
Azka dan Reyhan langsung melangkah mendekati Hani yang bergetar karena menangis, Kevin yang melihat hal itu hanya menatap sambil mengusap wajahnya kasar.
"bisakah kau tidak berteriak?" ucap Kevin menatap elvano menantang, padahal dia yang memancing duluan, hanya saja dia tidak mungkin membiarkan hani terus-menerus ketakutan akan makhluk yang bernama Sarah itu.
"jelaskan!" tekan elvano dengan menatap Kevin dan Hani menuntut penjelasan.
"akan aku jelaskan, tapi bukan sekarang." Kevin langsung menuju ke arah hani yang sudah berada dalam rangkulan Azka dan reyhan yang akan membawa Hani keluar dari kamar elvano, Hani sama sekali tidak menatap kearah elvano, entah mengapa dia tidak berani melakukannya.
"aku bilang jelaskan, ya jelaskan!!" Hani yang mendengar ucapan Elvano yang menuntut itu membuatnya yang awalnya melangkah keluar langsung menghentikan langkahnya.
"apa yang harus aku jelaskan el? tidak bisakah kamu memahami apapun yang dia dan aku ucapkan? aku rasa kamu mengerti." lirih hani, dia sama sekali tidak menatap kearah elvano yang mengerutkan dahi seakan mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Hani.
"keluarga mu yang membunuh ibu ku?" tuduh elvano menatap Hani Penuh tanya dan tidak percaya, sedangkan Hani yang mendengar hal itu langsung mengepalkan kedua tangannya.
"sudahlah, Kamu tidak tahu apapun." Kevin langsung menarik tangan Hani keluar dari kamar elvano, dia tidak tahan lagi melihat wajah Hani yang matanya kembali berkaca-kaca.
π»π»π»
"aku sudah bilang tidak ingin berbicara dengannya kan?" baru saja membuka pintu rumah, Hani langsung menyembur Kevin dengan kemarahannya.
"maafkan aku, aku kira dia..." Kevin tidak melanjutkan ucapannya saat melihat makhluk yang bernama Sarah berlari ke arah hani, Sarah memunculkan aura gelap, aura pendendam.
"LILIANA, GILLIAN TAHAN DIA..." teriak Kevin saat Sarah berlari sangat cepat, Gillian dan Liliana yang mendapat perintah itu langsung melompat menahan Sarah yang bertindak di luar kendali.
ternyata Kevin tertipu, Sarah yang dia lihat tadi sudah membohongi nya, Sarah sangat pandai menyamar sehingga Kevin terkecoh hanya dengan tampang memohon yang di tunjukkan padanya, Kevin benar-benar ceroboh.
"ada apa?" tanya Reyhan saat melihat tatapan tajam Kevin pada satu titik yang kosong jika dia melihat menggunakan matanya.
"sudahlah kita tidak usah ikut campur Rey, kita tidak seperti mereka." bisik Azka pada Reyhan yang menatap khawatir pada Hani yang sekarang mundur dan bersembunyi di belakang Kevin.
"kau masih membutuhkan arwah itu Hani?" pertanyaan aneh meluncur dari mulut Kevin, apa maksudnya dengan 'membutuhkan', jelas saja selama ini Hani ketakutan, dari mana dia dapat menyimpulkan kata membutuhkan setelah sekian lama dia selalu dihantui?
"apa maksud mu?" Hani terus menatap Sarah yang mencoba mencari celah untuk lari dari kurungan Gillian yang terlihat seperti lingkaran hitam.
"apakah kau tahu apa yang aku benci Hani? arwah pendendam." ucap Kevin, Hani langsung melirik Kevin yang seakan memberi isyarat pada Gillian yang tiba-tiba tersenyum sinis pada Sarah.
"mungkin kah?" seakan mengetahui maksud dari ucapan Kevin, Hani langsung melebarkan matanya saat melihat tindakan Gillian selanjutnya.
Gillian adalah sosok yang banyak di takuti arwah-arwah penasaran, begitupun dengan Liliana. dan yang hebatnya mereka dapat menyerap arwah pendendam dan melemparnya ke tempat yang seharusnya.
Gillian dan Liliana termasuk arwah yang bersahabat dengan manusia, mereka arwah yang mati secara tak wajar sehingga membuat mereka masih berkeliaran di dunia, tapi tenang saja mereka bukanlah arwah yang berbuat jahat, mereka kebalikannya. menyingkirkan arwah yang melakukan tindakan melampaui batas dan merugikan manusia, bukankah mereka hebat?
"bagaimana aku menjelaskan kepada elvano nanti?" tanya Hani menatap kevin berkaca-kaca, dia mulai merasa bersalah pada elvano sekarang saat melihat ibu elvano tersingkir begitu saja di hadapannya.
"selesaikanlah dengan cara manusia, jangan libatkan makhluk yang telah tiada, lagian itu masa lampau dan kau tidak bersalah, apa yang kau cemas kan?" ucap Liliana panjang lebar dan melayang mendekati Kevin.
"kapan kita kembali Kevin?" bisik Liliana tepat di telinga Kevin yang masih dapat di dengar Hani.
"kau benar lili, bukankah tugas ku telah selesai di sini?" Kevin tersenyum lebar menanggapi ucapan Liliana, lalu bagaimana dengan Hani saat Kevin pergi? artinya dia harus menjelaskan sendiri pada elvano setelah kekacauan yang Kevin buat di rumah elvano, kau bercanda?
"lalu elvano? kamu yang membuatnya mengetahui hal itu." tekan Hani menatap Kevin meminta pertanggungjawaban akan tindakannya.
"bukankah sejak awal itu memang masalah di antara kalian berdua, jangan libatkan aku, setidaknya aku yakin kau bisa menyelesaikannya."
"tapi aku..."
"ceritakan saja kebenarannya Hani, apapun yang kamu ketahui tanpa ada yang di tutup-tutupi." Kevin menepuk pundak Hani layaknya seorang kakak yang menenangkan adiknya, Hani yang di perlakukan seperti itu, tidak lagi mengeluarkan protes apapun lagi dan membiarkan kevin menjauh masuk ke kamar yang dia tempati.
"sebenarnya ini ada apa hani?" Hani menoleh, dia benar-benar lupa akan keberadaan kedua sahabatnya yang menatap bingung padanya, setidaknya jika Kevin tak lagi menetap, dia masih memiliki Azka dan reyhan, dua orang yang sangat berharga baginya.
"ah aku melupakan kalian, kalian pasti kebingungan ya?" Hani menggaruk tengkuknya tak gatal, dia sebenarnya merasa lega saat makhluk yang bernama Sarah menghilang di hadapannya, masalah nya berkurang.
melihat Reyhan yang menganggukkan kepalanya, berhasil membuat Hani tersenyum.
"akan aku jelaskan..." ucap hani.
Hani hanya tinggal memutar otak untuk menjelaskan dengan baik pada elvano, sehingga membuatnya tidak salah paham dan menilai buruk tentangnya.
π»π»π»
**Bersambung...
Mohon maaf lahir dan batin dari Dola Anggriani dan selamat menunaikan ibadah puasa, bagi yang menjalankannya...πβΊοΈ**