I can see you

I can see you
part 47



Liliana menoleh ke sumber suara, Hani ambruk tak sadarkan diri, untung saja Hani sudah berada di luar ruangan sehingga jauh dari jangkauan makhluk jahat di sekitar mereka.


"Bawa Hani keluar dari sini." Teriak Liliana, anehnya tidak ada respon apapun dari kedua teman Hani yang sedang sibuk menepuk-nepuk pipi Hani.


"Ck, aku lupa mereka tidak dapat melihat ku..." Liliana mengerahkan tenaganya, pintu ruangan itu tertutup dengan sendirinya.


Sadar akan situasi, Reyhan mengangkat tubuh Hani ala bridal style, sedangkan azka masih terkejut akan bunyi pintu yang menutup sendiri dengan kerasnya.


"Azka sadar, kita harus keluar dari sini." Kaki Reyhan menendang Pelan lutut Azka yang malah bengong.


"Ah...iya ayo." Sadar akan ke bodohannya, Azka mengikuti langkah Reyhan yang sudah berjalan meninggalkannya.


Di dalam ruangan, Liliana sudah kewalahan sendiri. Tubuhnya sudah melemah, tapi dia terus memaksakan dirinya, setidaknya dia harus bertahan sampai jarak Hani lumayan jauh.


"Aku akan meminta bantuan Hani..." Lirih Liliana dan menghilang dari ruangan itu.


👻👻👻


Seharian ini tidak ada yang dia lakukan, hanya berbaring di kasur dengan suara musik yang bergema di seluruh ruangan, sengaja dia hidupkan supaya hidupnya tidak terlalu menyedihkan.


Elvano bangun dari tidurnya, melangkah menuju kamar mandi dan mencuci wajahnya perlahan, wajahnya benar-benar mengerikan, seperti mayat hidup.


Tangannya mengambil handuk kecil yang tersudah tersedia di pinggir wastafel, mengelap wajahnya perlahan dengan langkah yang berjalan keluar dari kamar mandi.


Wusssshhh


Angin tiba-tiba bertiup pelan, menerpa wajahnya. Ada sedikit perubahan padanya, setelah dia pulang dari makam ibunya saat itu, dia tertidur dan terbangun dengan mata yang perih, pada saat itulah hal aneh terjadi padanya, dia bisa melihat arwah.


"Bagaimana ini? Bagaimana caranya aku menyampaikannya?" Seperti saat ini contohnya.


Menghiraukan makhluk yang barusan muncul di hadapannya, elvano kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur.


"Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak punya banyak waktu."


Suara-suara dari makhluk itu berhasil mengusik ketenangan elvano, tubuhnya spontan duduk dan menatap pergerakan makhluk itu dengan mata memicing tajam.


"Katakan apa mau mu?" Tanya elvano, jengah.


Mata makhluk itu melebar, mulutnya juga terbuka tak kalah lebarnya, apakah dia tak salah dengar?


"Kau bisa melihat ku? Aku ini arwah loh? Kok bisa lihat?" Pertanyaan beruntun dari Liliana membuat elvano menatapnya tak suka, ya makhluk itu adalah Liliana, yang entah kenapa malah nyasar ke tempat elvano.


Liliana menepuk kepalanya, dia lupa akan tujuan awal yang sangat penting, benar-benar tidak becus.


"Hotel Surya, lantai dua. Tolong selamatkan Hani dan kedua temannya, sekarang juga." Tanpa pikir panjang, elvano mengambil kunci mobilnya dan menarik cepat jaketnya yang menggantung di belakan pintu.


"Sial, kenapa tidak bilang dari tadi..." Umpat elvano dan berlalu meninggalkan Liliana yang menggaruk-garuk kepalanya.


"Namanya juga lupa..." Ucap Liliana pelan, dan menghilang dari sana, dia harus menolong Hani dulu setidaknya sampai elvano datang.


Liliana sampai di hotel Surya, alangkah terkejutnya dia melihat pintu kamar tadi sudah kembali terbuka, sayangnya dia juga tidak dapat melihat keberadaan Hani maupun Azka dan Reyhan.


"dimana mereka?" bagaikan angin, Liliana menyusuri sekitarnya, matanya melihat aura yang menguar di sekitar tangga darurat.


"lepaskan Hani sialan." itu suara Azka, Liliana menghampiri sumber suara dan melihat Azka yang mencoba melepas pelukan Reyhan dan malah terlempar ke atas, untung saja dia tidak menggelinding ke bawah.


"dia dirasuki?" Liliana menutup mulutnya, matanya melihat ke arah pintu di tangga itu, dan melihat pria menakutkan tadi ingin menghampiri mereka.


"makhluk sialan." lirih Liliana dan menghadang jalan pria itu dengan sisa tenaganya.


👻👻👻


Hotel Surya terpampang jelas di hadapannya, layaknya sedang bermain film laga, elvano berlari masuk ke dalam gedung. Seakan tak melihat lift, elvano ke lantai dua dengan menggunakan tangga darurat.


Sedikit lagi dia akan sampai, langkahnya terhenti saat melihat dua lelaki dan satu perempuan yang tak sadarkan diri, lelaki satunya duduk lumayan jauh dari lelaki dan perempuan itu.


Masalahnya, ada pria yang berdiri di pintu tangga. Menatap mereka layaknya akan menerkam, untung saja ada Liliana yang menahan tubuh pria itu sehingga tidak dapat bergerak melewati pintu tangga.


"Kalian baik-baik saja?" Elvano menghampiri Reyhan yang memeluk Hani erat, ada rasa tidak suka menghampirinya tapi dia menepis pikiran itu karena sekarang bukanlah waktu yang tepat.


Reyhan mengangkat kepalanya, mata elvano langsung membulat. Wajah Reyhan sangat pucat, urat-urat di wajahnya terlihat jelas, seperti Reyhan di kesurupan.


Sedangkan Azka seakan terpaku melihat ke arah elvano, sepertinya Azka masih sadar tapi terlihat jelas sorot ketakutan di wajahnya.


Mata elvano melirik Hani, bagaimana caranya dia membebaskan hani dari pelukan Reyhan? Sedangkan mereka berada di tangga yang membuat pergerakan mereka sangat terbatas.


"Sialan." Lirih elvano, ini bukanlah masalah yang mudah.


👻👻👻


Bersambung...