
Hani diam, bagaimana dia harus berkomentar dengan apa yang ada di hadapannya, saat sesuatu yang tak bisa di ungkap dengan kata-kata.
kondisi di sekitar Hani sangat berantakan, ada Kevin, azka dan reyhan yang tersenyum kaku di hadapannya, sedangkan Hani memegang kepalanya pusing.
"kalian sedang berperang atau apa?" wajah Hani memerah, apa lagi dia juga kesal dengan kedua makhluk yang juga ikut menertawakannya.
ini berawal dari aktivitas tiga lelaki yang bermain game sampai larut malam tanpa sepengetahuan hani, yang memilih tidur lebih awal.
berapa terkejutnya Hani saat keluar dari kamar dan melihat sekeliling rumahnya yang seakan tertimpa badai dahsyat, dengan tiga lelaki yang tertidur pulas serta sampah makanan ringan dan kaleng minuman berserakan di mana-mana, bayangkan berapa berantakan kondisi rumahnya Sekarang.
"aku tidak mau tahu, setelah aku mandi kondisi rumah sudah bersih seperti semula." tegas Hani dan berlalu meninggalkan ketiga lelaki yang hanya dapat mengiyakan titah Hani yang seakan tak dapat di bantah.
"ini semua karena kalian." setelah Hani tak lagi terlihat, barulah Kevin berani mengeluarkan suaranya sambil menunjuk-nunjuk wajah Azka dan reyhan, mereka memasang wajah tak bersalah.
"cepat bersihkan...aduh tulang leherku rasanya berpindah tempat." ucap kevin duduk santai memperhatikan Azka dan reyhan yang mulai merapikan kekacauan, sedangkan Kevin hanya menatap seakan memerintah.
"untunglah dia lebih tua dari kita, kalau tidak dia akan..." gumam Reyhan sambil mulai mengutip satu persatu kaleng minuman.
"haha, aku dengar loh..." bisik Kevin sambil mengedipkan mata di sebelah Reyhan, entah sejak kapan dia ada di sampingnya.
"cepat bersihkan, sebelum Hani meluncurkan bom atom." melihat Kevin dan Reyhan yang malah asyik saling menatap membuat Azka geli sendiri, apa lagi kekacauan di sekitar mereka belum di selesaikan.
"kerja cepat." ucap Kevin mulai bergerak.
👻👻👻
angin berhembus membuat pepohonan bergoyang ke kiri-kanan, elvano diam menatap nisan yang ada di hadapannya, sudah sangat lama dia tidak berziarah ke kuburan mamanya, dia terlalu takut untuk berkunjung.
dia benar-benar tak dapat mengekspresikan perasaannya sekarang, ada celah ketakutan yang mendalam akan sosok di dalam kubur itu, wanita yang dia kenal kejam semasa hidupnya.
"akhirnya aku datang berkunjung...mama." ucap elvano, wajahnya seakan tak menunjukkan ekspresi apapun, sangat datar.
"sungguh sebenarnya aku sama sekali tidak merindukan mu, hanya saja yang kemarin benar-benar membuatku tidak bisa tenang." matanya seakan menerawang kejadian yang kemarin, saat ucapan Kevin dan Hani berhasil membuatnya mengingat nama yang telah dia lupakan.
"jika benar itu memang mama...aku berharap, jangan menggangguku lagi, biarkan aku hidup tenang tanpa ada dirimu...mama Sarah." wajah elvano mengeras, kenangan masa lalu seakan berputar seperti kaset rusak yang di putar kembali di kepalanya.
"pergilah dengan tenang...mama." ucapnya, setelah berdoa barulah elvano pergi meninggalkan nisan yang bertuliskan nama sarah di sana, nisan mamanya.
👻👻👻
"maaf mama...sakit ma." bocah lelaki yang malang, berdiri menghadap tembok dengan kaki yang terus di pukul menggunakan rotan.
"anak sialan." ucap wanita itu dengan penuh tekanan.
"maaf." lagi-lagi hanya perkataan maaf yang terdengar memilukan.
"seharusnya kamu mati saja...siapa yang mengizinkan kamu hidup, mati sana mati..." dengan sekuat tenaga mamanya mendorong dan menendangnya dengan sangat keras, ya seharusnya dia mati saja...dia tidak tahu jika hidup akan menderita ini.
padahal tadi dia hanya ingin meminta di belikan kaos kaki baru, kaos kakinya yang lama telah tak layak di pakai lagi, padahal keluarga nya kaya, hanya saja dia tidak pernah merasakan kekayaan itu.
"kamu anak tak tahu diri...dasar anak pria ********...sialan hiks..hiks." selalu saja begini, setelah babak belur dipukuli, mamanya akan menangis dan memeluknya setelah itu pergi meninggalkan dirinya.
pria ******** itu adalah papanya, pria yang pergi meninggalkan mamanya pada saat sedang mengandung dan membuat mamanya melampiaskan semua hal yang berkaitan dengan papanya pada dirinya yang tidak tahu apa-apa.
"apa aku seharusnya mati saja..." mata bocah itu terarah pada pisau yang menancap pada buah, perlahan dia mengambil pisau itu.
tangannya menggenggam erat pisau yang sangat pas di tangan mungilnya, tangannya terangkat tinggi siap untuk menancapkan pisau itu pada tubuhnya.
"Mati..."
👻👻👻
"huh... huh...huh...sialan." keringat mengucur deras di seluruh tubuh elvano, mengusap wajahnya kasar, dia bermimpi tentang kenangan masa lalu yang benar-benar menyiksanya.
"sekarang apa yang harus aku lakukan?" elvano menatap nanar tembok kamarnya, dia benar-benar terlihat seperti orang linglung.
elvano Bergerak turun dari ranjangnya menuju kamar mandi, mencuci muka dan menatap pantulan wajahnya di depan cermin.
"seharusnya aku sudah lupa..." ucapnya lagi.
"apa yang harus aku lakukan?" elvano mengguyur tubuhnya di bawah shower, dia harus mendinginkan pikirannya karena percuma dia tidur kembali, jika dia terlalu takut untuk menutup mata dan mengulang masa lalu yang benar-benar menyiksanya.
"ENYAH DARI PIKIRAN KU SIALAN..."
Hani benar-benar berhasil membuka kenangan lama pada elvano, kenangan menakutkan yang ingin dia kubur dengan rapi, masa lalu yang penuh dengan luka dan penyiksaan.
👻👻👻
Bersambung...