I Am The Villain In This Life!

I Am The Villain In This Life!
Chapter 54



Setelah merekam apa yang dia rasa cukup, Daniel menarik ponsel lipatnya, kemudian ibu jari anggota tim Bruth A yang bertugas sebagai pengawas monitor server hutan Klausal itu bergerak dengan cepat.


Daniel kembali melipat ponsel lipatnya yang berwarna hitam itu. Matanya menatap layar monitor di depannya, disamping suara berisik dari arah belakang, tempat anggota lain berkumpul.


Sesekali iris abu-abu Daniel melirik ke belakang. Jari telunjuknya beberapa kali mengetuk-ngetuk meja dekat keyboard, seakan dia tengah menunggu sesuatu.


Kedua matanya lantas menutup, alisnya berkerut. Dia bangkit dari kursi putarnya, berjalan ke pojok ruangan tempat dispenser air diletakkan. Daniel mengambil gelas, menuangkan kopi instan dan menyeduhnya dengan air panas.


Mata dengan sorot datar itu menatap air panas yang jatuh ke dalam lubang gelas dan perlahan menggenangi bubuk kopi di dalamnya. Daniel menutup katup, seketika air panas berhenti mengalir.


Dia mengangkat gelas itu, sedikit mengguncangnya agar bubuk kopi yang telah luruh dengan air panas tercampur rata. Ia menatap kumpulan orang yang masih berdebat satu sama lain.


Daniel mengehela napas, kemudian menyesap kopi panasnya. Pemandangan di sana, sungguh menarik. Padahal beberapa detik lalu, dia sempat mendengar mereka tenang, namun sekarang kembali berisik.


Mata dengan iris abu-abunya melirik ke satu orang yang ada di tengah-tengah keributan itu. Dia terus menatapnya, perlahan sorot datar itu berubah tajam.


'Sebentar lagi.' batin Daniel.


...\~\~\~...


"Putney sudah hentikan! Atau aku akan menembakmu!" ujar Endrew dengan nada menahan amarah. Jari telunjuknya bersiap menarik pelatuk pistol yang dia pegang.


"Tembaklah!" ucap Putney melotot. Dirinya muak karena seolah dia saja yang disuruh diam dan tenang. Padahal Farrell-lah yang pertama membuat masalah dengannya.


"Ayo tembak!" ujar lagi.


Alis Endrew sedikit berkerut. Mulutnya sedikit tertarik ke belakang. Meski dia hampir kehilangan kesabaran, tetapi ucapannya yang akan menembak Putney hanyalah gertakan semata. Dia tidak benar-benar ingin membunuh rekannya itu.


Peretas tim Bruth B itu menghela napas, kemudian menurunkan pistol yang dia todongkan ke arah Putney.


Endrew berbalik badan. "Lanjutkan saja pertengkaran kalian, saling membunuh dengan menembak pun aku tidak peduli lagi,"


Setelahnya dia berjalan ke kursinya dan menatapnya ketiga monitor yan menampilkan bahasa pemrogaman yang rumit itu.


Melihat sikap Endrew, tanpa diduga ketegangan serta keributan daru anggota lain pun berhenti. Ucapan Endrew seperti tamparan keras untuk mereka semua.


Putney yang berniat melirik kursi Endrew, malah tidak sengaja bertemu mata dengan Farrell yang secara kebetulan melihat ke arahnya. Baik Putney dan Farrell langsung membuang wajah mereka satu sama lain.


"Sudah bubar, kembali ke kursi masing-masing," ujar Jyul.


Mendengar itu, Putney langsung berjalan ke kursinya, diikuti dengan anggota tim Bruth B. Setelah itu barulah tim Bruth A juga membubarkan diri.


Disisi lain, Daniel yang sedari tadi memperhatikan mereka sedikit berdecak lidah. "Tcih, teaternya selesai," gumamnya.


Dia berjalan kembali ke kursi, meletakkan gelas berisi kopi di mejanya. Endrew yang duduk tidak jauh dengan kursi Daniel melihat itu. Dia cukup khawatir.


