
Hani duduk di tengah-tengah dua ranjang yang terdapat kedua temannya,kedua temannya sudah di pindahkan ke ruangan VIP atas permintaan Hani setelah operasi telah Lanjar di jalankan.
Hani sangat bersyukur saat mendengar kedua temannya telah sukses melakukan operasinya,ternyata yang hani lihat kemarin karena Reyhan sempat drop,tapi untungnya berhasil di selamatkan.
"ini sudah dua hari aku tidak mendengar suara kalian."ucap Hani memandang kedua temannya yang masih setia memejamkan mata.
seharusnya dia tidak ikut campur dalam urusan arwah,Hani selalu menyalahkan dirinya yang selalu ikut campur dalam urusan elvano yang membuat Reyhan dan Azka menjadi seperti ini.
dia sangat ketakutan jika hal-hal yang tak di inginkan terjadi pada kedua temannya dan sekarang kedua temannya malah terbaring tak berdaya karena dirinya.
pergerakan kecil dari tangan Azka membuat Hani langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri Azka menatapnya penuh harapan.
"Azka...kamu mendengar suara ku?" Hani menggenggam erat tangan Azka,sampai kedua mata itu perlahan terbuka. melihat hal itu,Hani langsung memencet bel yang ada di samping ranjang untuk memanggil dokter.
tak berapa lama beberapa dokter memasuki ruangan dan memeriksa keadaan Azka yang sekarang menatap kearah Hani
"dia berhasil melewati masa kritisnya, perlahan-lahan kondisinya akan mulai membaik."ucap dokter paruh baya itu pada Hani.
"terimakasih dokter, terimakasih."Hani menjabat tangan dokter sambil mengucapkan kata terimakasih dengan mata berkaca-kaca.
"lalu kondisi teman saya satunya lagi bagaimana dok?"tanya Hani dengan badan bergetar ketakutan.
"tenang nak,kita akan lihat perkembangannya nanti,kalau begitu saya permisi dulu." setelah dokter itu menghilang dari hadapannya,Hani hanya diam menatap pintu tempat menghilangnya dokter itu.
Hani sama sekali tidak berani berbalik,dia sangat takut menatap mata Azka.dia merasa sangat bersalah pada temannya yang membuatnya tidak sanggup menatap mata mereka.
"Hani..."suara lemah itu memanggilnya membuat Hani menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Hani..."suara itu kembali memanggil hani yang membuatnya langsung berjongkok dan menangis terisak-isak.
"maafkan aku...maafkan aku,ini semua salahku...maafkan aku Azka, seharusnya aku tidak melibatkan kalian,maafkan aku...aku sangat takut kehilangan kalian berdua." Hani benar-benar tidak berani menatap Azka,dia hanya berjongkok membelakangi Azka yang hanya menatap hani dengan tubuh yang terbaring lemah.
"ya Tuhan...Azka maafkan aku."ucap Hani dan menghambur ke pelukan sahabatnya,tubuhnya bergetar hebat karena menangis sedangkan Azka hanya mengusap rambut Hani pelan,ini pertama kalinya Azka melihat Hani menangis terisak-isak seperti ini,dan itu sangat menyakitkan bagi Azka, bagaimanapun juga Hani sudah dia anggap seperti adiknya sendiri.
"jangan menangis lagi,kami tidak apa-apa...ini bukan salah mu,ini salah penjahatnya." Azka mengendurkan pelukannya dan menatap Hani yang terlihat sangat mengenaskan di depannya.
"tapi seharusnya aku tidak melibatkan kalian."ucap Hani menatap mata sayu Azka yang mengerutkan dahinya.
"tindakan mu sudah benar...tapi lihatlah penampilanmu,kamu terlihat sangat... menakutkan."azka menatap Hani sambil sesenggukan merapikan rambut dan menghapus air mata yang menetes di pipi Hani.
"aku tidak peduli dengan penampilanku." jawab Hani menatap Azka sangat yakin membuat Azka menatapinya geli.
"pulanglah sebentar,rapikan penampilan mu dan bawakan perlengkapan yang sekiranya kami butuhkan,kamu tidak memberitahu keluarga kami kan?" Azka menatap Hani penuh selidik,dia sedikit waspada jika Hani memberitahu keadaannya pada keluarganya, bisa-bisa dia langsung di suruh untuk pindah ketempat orang tuanya,Azka sangat menghindari hal itu.
"aku akan pulang dan kamu tenang saja... semuanya aman terkendali."ucap Hani sedikit tersenyum.
"ah baiklah,kamu cepatlah pulang.mataku sangat perih melihat penampilan mu saat ini...dan soal Reyhan,aku akan menjaganya sampai kamu kembali."ucap Azka sambil melirik kearah Reyhan yang masih betah memejamkan matanya.
"kalau begitu aku pergi dulu."Hani langsung bergegas meninggalkan ruangan itu,lebih cepat pergi maka lebih cepat kembali,pikir Hani.
sedangkan Azka diam menatap Reyhan yang terbaring tak sadarkan diri di sampingnya,dia sebenarnya sangat takut kemarin,apa lagi saat Reyhan yang dengan nekatnya memeluk untuk melindungi Hani.
yah walaupun Azka akan melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan reyhan,hanya saja Azka tahu bahwa Reyhan memiliki rasa yang lebih dari yang dia rasakan terhadap Hani,jika Azka menganggap Hani adalah adiknya,maka berbeda dengan Reyhan karena Reyhan memiliki rasa melindungi seperti pria kepada wanitanya,Azka sangat tahu hal itu.
"kau sangat mencintainya kan Rey?" lirih Azka menatap sahabatnya dengan senyuman penuh arti.
"maka dari itu,cepat buka matamu dan nyatakan perasaanmu...bodoh." ucap Azka dan tak terasa sebulir kristal bening menetes di pelupuk matanya.
👻👻👻
Bersambung...