
elvano berdiri di dekat jendela kamar Hani menatap langit yang terlihat agak mendung,Hani hanya memperhatikan tanpa melakukan apapun.
"tadi aku melihatnya lagi,pria paruh baya itu dengan sangat jelas tapi sayang aku sama sekali tidak mengenalnya."ucap elvano tanpa menoleh sedikitpun pada Hani.
"wajah itu terlihat tidak asing."ucap elvano lagi.
Hani sedang duduk di atas ranjangnya dengan menekuk kakinya keatas dan menyelimutinya, memandang elvano yang memunggunginya.
"kamu tak dapat mengingat apapun?"setelah sekian lama berdiam diri barulah Hani dapat mengeluarkan suaranya.
"itu yang membuatku frustasi,aku seakan kehilangan ingatanku."dia mengacak rambutnya kesal.
"jangan di paksakan,kami akan mencoba mencari tahu."Hani melihat elvano yang sekarang sudah melihat kearahnya dan mereka sama-sama tersenyum.
"baiklah, terimakasih Hani."
"iya,ku harap kamu cepat bangun dari koma mu."
"ku harap, sekarang kamu tidurlah."ucap elvano dan mulai menghilang dari pandangan hani.
👻👻👻
Hani Reyhan Azka dan elvano berjalan bersamaan menuju kantin,tentunya yang di lihat semua orang hanya Hani dan kedua temannya tidak dengan teman satunya lagi.
"ah nilaiku jelek sekali,entah apa yang salah dari jawaban ku itu?"Azka dari tadi tidak berhenti mengeluh,saat dia melihat nilainya yang menurut Hani dan reyhan tidak buruk sama sekali tapi Azka selalu saja mengeluh karena merasa nilainya lebih tinggi dari itu.
"nilai mu sudah sangat bagus azka."ucap Reyhan mulai jengah dengan tingkah temannya yang satu ini.
"aku masih di bawah kalian beberapa digit."jawab azka kesal menatap Hani yang sedang terkikik geli dengan tingkahnya.
"owh ayolah,nilai kami 97 sedangkan kamu 95, ketinggalan nya tidak jauh sampai-sampai kamu mengeluh seperti ini, berlebihan sekali."ucap Hani sambil menepuk-nepuk bahu Azka dengan kerasnya.sedangkan elvano sudah tertawa dari tadi melihat tingkah Azka yang ajaib menurut nya.
mereka sudah duduk di kantin dengan mangkuk makanan masing-masing,keadaan sekitar sangat ribut seperti pasar yang menjual barang obral,bayangkan bagaimana ricuh nya sekitar mereka.
begitulah keadaan saat perut lapar sudah menguasai siswa siswi yang ada di sekolah mereka,bagaikan pasar.
tubuh elvano langsung menegang saat matanya menemukan seseorang yang beberapa hari ini selalu mengunjunginya di rumah sakit,pria paruh baya yang terlihat di hormati oleh para murid.
melihat perbedaan raut wajah elvano membuat Hani mengikuti arah pandangan elvano dan alhasil dia hanya dapat menaikan sebelah alisnya heran.
"hei ada apa?"setelah berdiam mengikuti arah pandang elvano,akhirnya Hani mengeluarkan suaranya akibat penasaran yang memenuhi benaknya.
"pria itu orangnya."lirih elvano yang membuat Hani langsung menegang di tempat duduknya,pria itu adalah guru kebanggaan Hani yaitu guru matematika nya.
"kamu serius El?"tanya Hani menyakinkan pendengaran akan apa yang barusan dia dengar dari mulut elvano langsung.
"aku sangat yakin 100%."singkat elvano yang menatap Hani yakin.
👻👻👻
"selamat siang pak,ini tugas kami yang bapak minta."Hani menaruh beberapa buku di atas meja gurunya,dia diam-diam memperhatikan gurunya yang tersenyum ke arahnya sambil memeriksa buku yang baru saja di antarnya.
'sampai sekarang aku tidak yakin,bapak ini terlihat sangat baik.' batin Hani yang sekarang menggaruk tengkuknya tak gatal.
"kamu butuh sesuatu nak?"karena merasa di perhatikan,bapak Juan menyuarakan suaranya menatap Hani sambil tersenyum manis.
"e-eh tidak pak,kalau begitu saya permisi pak"jawab Hani gugup bagai maling yang ketahuan mencuri telivisi tetangga,dia langsung bergerak pergi keluar dari ruangan gurunya,pak Juan.
"aku harap dia bukan orang yang jahat."gumam Hani berjalan ke arah kelasnya.
👻👻👻
Hani duduk di pinggir ranjang rumah sakit di mana tubuh elvano terbaring lemah di hadapan matanya sedangkan arwahnya berdiri di sampingnya,aneh sekali memang.
"kau tertidur nyenyak sekali."gumam Hani menatap ke depan.
"ya sangking nyenyaknya itu membuatku sedikit takut."raut kesedihan terpancar jelas di wajah elvano yang ada di sampingnya,membuat Hani hanya dapat mengeluarkan suara helaan nafas panjang.
"kau benar el,ini menakutkan."Hani mengusap rambut elvano yang terbaring lemah,membuat elvano menatap penuh arti pada Hani tanpa sepengetahuan Hani.
"sepertinya kamu harus pulang,sudah mau gelap."ucap elvano mengalihkan matanya dari Hani kearah jendela yang menampilkan langit yang berwarna jingga.
"oh iya aku sampai lupa waktu,kalau begitu aku pulang dulu."Hani mulai berdiri,beranjak dari bangkunya menatap arwah elvano dan mengusap kepalanya seperti yang dia lakukan pada tubuh elvano tadinya.
"aku harap kamu dapat kembali."ucap Hani sambil tersenyum dan melangkah keluar meninggalkan elvano yang berdiri mematung sebab perlakuan Hani padanya.
baru saja Hani meninggalkan ruangan beberapa meter,dia menangkap siluet seseorang yang tidak asing baginya yang berjalan kearah ruangan elvano.
dengan cepat Hani langsung menyembunyikan tubuhnya di belakang tembok supaya tidak terlihat oleh seseorang tersebut.
perlahan tapi pasti Hani mulai mendekat saat seseorang itu sudah masuk kedalam ruangan elvano.
tepat di depan pintu ruangan elvano,Hani mencoba menajamkan pendengarannya yang mencuri dengar suara seseorang itu.
"saya masih berharap anda sama sekali tidak pernah membuka mata nak."ucap seseorang itu yang membuat Hani membekap mulutnya tak percaya.
"pak Juan."lirih Hani menatap gurunya dalam diam dengan mata tak terbaca.
👻👻👻
Bersambung...