Bisa saja, kopi itu tidak sengaja terjatuh dan membasahi keyboard dan beberapa kabel yang terhubung dengan monitor atau motherboardnya. Hal itu akan merusak komputer Daniel.


"Daniel, kau bisa habiskan kopimu itu? Jangan meletakkannya di meja, nanti tumpah." tegur Endrew.


Daniel menoleh, kemudian tersenyum seperti seorang anal balita, "Ah Endrew, kau perhatian sekali padaku."


Daniel terkekeh dalam hati, 'Kesalahan kecil yang berakibat fatal ya.'


"Baiklah." ujarnya kemudian, mengangkat gelas kopi dan meminumnya sampai habis.


"Habiskan?" Daniel memamerkan isi gelasnya yang telah kosong, kemudian membuang gelas itu ke tempat sampah.


Dia pun kembali menoleh ke arah layar monitor, meninggalkan Endrew yang masih menatap dirinya.


'Dia memang setenang itu? Atau ... dia terlalu tenang. Perasaanku tiba-tiba tidak enak.' batin Endrew. Kemudian dia kembali menghadap monitor. Tanpa ia sadari, iris abu-abu itu sedang melirik ke arahnya.


...**********...


Sementara itu di rumah keluarga Hermentsmith, Vincent sedang berada di meja makan bersama kedua orang tuanya.


Meja makan itu sepi, hanya ada jajaran makanan di atasnya. Tanpa ada perbincangan yang sesekali terdengar.


Kejadian Justine dan Ester memberi jarak antara ayah dan ibu Vincent. Kedua iris hitamnya melirik ke arah Wim. Dia ingin bertanya sesuatu, tetapi sepertinya waktunya tidak tepat.


'Nasib LY-ku bagaimana?' tanya Vincent dalam hati. Sudah cukup lama metode pembayaran itu disematkan dalam ponsel Xendra. Namun, keadaan Lippo baik-baik saja. Seolah, LY dan gerbang pembayaran Lippo hanya berjalan beriringan.


Dia menghela napas, kemudian berdiri. Rasa steak yang dia makan terasa tidak enak, padahal daging yang digunakan adalah daging yang bagus.


"Vincent, mau kemana?" tanya Jane melihat putranya berdiri dan hendak meninggalkan meja makan. Matanya melirik piring Vincent, makannya tidak habis.


'Apa dia juga marah padaku karena Justine? Sekarang, suami dan anakku membenciku? Memang benar sih, karena aku pula Vincent juga terluka waktu itu. Ibu macam apa aku ini!' batin Jane. Hatinya terasa tak karuan.


"Aku mau ke taman belakang," jawab Vincent melirik ke ibunya, setelah jeda cukup lama. Dia pun berjalan meninggalkan meja makan.


'Benar! Dia membenciku!' batin Jane menguatkan dugaannya sendiri, setelah menerima lirikan putranya yang tajam.


'Vincent ... maafkan Mama! Tolong jangan benci aku! Kau adalah alasan aku hidup,' lanjutnya membatin. Mata Jane berkaca-kaca. Air mata yang beberapa hari berusaha dia tahan, kini tidak dapat dia tahan lagi.


Dia berdiri, menutup mulut dan bergegas berlari ke kamarnya. Wim melihat itu hanya diam. Dia sebenarnya tidak marah pada Jane, dia hanya marah pada Ester.


Jika janda itu tidak menghasut Jane untuk mencari putrinya, Justine tidak akan mati. Vincent pun tidak akan terluka.


'Yah, tapi sekarang dia sudah mati. Apa Jane masih sedih karena aku membunuh janda itu? Dia mendiamkanku sejak dari Wood House,' batin Wim.


Kemudian, sesuatu terlintas dalam kepalanya. Vincent yang mengatakan ingin ke taman belakang, seperti sebuah kode. Berbekal pemikiran seperti itu, dia bangkit dari kursi, kemudian berjalan ke arah taman belakang.


Tanpa disuruh, pelayan yang melayani saat keluarga konglomerat itu makan, segera bergegas membereskan meja makan itu.


...**********...


...Rest in peace, Justine Plaregue. (Beberapa gambar visual ketua tim Bruth itu)....