
Hani membeku menempel dinding, tubuhnya di tahan satu makhluk yang berada tepat di hadapannya, makhluk yang sama persis dengan yang berada di kolam tadi.
Seluruh tubuhnya tak bisa di gerakkan, bahkan pandangan matanya hanya menatap lurus ke depan, apa yang terjadi padanya?
Dalam diam, Hani mencoba membaca ayat suci. Situasi sangat mencekam, sebab Hani tak dapat melihat sekitarnya. Apakah semuanya baik-baik saja atau malah sebaliknya?
Di lain sisi, Reyhan dan Azka menatap sanggar kondisi sekitar mereka. Jika di hitung ada sekitar lima mayat yang di paku menempel dinding dengan keadaan berdarah di bagian wajahnya, mayat itu semuanya adalah wanita yang sudah di pakaikan baju semerah darah.
Hani menempel tepat di tengah-tengah mayat itu, sehingga bentuknya seperti bintang, Hani malihat jelas makhluk di depannya bahkan sekarang nafasnya terasa sesak seakan-akan ada yang menutup pernafasannya.
Makhluk itu melebarkan matanya, mulutnya terbuka lebar dan Hani mulai merasa lemas, sepertinya makhluk itu menyerap seluruh energi di tubuh Hani.
Sedangkan dari penglihatan semua orang, Hani sedang mencekik lehernya sendiri. Wajah Hani perlahan memucat, cahaya matanya seakan meredup.
"Siapapun tolong Hani... makhluk apapun itu, teman Kevin tolonglah." Reyhan berteriak melihat yang di lakukan Hani, sedangkan Azka seakan mencoba menggapai Hani menempel cukup tinggi dari jangkauannya.
Pemilik hotel malah memusatkan pandangan matanya ke arah pria kurus dengan rambut berantakan sepanjang bahu, tubuhnya berkelok-kelok tak beraturan, apakah itu manusia atau bukan, dia sama sekali tidak dapat memastikannya.
Gillian dan Liliana saling menatap, sebenarnya mereka cukup sulit menembus pelindung yang di gunakan makhluk di hadapan mereka, maka dari itulah mereka mencoba berkali-kali, seperkian menit barulah Liliana dan Gillian menarik makhluk yang menahan Hani, setelah itu Hani merosot jatuh tepat di tangan azka, nafas Hani tersengal-sengal, mencoba menghirup oksigen dengan rakusnya.
Ternyata makhluk yang menahan Hani itu ada lima di ruangan itu, makhluk itu bisa di sebut seperti iblis ataupun makhluk panggilan, Gillian serta Liliana seperti tahu apa yang terjadi, mereka berdiri paling depan melindungi Hani serta teman Hani dari kelima makhluk berbahaya di hadapan mereka itu.
"Kau melihatnya Hani?" Bisik Gillian saat melihat Hani terpaku pada satu titik, sama halnya dengan pemilik hotel yang menatap titik itu.
Sosok pria yang tubuhnya terlihat tidak berdaging, tulangnya seakan berkelok-kelok tak beraturan, rambutnya berantakan dan mata yang terpejam serta pipi yang mencekung kedalam.
Pria itu duduk di atas ranjang dengan kedua kaki yang di silangkan, jari-jarinya yang bengkok memegang sebuah mangkok yang tak Hani ketahui apa isinya.
Hani terbungkam saat melihat tubuh pemilik hotel mendekat ke arah pria itu, tanpa mampu mencegah Hani hanya terdiam di lantai memperhatikan semuanya.
"AAKHHH." Hani memejamkan matanya saat mendengar teriakan pemilik hotel, Azka dan Reyhan tidak tahu apa yang terjadi, mereka hanya melihat jika pemilik hotel memegang matanya.
Cairan kental perlahan turun di sudut mata pemilik hotel, Reyhan maupun Azka menegang saat melihat pemilik hotel memegang sesuatu berbentuk bulat dengan darah yang menetes, itu bola mata.
"AKHHHHH." Satu lagi, mata pemilik hotel sudah tak berada di tempatnya, salah satu mata sudah menggelinding di lantai, berhenti tepat di hadapan Hani.
Tatapan Hani teralihkan pada pria yang duduk di ranjang, siapa sangka pria itu membuka matanya dan sialnya, rongga mata pria itu kosong, tidak ada bola mata di sana.
Hani menajamkan penglihatannya, tepat di tangan pria itu ada sebuah mangkok yang ternyata berisi kumpulan bola mata yang tergenang darah, sangat-sangat mengerikan.
Hani menutup mulutnya, keringat dingin mengalir di pelipisnya, tangannya sudah mencengkeram kedua tangan temannya yang terbungkam sama halnya dengannya.
Gillian yang baru sadar langsung melebarkan mulutnya mencoba menyerap energi negatif yang ada di ruangan itu, hal yang seharusnya tidak dia lakukan.
"TIDAK BOLEHHH..."
Liliana langsung melangkah mundur, kepalanya menggeleng dan dia berteriak sangat keras bahkan Azka maupun Reyhan dapat mendengar suara itu.
Terlambat, Liliana terlambat menghentikan Gillian yang tiba-tiba menghilang dari hadapannya, menghilang tanpa jejak.
Tanpa aba-aba Liliana juga ikut menghilang dari hadapan Hani, melihat hal itu Hani semakin gemetar.
Apakah Liliana dan Gillian melupakan mereka? sebenarnya apa yang terjadi? apa yang akan Hani lakukan selanjutnya?
Sekali lagi Hani menatap ke depan, memang setengah makhluk panggilan itu sudah hilang tapi sebagiannya lagi sedang menatap ke arah mereka bertiga.
Dan jangan lupakan pria yang duduk di ranjang yang sudah berdiri, yang tubuhnya seperti ranting pohon yang berkelok-kelok.
'apa yang harus aku lakukan?'
•••••
Bersambung...