakan apapun, dan Kevin langsung mengatakan hal yang sulit dia mengerti.


"Apa maksud mu?"


"Aku dalam perjalanan ke tempatmu, usahakan kamu tidak keluar rumah...mengerti?" Ucapan Kevin bukannya mengusir rasa penasarannya, malah membuat Hani semakin kebingungan, satu yang dia ketahui sekarang, dia dalam bahaya.


"Baiklah." Hanya itu yang dapat Hani jawab, dan Kevin langsung mengakhiri panggilannya.


•••••


Hani menyelimuti ketiga lelaki yang tertidur pulas di atas karpet, setelahnya Hani melangkah menuju dapur dan menyiapkan makan malam.


Walaupun perasaannya tidak enak, Hani tetap mencoba bersikap seakan tidak terjadi apa-apa, dengan cekatan Hani memasak makanan sederhana, dan menyusun rapi di atas meja makan.


"Perasaan apa ini?" Hani menggesek tangannya ke arah leher, hawa tubuhnya memanas membuatnya tidak nyaman dengan dirinya sendiri, dan hari juga mulai gelap menambah kesan horor di sekitar rumahnya.


Seakan tidak ingin berlarut akan perasaan tak menentu, Hani langsung melangkah mendekati ketiga temannya dan menggoncang tubuh mereka.


"Rey Azka El...ayo bangun." Azka lebih dulu membuka matanya, mengusap wajahnya dan tak berapa lama Reyhan dan Elvano menyusul.


Meraka makan dengan keheningan, seakan tidak ada topik yang ingin di bicarakan, apalagi melihat wajah pucat Hani yang seakan tidak ingin di ganggu oleh hal apapun.


"Soal tadi...lebih baik kita bicarakan besok saja, aku ingin istirahat." Ucap Hani dan meninggalkan meja makan, menimbulkan tanda tanya besar pada ketiga temannya.


"Hani terlihat aneh..." Gumam Reyhan saat Hani sudah benar-benar hilang dari hadapan mereka.


"AAAKKKHHH"


Baru saja Azka, Reyhan dan Elvano selesai merapikan piring kotor, suara teriakan yang sangat keras terdengar bergema dari arah kamar Hani, apa yang sebenarnya terjadi? Dan suara siapa itu? Sebab itu, tidak terdengar seperti suara Hani.


•••••


Bersambung...