
Sepertinya putra tunggal Jane tidak mendengar pertanyaannya, di karenakan ia bertanya dengan nada bicara sangat lirih.
Di sisi lain, setelah menjelaskan rencana yabg dia susun atas saran Bell, reaksi ibunya tidak begitu baik.
“Kenapa reaksinya datar begitu? Menyebalkan.” ujar Vincent dalam hati.
Wanita itu tidak sedih atau senang, melainkan hanya diam.
“Mama kenapa diam saja?”
“Tidak, hanya berpikir ternyata Vincent sangat pintar,” ujat Jane mengusap kepala putranya itu.
Bukankah seharusnya dia senang? Namun yang dirasakan oleh wanita itu malah sebaliknya. Rasa sesak di dadanya sangat menusuk hingga membuat hatinya terasa sakit.
“Apa aku tidak rela jika Vincent ikut andil dalam rencana kotor itu ya,” ujar Jane dalam hati.
Tapi seketika rasa sesak itu berubah. Jika di pikir lagi, bukankah rencana itu memang untuk untuknya bukan?
“Mikir apa sih aku tadi,” ujarnya dalam hati terkekeh.
Melihat ibunya tiba-tiba terkekeh, membuat Vincent bingung. Apa yang di tertawakan olehnya? Apakah rencananya terdengar lucu?
“Kenapa Mama tertawa?”
“Ya karena kamu pintar sekali! Lebih dewasa daripada Mama! Nah selanjutnya, apa rencanamu?”
Vincent pun tersenyum. Akhirnya ibunya mempercayai serta tidak lagi memandangnya sebagai anak kecil, seperti yang sebelumnya.
“Rencanaku? Tentu proyek A&E Mall.”
“Bagus!”
Jane kemudian menggandeng Vincent untuk masuk ke dalam kamar. Ketika dia menidurkan putranya, sesaat setelah menyelimutinya Vincent tiba-tiba bertanya sesuatu yang cukup aneh.
“Mama, apa aku bisa percaya padamu?”
“Percaya? Tentu saja Mama percaya padamu. Memangnya kenapa?”
“Apa aku utarakan saja? Tapi B*jing*n itu saja menghinatiku, namun...” ujar Vincent dalam hati bimbang.
Dia ingat bisikan Bell ketika di Zona K, bahwa iblis itu menjamin keluarga serta orang yang bekerja dengannya di kehidupan ini, seluruhnya dapat di percaya. Bahkan Carlos sekali pun yang menurut Bell masih hidup.
“Temui dia, dia masih hidup. Seperti saat kau hidup, kali ini dia juga akan membantumu.”
Kalimat yang di ucapkan Bell terus saja terngiang-ngiang di telinganya.
“Carlos, bagaimana aku menemukannya? Tim Bruth dengan tim A bermusuhan,” pikir Vincent.
Ditunggu lama, namun Jane tidak kunjung menerima jawaban dari Vincent.
“Vincent kenapa diam terus? Mama menunggu jawabanmu,”
Vincent meringis, “Tidak apa-apa, hanya tanya saja hehe.”
----------
Beberapa waktu kemudian, karena konspirasi kematian keluarga Henningson serta Buston yang runtuh, membuat Lippo makin melemah sehingga harga sahamnya terus turun.
Lippo kalah dalam perundingan atau bisa dibilang 'lelang' area F tersebut. Pada akhirnya, pihak kontraktor memberikan Area F pada Xendra Grup.
Dengan di rebutnya proyek A&E Mall oleh Xendra membuat kerugian cukup besar untuk Lippo.
Kediamanan Keluarga Fasterholdt, ruangan Fey...
Dia berdiri didepan meja kerja, mengepalkan tangan dengan kuat hingga urat tangannya nampak menyembul. Rasa amarah terus membara di hati karena kalah dalam perebutan Area F.
“Xendra B*jing*n!” cacinya dalam hati,
Tidak lama, masuklah Renata menyeret Hanna yang menangis.
“Apalagi sekarang?!”
“Dia! Masih saja bergaul dengan bocah Xendra itu!” adu Renata.
Dengan masih menangis, Hanna berusaha melepaskan cengkraman Renata pada kerah baju yang dia kenakan.
