I can see you

I can see you
part 48



Bayangkan saja jika kalian berada di posisi elvano sekarang, apa yang akan kalian lakukan? Langsung menyerang atau malah melarikan diri menjauh dari makhluk menyeramkan yang seakan ingin menerkam kalian?


Dan elvano merasa penuh kecemasan, seakan setiap langkahnya terasa berbahaya untuk di lakukan, dirinya menjadi orang bodoh seketika.


"Azka..." Elvano memanggil Azka yang terlihat linglung, untung saja masih ada kesadaran dalam dirinya, setidaknya dia tidak akan merasa bodoh sendirian, ada teman.


"Tolong mereka..." Lirih Azka merapatkan dirinya ke tembok, dia memang tidak dapat melihat makhluk tak kasat mata tapi dia harus akui jika dari awal dia merasakan perasaan tidak enak.


"Bekerja samalah, dalam hitungan ketiga kita serang mereka." Jawab elvano, tentu saja mereka harus berkerja sama, dia tidak akan sanggup menahan orang yang kesurupan sendirian, dia tidak sekuat itu.


Anggukan kepala Azka membuat elvano langsung menghitung, jantung nya berdetak dua kali lebih cepat, bukan karena jatuh cinta tapi karena rasa cemas yang berlebihan.


"Satu...dua...tiga!" Elvano berlari ke depan dan menerjang Reyhan, sedangkan Azka menarik kerah baju Reyhan ke belakang, tapi baru beberapa detik mereka berdua terpental menjauh, sialnya elvano langsung menggelinding ke bawah.


"Akhh..." Elvano mengerang kesakitan, kepalanya seakan berputar, ternyata dia terlalu menganggap enteng makhluk yang merasuki Reyhan.


"HANI!" bukan elvano yang berteriak, tapi Azka yang juga terluka dengan bersandar di kaki tangga.


•••••


Rasanya sangat sesak, gelap langsung menyapa saat Hani membuka matanya dan dia dapat merasakan dekapan yang sangat kuat di tubuhnya, apa yang terjadi? Perasaan apa ini? Sepertinya situasi tidaklah baik.


Hani mencoba merenggangkan dekapan di tubuhnya, menyentuh tangan yang mendekapnya di iringi membaca ayat-ayat suci.


'fokus Hani.' batin Hani, mencoba merapalkan setiap ayat yang dia hafal, dan Hani dapat merasakan dekapan itu mulai merenggang.


Tubuh makhluk itu memanas, ada sesuatu yang seakan merayap di tubuh makhluk itu, dan Hani tidak berhenti merapalkan setiap ayatnya.


"Keluar dari tubuhnya..." Bisik Hani sambil mengusap tangan Reyhan, layaknya sedang membuang sesuatu, yang sepertinya berhasil di lakukan.


"Hani..." Reyhan langsung melepaskan dekapannya, setelah sadar jika dia seakan mencekik Hani yang sepertinya mulai susah bernafas.


Hani langsung mengedarkan pandangannya, dan matanya langsung melebar saat melihat Azka dan elvano yang sudah berbaring nyaman di atas dan bawah tangga, oh sepertinya nyaman bukanlah hal yang benar saat Hani melihat goresan luka di sekitar tangan azka dan luka di pelipis elvano.


"Kita harus keluar dari sini, kamu bawa Azka dan aku bawa elvano..." Terang Hani dan langsung menuruni tangga mencoba menghiraukan tubuhnya yang gemetar, elvano masih sadarkan diri, hanya saja sepertinya kepalanya masih terasa berputar.


Secepatnya Hani menaruh tangan elvano di bahunya, mencoba memapah elvano yang sangat berat itu, tapi mau bagaimana lagi, tidak mungkin dia meninggalkan elvano di tempat terkutuk ini.


Reyhan mencoba mengendong Azka di punggungnya, dan tentunya langsung di tepis Azka, walau terluka dia masih sangat sadar, harga dirinya sebagai laki-laki bisa ternodai jika membiarkan dirinya di gendong begitu saja.


"Cepatlah Rey..." Panggil Hani saat melihat Azka dan Reyhan malah saling mendorong satu sama lain, benar-benar membuatnya semakin waspada.


"Cepetan, *****." Teriak Reyhan yang Alhasil, Reyhan hanya memapah Azka yang hanya diam tanpa berkomentar apapun, percayalah tak melihat makhluk yang di takuti oleh Hani, bahkan terasa lebih menyeramkan, karena kamu tidak tahu tempatnya dimana.


"Oh, Liliana...cepatlah." Hani melirik ke arah pintu, Liliana masih setia merentangkan kedua tangannya layaknya menjadi pagar penghalang.


"Setidaknya, biarkan kita keluar dulu." Sahut elvano sambil berjalan bersama menuruni tangga.


"Iya, keluar lah lebih dulu." Balas Liliana dengan lirikan mata singkat, Hani yang masih ragu malah memberhentikan langkahnya sambil menatap aneh ke arah elvano yang terkesan menjawab jawaban Liliana.


"Iya, kita memang harus pergi dulu." Apakah ini memang perasaannya saja? Atau memang elvono menjawab jawaban itu? Sangat aneh.


"Ba-baiklah..." Lirih Hani kembali melangkah menjauhi tangga, keluar dari gedung itu.


•••••


Bersambung...