
Bagaikan es yang membeku, tubuh Hani terpaku pada ruang kosong di bagian mata pria yang sekarang melangkah tertatih-tatih ke arahnya.
Pria itu, menyeringai bagaikan terlihat sangat senang seakan mendapatkan mangsa yang menakjubkan, apa pria itu dapat melihat? Hani sama sekali tidak dapat berpikir jernih saat langkah demi langkah pria itu malah semakin mendekat dengan mereka.
Bagaimana keadaan Reyhan dan Azka? Mereka hanya menatap waspada pada sekeliling yang terlihat sunyi, sedangkan pemilik hotel sudah tak sadarkan diri di sudut ruangan.
"Kita harus keluar dari sini." Seakan menemukan kesadarannya, Hani menarik pakaian Reyhan dan Azka pelan, keduanya memberikan tatapan penuh tanya pada Hani tapi tak urung mengikuti permintaan Hani.
Hani memejamkan matanya, berharap tak melihat hal yang ada di sekitarnya, tangannya memegang erat baju kedua temannya yang tidak memberikan protes apapun.
Baru saja Reyhan dan Azka keluar dari pintu, sebuah sentakan keras membuat mereka langsung berbalik badan, pintu kamar itu sudah tertutup dan hani tidak ada bersama mereka, yang artinya Hani berada di kamar itu, sendirian.
"Lakukan sesuatu, bodoh." Teriak Azka sambil menggedor-gedor pintu kamar itu, yang sepertinya percuma untuk di lakukan.
"AAKKHHHH..."
Suara teriakan Hani membuat Reyhan dan Azka semakin panik, apa yang terjadi di dalam sana? Apa yang terjadi pada Hani?
👻👻👻
Hani terduduk di atas ranjang, bayangkan saja di depannya sudah duduk pria yang sangat menyeramkan tadi, anehnya tubuh Hani tak dapat di gerakkan, ada energi negatif yang seakan mengontrol pergerakan tubuhnya.
"Mata yang indah..." Suara itu seperti sebuah bisikan yang membuat Hani semakin merinding, entah apa yang dapat Hani lihat, biasanya jika dia berbicara dengan siapapun, pasti dia akan melihat matanya, tapi pria ini hanya memiliki ruang kosong di bagian matanya, sangat mengerikan.
"Menjauh dariku." Ucapan Hani tak di hiraukan, tangan bengkok itu menyentuh dagu hani yang bergerak menyusuri wajahnya, tangan pria itu berhenti di bagian matanya.
Bayangan pria itu mencongkel mata pemilik hotel tergiang-giang di benak Hani, oh ayolah itu sangat menakutkan, lebih menakutkan dari menonton film horor sendirian.
"Wanita yang jahat, kau membuat seseorang menjadi tersiksa karena mu...dia bisa saja bunuh diri karena masa lalu yang menyakitkan, sekarang dia sangat membeci mu." Bisik pria itu, suaranya membuat telinga Hani berdengung, kepalanya berdenyut sakit.
"Wanita jahat, dia sangat membeci mu." Seketika makhluk yang ada di ruangan itu, ikut mengatakan hal yang sama, bergema di seluruh kamar itu, ini seperti penyiksaan secara perlahan.
"AAKKHHHH..." Hani menggelengkan kepalanya ke kiri dan kanan, seperti ada yang menetes di telinganya, apa itu? Apakah Telinga mengeluarkan darah? Kenapa rasanya sangat sakit?
"Hahahaha....matii." bisikan semakin menjadi-jadi, seakan mereka berteriak padanya dengan nada tinggi, padahal suaranya seperti bisikan tapi terasa sangat menyiksa.
"HENTIKANNN..." teriak Hani, suara Hani seakan teredam, suara tawa di sekelilingnya bermunculan dan saling bersahutan.
"Aku mohon tolonglah..." Rasa perih menjalar di sekitar tubuh Hani, dentuman di telinganya perlahan mengores gendang telinganya, rasanya seperti ada benda tajam yang menusuk-nusuknya bertubi-tubi.
"LARI HANI..." Hani tersentak saat mendengar sebuah suara menyelusup menembus kesadarannya yang awalnya mulai menipis, ternyata Liliana sudah menepikan pria menakutkan tadi.
Entah bagaimana caranya Liliana melakukan itu, tapi Hani sangat bersyukur, setidaknya dia dapat mengundur kematiannya untuk sekarang ini.
Secepat yang dia bisa Hani mencoba berdiri dari duduknya, tubuhnya perlahan mulai bisa di gerakkan, tangannya menutupi telinga yang berdengung layaknya ada keributan di dalam telinganya itu.
Setelah Hani menggapai pintu dan membukanya, hani langsung terjatuh bersamaan dengan dua orang yang ikut terjatuh menimpanya.
Reyhan dan Azka terkejut bukan main, tanpa bisa di tahan tubuh mereka ambruk menimpa Hani yang sekarang merintih kesakitan.
"Kita harus pergi dari sini..." Lirih Hani, yang masih di himpit kedua temannya itu, seakan sadar akan yang terjadi, Reyhan bangkit dari rebahannya dan menolong Hani untuk berdiri.
"Ayo keluar dari sini." Melihat kejanggalan dari pergerakan Hani yang hampir saja limbung membuat Reyhan langsung menggendong Hani di depan tubuhnya.
Dalam keadaan setengah sadar, Hani teringat akan Liliana yang masih berada di dalam ruangan terkutuk itu, matanya melirik pintu yang masih terbuka, ternyata Liliana sedang mengarahkan tangannya untuk mencegah makhluk itu mendekati mereka.
"Cukup Liliana, waktunya pulang." Lirih hani, dengan hilangnya kesadarannya.
👻👻👻
Bersambung...