
berita kematian brian menyebar dengan sangat cepat,banyak orang yang tidak menyangka akan apa yang terjadi pada Brian.
Brian termasuk orang yang namanya tak asing di sekolah mereka atau bisa di bilang dia cukup terkenal di sekolah itu.
pikiran Brian terlalu pendek membuat semua orang kecewa berat akan dirinya,keluarga Brian mulai memakamkan brian tapi anehnya wajah mereka semua terlihat datar tanpa ekspresi kesedihan sedikitpun,aneh tapi nyata.itu yang mereka pikirkan.
Hani dan teman-teman sekolahnya datang ke pemakaman Brian,dia sekilas dapat melihat seseorang yang terlihat persis dengan Brian tapi dalam hitungan detik saja setelah itu menghilang tanpa jejak.
ragu dengan penglihatannya,dia akhirnya menghiraukan hal itu dan kembali menatap makam Brian yang sudah di taburi bunga,mereka berakhir meninggalkan pemakaman Brian setelah berdoa untuknya.
👻👻👻
tiga orang sedang duduk santai di atas sofa dengan keadaan televisi yang menyala,tak ada yang berbicara hanya suara televisi yang memenuhi ruangan itu.
kringggg...kringggg
semua mata tertuju pada ponsel di atas meja yang berdering nyaring,tulisan bunda tertera di ponsel itu membuat si pemilik ponsel dengan cepat meraih ponselnya.
"halo bun."yang menjawab telpon itu adalah Reyhan,jika ada Reyhan pasti ada Azka dan Hani.
dia sesekali melirik kearah temannya di sela-sela menerima telpon dari bunda kesayangannya.
"sekarang Bun?oke Bun,iya baiklah."Reyhan berjalan kearah temannya dan langsung mendapatkan tatapan penuh tanya kedua temannya yang terlihat kentara ingin tahu segalanya.
"karena sekarang hari Jum'at dan besok Sabtu dan Minggu,itu berarti gak sekolah kan jadi..."
"owh ayolah langsung ke intinya saja,jangan terlalu bertele-tele."kesal Azka dengan memutar bola matanya tak suka.
"aku akan ke Jepang untuk dua hari ini."singkatnya,sedangkan kedua temannya hanya dapat menundukkan kepala pertanda tak rela temannya pergi jauh tanpa mereka berdua.
"ke kampung halaman bunda mu ya?"hani melipat tangannya menatap Reyhan yang berdiri di hadapannya.
"ya begitulah dan parahnya mereka sudah ada di kosan ku,meminta ku cepat pulang dan berkemas."gumamnya sambil menggaruk kepalanya tak gatal.
"ya sudah pergilah,tak baik membuat orang tua menunggu."ucap Hani mengibaskan tangannya pada angin membuat Reyhan hanya bisa menurutinya dan melenggang pergi kearah garansi.
di garansi terdapat dua motor dan satu mobil,satu motornya dan satu lagi motor Azka yang memang selama ini di simpan di sana sedangkan mobil adalah punya Hani yang selalu di simpan di rumah Azka,karena mereka selalu berangkat ke sekolah bersama dan Azka otomatis menjadi supir mereka.
👻👻👻
Hani dan Azka masih diam di depan televisi sampai ketika Hani berdiri membuat Azka langsung menoleh padanya.
"mandi panas gerah."sambil mengibaskan tangan ke udara seakan mengungkapkan betapa gerahnya dia.
Azka hanya duduk diam saat Hani sudah masuk ke kamar sambil bermain game di ponselnya.hampir 15 menit dia seperti itu,membuat tenggorokan nya merasa kering barulah dia beranjak dari duduknya.
dengan langkah gontai dia berjalan menuju kulkas yang ada di dapur,mengambil air mineral dingin di dalamnya tapi pada saat dia membalikkan badan sesuatu di bawah kolong meja membuat matanya terbuka lebar.
Azka langsung terduduk di depan kulkas dengan memejamkan matanya dan menutup telinga dengan erat seperti sangat ketakutan.
"H---HANI..HANI HANI HANI TOLONG."dengan sekuat tenaga Azka berteriak sampai urat-urat lehernya kelihatan menegang sangking takutnya.
di kamarnya Hani baru saja memakai pakaiannya dengan rambut Basah dan handuk yang di atas kepalanya,merasa terkejut dengan teriakan Azka membuat Hani langsung berlari terbirit-birit menuruni tangga dan melihat Azka yang duduk meringkuk ketakutan di depan kulkas.
"hei ada apa ha?kenapa?"berjongkok dan menepuk bahu Azka pelan menyadarkannya bahwa dia ada di hadapannya sekarang.
"di sana,di bawah meja...apa itu?"suara gemetaran Azka membuat Hani mengerutkan keningnya dengan penuh tanya tak urung melihat kearah tangan Azka yang menunjuk kolong meja membuat Hani mengerti kenapa Azka begitu ketakutan.
Brian duduk terlipat di kolong meja dengan posisi tangan memegang leher terkoyak lebar yang mengucurkan darah,sangat menyeramkan memang tapi jika Hani juga takut siapa yang akan mengusir Brian coba?
memberanikan diri Hani berjongkok di hadapan Brian menatapnya prihatin,brian memegang lehernya sambil membuka mulutnya seperti berusaha mengambil nafas.
"ada apa?"tanya Hani pelan pada Brian yang mulai melirikkan matanya kearah hani.
mulut Brian seakan ingin mengatakan sesuatu pada Hani,tapi seperti sebuah bisikan sehingga Hani tidak dapat mendengarkan suaranya,perlahan tapi pasti Hani mendekatkan telinganya kearah Brian.
"to---tolong tolong aku."Hani menatap Brian sambil menggelengkan kepalanya.
"tidak bisa bi."balas Hani.
"k---kenapa?kemarin kau menolong Boni untuk mengungkapkan kematiannya,la---lalu kenapa aku tidak bisa?"tanya Brian menatap Hani dengan wajah sedih tak terima.
"kau dan Boni berbeda,Boni di bunuh sedangkan kamu bunuh diri...aku tak bisa menolong mu."mereka berdua saling menatap,air mata Brian menetes dengan sendirinya karena perasaan penyesalan seakan memenuhinya.
"sa---sakit."ucap Brian terbata-bata dengan wajah yang semakin terlihat menyedihkan,seakan meminta Hani untuk mengurangi rasa sakitnya.
"tidak bisa."jawab Hani lalu mulai mengangkat tangannya membaca doa,lalu Brian menghilang dari hadapannya.
👻👻👻
Bersambung...