
“Antonio, kenapa kau malah disini? Kau tak mau menemui adikmu?”
Bell terus-terusan bicara dengan kalimat yang sama, membuat telinga terasa Vincent panas. Dia heran, kenapa iblis itu tak kunjung pergi seperti beberapa tahun lalu.
“Kenapa kau terus disini?” tanya Vincent. Dia menghentikan aktivitasnya mengecek Pistol Smith and Wesson 357 Magnum-nya.
“Pertanyaanmu seolah kau menyuruhku untuk pergi,” sahut Bell. Dia kemudian menampakkan diri, menyentuh pundak Vincent dari belakang dan menggelayut manja padanya.
Vincent hanya diam. Dia merasakan tangan Bell mulai kemana-mana. Mulai dari meraba pundak hingga lama-kelamaan sampai ke wajahnya.
Dia pun mengalihkan wajah ke kiri, menghindari tangan Bell serta kuku panjangnya.
Menyadari hal itu Bell pun berhenti, kemudian menyenderkan kepala di punggung Vincent yang secara tidak langsung menempelkan telinganya. Dengan jelas ia dapat mendengar suara detak jantung pria itu.
Ritme detakannya terdengar biasa. Bell pun tersenyum. Memang pria satu itu, dia benar-benar teguh. Meskipun dia berusaha keras untuk menggodanya, Vincent tetap saja tak tergoda.
Bell terus mendengarkan suara detakan itu. Alasan dia bisa berada di alam fana lebih lama. Manusia yang mengikat perjanjian dengannya ini telah dewasa, sehingga sumber energinya untuk berada di alam fana juga lebih besar.
Sementara Vincent, dia tak menghiraukan sikap manja Bell. Dipikirannya saat ini, dia meragukan perkataan Bell tempo hari. Iblis itu mengatakan bahwa dia punya hadiah untuk dirinya.
Namun, hadiah atau kejutan yang dia sebutkan hanyalah sang adik yang siuman beberapa menit saja kemudian kembali jatuh koma.
‘Apa itu dapat disebut hadiah?!’ batin Vincent kesal sendiri.
“Aku mendengarmu loh Antonio,” sahut Bell dari belakang Vincent.
Vincent melirik ke belakang, kemudian kembali melihat pistol yang memang sedang dia pegang. Kejadian di Yellowgreen dan di Wood House terlintas di pikirannya. Semuanya kacau.
Dia yang berencana akan memberi tahu sendiri sang ayah secara perlahan mengenai kematian Justine malah menemukannya sudah berada di rumah kayu itu.
Entah kenapa Wim bisa sampai di sana. Tidak hanya Wim yang datang, tapi Jane bahkan Ester. Seolah mereka semua diundang ke Wood House, sehingga datang secara bersamaan.
Hal yang diduga Vincent pun terjadi. Alasan hanya dia sendiri yang akan memberitahu Wim adalah ia sudah menduga ayahnya itu akan marah besar. Selain ketua tim, Justine adalah teman Wim. Bisa dibilang dia adalah sohib Wim.
Benar saja, begitu mengetahui Justine tewas, tanpa babibu Wim meraih pistol dibalik jaketnya dan langsung menembak Ester yang tengah menangis karena melihat putrinya—Rebecca terbujur kaku.
Dia menganggap penyebab Justine tewas adalah Ester.
Jane yang melihat bawahan sekaligus temannya tewas di depannya pun terkejut. Dia menghampiri Ester, namun karena Wim menembak dua kali tepat di dahi Ester, CEO bayangan CJ&E Entertainment itu telah tewas seketika.
...“Jika Justine kehilangan nyawanya, maka dia pun juga harus. Karena dialah Justine mati. Jane, kau dan aku harus merasakan hal yang sama.”...
Vincent yang ada disana hanya mampu terdiam, dia tidak sedih Ester mati, namun tindakan ayahnya yang membunuh bawahan setia Jane di depan mata Jane sendiri, menurutnya itu cukup keterlaluan.
...\~\~\~\~\~\~\~\~\~...
‘Padahal Justine mati karena aku,’ batin Vincent menutup matanya. Ingatan di Wood House saat itu benar-benar mengganggu dirinya.
Namun ditengah itu, sesuatu tiba-tiba terlintas di pikiran Vincent. Wim, Jane dan Ester, mereka bertiga datang bersamaan, seolah ada yang memberi tahu mereka.
