I Am The Villain In This Life!

I Am The Villain In This Life!
Chapter 09



Vincent tidak bisa tidur karena pikirannya tertuju pada supir gadungan yang tidak lain adalah Wibroe, serta rencananya untuk mengorek informasi dari Hanna mengenai proyek Lippo yang akan dia rebut dengan perantara Wim.


Meski Hanna tidak begitu diperhatikan oleh ayah atau ibu apalagi kakaknya. Vincent tahu betul Jonghan—kakek Hanna—cukup perhatian padanya.


Tiba-tiba ditengah pikirannya, dia teringat kembali dengan istri dari orang yang mengadopsi dirinya.


"Kenapa Jonghan tidak membenci Hanna? Padahal dia-lah alasan Bajingan itu menikahi ****** pembunuh Nyonya!" ujar Vincent dalam hati kesal.


...----------------...


Feyn Fasterholdt, CEO Lippo Grup, atau biasa dipanggil Fey mempunyai istri bernama Yugwan.


Fey memutuskan untuk mengadopsi Yohan, seorang anak laki-laki yang mempunyai warna mata berbeda antara kanan dan kiri di Panti Asuhan Gunver, meski usia Yohan saat itu hampir memasuki usia dewasa.


Fey memilih mengadopsi Yohan bukan untuk mengangkatnya sebagai anak, akan tetapi dia melihat Yohan akan mampu menjadi salah satu 'anjing' terbaiknya.


Setelah menyelesaikan dokumen dan resmi mengadopsi Yohan, Fey membawa remaja berusia 15 tahun itu ke kediaman keluarga Fasterholdt. Disana, Yugwan mengganti nama Yohan dengan nama yang menurutnya lebih bagus yakni Antonio Fernandez.


Sejak diadopsi oleh Fey, hidup Antonio tidak lebih baik dari kehidupannya di panti asuhan. Dimana selain menerima pelatihan yang sangat keras bagai di neraka, dirinya juga kerap menerima perlakuan kasar dari Tuannya, Fey.


Namun di saat yang sama, sang Nyonya yang tidak lain adalah Yugwan memperlakukan Antonio sebagaimana mestinya manusia.


Tapi karena hal itu pula, Nicolas—anak pertama Fey—sangat membenci Antonio yang lebih tua 6 tahun darinya.


Dia tidak segan-segan memfitnah Antonio agar sang Ayah memukulnya. Namun beruntung, Fey jarang mendengarkan ocehan putranya itu karena aduan Nicolas dirasa tidak masuk akal.


Yugwan memiliki fisik yang lemah, sehingga dia kerap jatuh sakit. Antonio merasa kasihan dan tidak tega saat sang Nyonya yang terbaring sakit, sehingga dirinya kerap diam-diam melihat keadaan Yugwan dan sesekali merawatnya.


Sedangkan Fey, bukannya merawat isterinya, dia malah asik berselingkuh dengan wanita lain, Renata Skidnova.


Perselingkuhan mereka berjalan cukup lama. Antonio yang dibesarkan sebagai 'anjing' perusahaan tidak mempunyai hak untuk bicara. Sehingga dia hanya mampu diam, tanpa dapat mengatakan kebusukan Tuannya di belakang sang Nyonya.


Sampai suatu waktu, Yugwan yang tengah sakit sangat terkejut ketika seorang wanita hamil besar datang dengan percaya diri, meminta untuk dinikahi oleh Fey. Wanita itu tidak lain adalah Renata.


Rasa terkejut dan syok yang dirasakan Yugwan berubah menjadi serangan jantung yang saat itu juga mengantarnya pada ajal.


Belum kering kuburan Yugwan, dengan santai seolah tidak pernah terjadi apa pun, Fey menikahi Renata. Hal itu membuat Antonio geram, tapi segeram apa pun dia, dirinya tidak dapat melakukan apa pun.


Jonghan—ayah Fey—menolak dan tidak mengakui pernikahan mereka karena membuat nama keluarga konglomerat Fasterholdt tercoreng di mata pemegang saham serta investor Lippo Grup. Meskipun tidak sampai diketahui oleh publik.


Lalu beberapa bulan kemudian, seorang bayi perempuan lahir dan diberi nama Hanna Fasterholdt.


Melihat bayi perempuan haram yang tidak mengerti kesalahan ibu dan ayahnya, apalagi dia tidak mendapat cukup perhatian dari kedua orangtuanya membuat Jonghan sedikit iba. Karena itu dia mulai sedikit demi sedikit menerima sang cucu bungsu.


...----------------...


"Sebaiknya aku jalan-jalan untuk menyegarkan pikiranku." gumam Vincent seraya turun dari ranjang.


Dengan hati-hati dia membuka pintu. Setelah melihat situasi sepi, Vincent keluar pelan-pelan berjalan menuju taman belakang.


Dia memilih taman belakang karena tempat itu tenang, dan terdapat kolam ikan emas—hewan kesukaannya.