“Xendra lagi! Xendra lagi! Kau bisa tidak, tidak usah menyebut-nyebut nama itu di depanku?! Aku sudah muak dengan mereka yang merebut proyek Area F!” bentak Fey.
“Di rebutnya proyek itu karena kau tidak mampu untuk meyakinkan pihak kontraktor!” bentak balik Renata menunjuk dada Fey, tanpa sadar dia melepaskan cengkramannya dari Hanna.
Hanna secara tidak langsung ikut mendengarkan kedua orang tuanya cek-cok. Xendra yang dibicarakan oleh kedua orang tuanya adalah perusahaan milik teman baiknya—Vincent.
“Mau di rebut pun aku tidak peduli, aku benci keluarga ini.” ujarnya dalam hati.
Memanfaatkan moment kedua orang tuanya ribut dan tidak memperdulikannya lagi, Hanna pun segera berlari ke luar ruangan.
“Hanna! Berhenti! Jangan malah kabur kau!” teriak Renata.
“Kau juga keluar! Keluar!” bentak Fey menunjuk arah pintu dengan napas terengah-engah menahan amarah agar tidak memukul Renata.
Tidak kalah Fey, Dengan wajah penuh amarah Renata keluar ruangan. Setelah istrinya pergi, Fey berjalan ke belakang meja lalu menjatuhkan diri ke atas kursi kerjanya.
Dia menutup mata, memegang kepala dengan kedua tangan. Perlahan dia mengambil nafas, lalu menghembuskannya.
“Dilain waktu aku tidak boleh kalah dari b*jing*n itu.”
...****************...
Meski jatuh ke tangan Xendra, Area F pun tetaplah dirikan sebuah Mall sesuai desas-desus yang beredar di masyarakat.
Namun, Mall itu dibangun dengan nama yang berbeda. Jika desas-desus menyebutnya proyek Mall A&E, sekarang bernama Xendra Mall dengan nama kepemilikan Vincent Hermentsmith dibawah naungan Xendra Grup.
Waktu pun berlalu, hari demi hari, musim demi musim, hingga tahun demi tahun...
Vincent kini telah berusia 20 tahun, dan memasuki dunia perkuliahan di bidang hukum.
Dia tercatat sebagai satu-satunya mahasiswa dengan nilai sempurna yang masuk ke universitas nomor satu dari seluruh universitas yakni Yarden Internasional University, menambah citra Xendra Grup semakin baik di mata khalayak umum.
Jam dikamar Vincent menunjuk pukul 10, pemuda berkaus putih yang duduk menghadap jendela itu tengah melihat ke dalam buku kecil sembari mengetuk-ngetukkan ujung pulpen ke bibir.
“Um efektifnya bagaimana ya,” gumamnya.
Ditengah kesibukan Vincent berpikir, ponsel yang ia letakkan diatas meja bergetar, Drrrttt!
Dia menoleh ke belakang, layar ponselnya memunculkan nama Hanna. Vincent meraih ponsel, menjawab telepon.
“Apa apa Hanna?”
“Vincent, maaf menghubungimu malam-malam. Tapi aku tidak tahu harus menghubungi siapa lagi, Hiks!” terdengar isak diujung telepon.
Vincent langsung bisa menebak bahwa Hanna tengah menangis, dan yang membuatnya menangis tidak lain adalah keluarganya sendiri, terlebih Renata.
Meskipun Hanna dilarang keras oleh ibunya agar tidak bermain dengan Vincent, namun kenyataannya hingga saat ini dia masih menjalan hubungan pertemanan dengannya meskipun secara diam-diam.
“Ada apa Hanna? Kenapa kau menangis?”
“Aku di usir oleh Mama, Hiks!”
“Kau sekarang ada dimana? Aku akan datang kesana,”
Tring! Pesan masuk. Ketika dibuka, itu adalah share lokasi dari Hanna.
“Aku akan kesana ya,”
Vincent menutup telepon, menyimpan buku agendanya kedalam laci lalu bergegas memakai mantel karena udara di malam hari sangat dingin menusuk tulang.
Di dalam mobil, Vincent yang tengah menyetir tiba-tiba terlintas suatu ide. Jika Hanna tidak lagi punya tempat tinggal, dan dia menawarkannya, gadis itu kemungkinan besar tidak akan menolak.
“Aku akan buat dia membuat kesepakatan denganku,” gumam Vincent tersenyum.