Padahal saat di kabin hutan Yellowgreen, dirinya sudah memberi perintah pada anggota tim Bruth bahwasanya biar dia sendiri yang memberi tahu Wim, untuk menghindari kekacauan.
Akan tetapi, jika seandainya hanya Wim seorang yang datang dan Ester maupun ibunya tidak datang, kemungkinan Ester tidak akan tewas. Lalu siapa yang memberi tahu Ester dan ibunya? Apa mungkin anggota tim Bruth B yang ikut di misi itu?
Sementara itu di ruangan Creative Crew, anggota tim Bruth masih tidak menyangka jika beberapa anggota mereka telah tiada. Tiba-tiba ...
“Ini terjadi karena kalian, tim B tidak becus bertugas!” seru Farrell menggebrak meja, menatap tajam ke arah tim Bruth B yang duduk di meja mereka.
“Apa maksudmu?! Kau menyalahkan kami?!” sahut Putney dengan nada yang tak kalah tinggi dengan Farrell.
Dia tidak terima dikatakan tak becus oleh orang yang bahkan tidak berhadapan langsung dengan tim A Lippo saat itu.
“Ya memang tidak becus, buktinya Hermit, Houtman, Martin semuanya tewas!”
Putney yang tersulut emosi pun turun dari meja dan menghampiri Farrell yang sedang duduk di meja seberang.
“Katakan sekali lagi!” Dia menarik kerah baju Farrell.
“Woy tenanglah Putney,” ujar Bogdan mencoba menenangkan Putney agar tak mengajar Farrell.
“Tenang kau bilang?! Kalian tim Bruth A tak tahu yang sebenarnya terjadi saat itu! Kalian cuma bisa ngebac*t saja!” sahut Putney dengan api kemarahan terpancar di matanya.
“Kalianlah yang tak becus! Cuma berleha-leha di markas!” imbuhnya.
Bogdan yang sebelumnya ingin menenangkan Purney pun malah juga tersulut emosinya. Putney mengatakan seolah tim Bruth A tidak berguna.
“Jaga bicaramu Putney!” ucapnya melihat tajam ke arah Putney yang masih mencengkeram kerah Farrell.
Tanpa diduga, Ferrell menghajar Putney hingga dia terpental menabrak beberapa kursi. Sontak hal itu memicu suasana yang sudah panas menjadi lebih panas.
“Sabar Farrel!” seru Brick menahan Farrell yang mencoba ingin kembali menghajar Putney.
Sementara Putney, dia yang memang sudah terbakar emosi segera bangkit dan ketika akan membalas Farrell yang dipegangi oleh Brick, tiba-tiba Endrew muncul di depannya menodongkan pistol.
“Berhenti,” ujarnya menatap Putney datar.
Sontak Putney langsung berhenti, matanya membulat melihat rekan satu tim dengannya malah menodongkan senjata ke arahnya.
“Kenapa kau malah menodongkan pistolmu padaku?! Seharusnya itu dia!” seru Putney menunjuk wajah Farrell.
Farrell yang melihat itu pun berusaha melepaskan diri dari Brick dan ingin sekali memukul Putney. Namun Jyul, Jackob dan Cleric mencoba menenangkannya.
“Tenang Farrell, tenanglah,”
Sementara Bogdan yang sebelumnya juga tersulut emosi, dapat mengontrolnya kembali setelah melihat Putney dipukul secara tiba-tiba oleh Farrell.
Endrew yang masih menodongkan pistolnya pun berkata, “Aku memang tim Bruth B, tapi baik aku atau kau dan kita semua, kita adalah tim Bruth. Sejak kapan tim Bruth menjadi dua kubu seperti ini dan saling menyalahkan?”
Dia memutar kepala, memindai setiap orang di ruangan itu. Semua orang terdiam, tidak ada yang berani menyahutnya sama sekali.
Alasan dia hanya menodongkan pistol ke arah Putney karena tidak ada tim Bruth B yang mau menghentikan atau menenangkan Putney. Tim Bruth B masih larut karena kehilangan 3 rekan mereka.
‘Ketua,’ batin Endrew menghela napas. Biasanya dia yang mengontrol tim Bruth jika mengalami perselisihan tapi sekarang dia sudah tidak ada.
Daniel yang sedari tadi diam saja di depan layar monitor server, diam-diam merekam tim Bruth dengan ponsel lipatnya. Senyuman tipis tersungging di bibir anggota tim Bruth A itu.