Ditengah perjalanan ke taman belakang, dirinya tidak sengaja melihat Wim dan Justine tengah berbincang di dekat kolam ikan.


Segera Vincent pun bersembunyi dibalik pot tanaman yang berukuran lebih besar dari tubuhnya.


"Apa yang mereka lakukan disana?" ujar Vincent dalam hati.


Pelan-pelan dia mengintip, berusaha menguping pembicaraan mereka berdua. Akan tetapi karena lokasinya cukup jauh, suara pembicaraan mereka tidak terdengar.


"Sialan! Tidak kedengeran!" ujarnya kesal dalam hati.


Vincent tidak sadar jika ada seekor ular di belakangnya yang tengah melata kearah dirinya.


Dia tahu bahwa dalam situasi berbahaya ini, dirinya tidak boleh bergerak sembarangan atau tiba-tiba agar sang ular tidak terkejut lalu mematuk.


Secara diam-diam dan tenang Vincent meraba-raba sesuatu di belakangnya untuk dijadikan senjata.


Dia berhasil meraih sebuah kayu, dengan pelan dan hati-hati ia menariknya. Beruntung kayu itu bercabang di bagian ujung.


Dengan pelan serta mata masih memandang ular itu, Vincent mengarahkan ujung kayu ke arah leher sang ular dan berhasil menjepit kepala ular itu ke tanah tepat sebelum dia mematuk.


"Hampir saja aku mati lagi!" ujar Vincent dalam hati bernapas lega.


Dia melihat sang ular menggeliat berusaha melepaskan kepalanya dari jepitan kayu.


Menurutnya hewan ular apalagi cobra memiliki insting untuk membalas dendam jika mereka disakiti, jadi Vincent berpikir harus membunuhnya. Segera dia meraih batu, lalu memukulkannya ke kepala sang ular.


Setelah kepala ular itu hancur, Vincent mencoba mengintip kembali. Ternyata Justine dan Wim tidak terlihat kembali, mereka berdua sudah pergi.


Vincent pun keluar dari persembunyiannya, berjalan menuju kolam ikan yang terletak di tengah-tengah taman.


Saat melihat ikan emas yang berenang-renang, membuat ia teringat pada sang Nyonya yang juga menyukai ikan emas.


Ada perasaan rindu di hati Vincent. Meski dia memanggilnya Nyonya tapi karena perlakuan Yugwan padanya begitu lembut, membuat Antonio memandang Yugwan sebagai seorang Ibu. Tanpa sadar Vincent menjatuhkan air mata.


"Aku bisa menangis juga rupanya. Ckck! Sudahlah Antonio! Ingat kembali tujuanmu!" ujar Vincent dalam hati sembari mengusap air matanya.


Dia berbaring di kursi taman melihat bulan purnama yang bersinar terang di langit malam.


Vincent memikirkan cara menyingkirkan kaki tangan sang supir gadungan. Tapi dia tidak tahu, apakah wanita yang dilihatnya itu seorang guru atau hanya menyamar sebagai guru.


"Aku bilang saja dulu pada Wim kali ya? Siapa tahu dia akan membantuku," ujar Vincent dalam hati seraya bangun dari posisi berbaring.


Begitu bangkit, Vincent terkejut melihat Wim tengah berdiri tidak jauh darinya, memandang dengan tatapan datar.


"Sejak kapan Wim berdiri di sana?! Sepertinya dia marah padaku." ujarnya dalam hati.


"Pa-Papa? Apa yang Papa lakukan disini?" tanya Vincent seraya turun dari kursi taman.


"Justru aku yang seharusnya bertanya, apa yang kau lakukan disini tengah malam? Ini sudah jam setengah satu Vincent, kau harusnya tidur di dalam," Wim berjalan mendekati Vincent.


"Ayo masuk." ucapnya sembari menggendong putranya itu.


"Aduh sekarang kau berat ya Vin." keluh Wim bercanda.


"Sepertinya dia tidak marah, mungkin aku bisa bicara sekarang," ujar Vincent dalam hati.


"Papa, aku melihat wanita di sekolah saat jam istirahat keluar dari kelasku, 1-B." ucapnya mengadu.


Wim berhenti berjalan, lalu menoleh ke arah putranya.


"Lalu?"


"Sepertinya dia yang mematikan GPS-ku." ujar Vincent dengan nada takut.


Dia sengaja membuat-buat nada bicaranya saat mengadu agar membuat Wim segera bertindak.


Wim tersenyum, "Vincent takut ya?"


"He em." ucap Vincent seraya memeluk manja pada sang ayah.


Tanpa bicara apa pun lagi, Wim berjalan kembali ke arah rumah. Karena respon Wim yang datar, membuat Vincent berpikiran dia tidak akan membantu dirinya.


"Aku terlalu berharap pada orang lain, seharusnya aku lakukan saja sendiri. Kepercayaan hanya akan membawaku pada penghianatan." ujar Vincent dalam hati.