I Am The Villain In This Life!

I Am The Villain In This Life!
Chapter 33



[Beberapa waktu sebelum penggeledahan oleh Badan Pengawasan di gedung Lippo]


“Cepat! Periksa dokumen itu juga!” perintah pemimpin tim A, Carlos.


Para anggota tim A pun segera memeriksa dokumen demi dokumen di ruangan itu.


“Carlos, bagaimana dengan komputernya?” tanya salah satu anggota tim A, Edi.


“Benar juga, aku sampai lupa. Terimakasih Edi.”


Carlos berbalik badan, lalu berseru, "Torben, Hansen, Laurid, Thomas, dan John! Kemari kalian berlima!”


Mendengar panggilan ketuanya, kelima anggota tim A itu pun langsung menghampiri Carlos.


“Ada apa Carlos?” tanya John.


“Kau dan kalian berlima pergi ke ruangan keuangan pegawai, suruh mereka berhenti bekerja, lalu ganti dengan komputer yang baru!” jawab Carlos memberi perintah.


“Siap!” sahut kelima anggota tim A itu, kemudian berlari keluar ruangan.


Carlos sendiri tidak hanya memerintah, ia ikut membereskan dokumen yang dirasa akan menjadi barang bukti.


Karena beberapa saat yang lalu, atasannya—Fey telah menghubungi dirinya untuk membereskan segala bentuk bukti apapun yang mencurigakan, terutama yang berhubungan dengan saham. Sehingga dengan cepat dia mengerahkan tim A untuk ke gedung utama Lippo.


Allan, salah satu anak buah Carlos yang dekat dengannya tidak sengaja menemukan dokumen usang dibawah meja, terselip dan sangat usang. Dengan susah payah dia mengambil dokumen itu, membersihkannya lalu ketika ia membaca, matanya sedikit membesar.


“Ini,” ujarnya dalam hati.


Segera dia meremas dokumen itu ketika melihat salah dua anggota tim A, Soren dan Krok berjalan ke arahnya.


“Apa yang kau lakukan Allan?” tanya Krok melihat Allan tiba-tiba menyembunyikan sesuatu begitu ia datang.


“Melenyapkan barang bukti,” jawab Allan.


Soren tidak begitu percaya, dia meminta Alla menunjukan apa yang dipegang serta di sembunyikan olehnya.


“Aku tidak menyembunyikan apa pun,” kilah Allan.


“Kenapa kau berbohong sih Allan? Kau ingin berhianat?” tanya Soren.


“Siapa yang ingin berkhianat? Aku tidak bohong, ini bukan dokumen penting," jawab Allan.


Tanpa bicara, Krok langsung menarik tangan Allan, membuka paksa apa yang ada digenggamannya.


“Jika tidak ada yang kau sembunyikan, buka kertas apa yang ada ditanganmu ini!” bentak Krok.


Karena suara Krok cukup tinggi, membuat Carlos yang sedang membereskan dokumen pun menoleh. Dia melihat kedua anggotanya tengah mendesak Allan.


“Apa yang mereka lakukan pada Allan?” tanyanya dalam hati.


Dia hapal dengan sikap seenaknya dan sok senior dari Soren dan Krok semenjak ia bergabung dengan tim A. Kedua anggota tim A itu bahkan berani membantah serta menjawab balik ucapan dari ketua sebelum dirinya.


Carlos menghentikan aktifitasnya, kemudian berjalan kearah suara tinggi itu berasal.


“Ada apa ini?”


Mendengar itu, Soren, Krok serta Allan pun menoleh bersamaan ke arah Carlos.


“Dia menyembunyikan sesuatu,” ujar Soren menunjuk Allan.


Carlos melihat ke arah Allan, “Benar itu Allan?”


“Tidak, aku tidak menyembunyikan apa pun!” bela Allan.


Mendengar Allan terus berkilah, Krok pun menempeleng kepala Allan dengan keras, “Heleh!”


Melihat hal itu, Carlos langsung menegur, “Krok! Jangan main kasar!”


Bukannya meminta maaf, Krok malah tertawa diikuti oleh Soren.


Menurut Krok, hal itu sangat lucu. Kasar darimananya? Toh mereka semua adalah pria dewasa. Kata kasar bila dia memukul Allan hingga babak belur, itu baru dinamakan kasar.


“Kasar? Dia pria dewasa Carlos. Yah kasar jika dia banci,” ujarnya mendorong kepala Allan dengan ujung jari telunjuknya.


Allan yang menahan rasa panas dan kesal di dadanya, karena sikap Krok yang tidak sopan, kini rasa itu tidak lagi bisa ia tahan.


Dia mencengkeram tangan Krok, “Berhenti,”


"Oh?"sahut Krok.


Melihat Allan mencengkeram tangan Krok dan menatapnya dengan tajam, Soren ikut menimpali dengan nada bicara yang dibuat-buat, "Ululuh\~, Allan marah?”


“Lepaskan tangan busukmu bocah,” perintah Krok.


“Bocah? Kau dan aku ini seumuran. Lantas siapa yang kau panggil bocah?” ujar Allan dengan tatapan memancarkan api kemarahan.


Melihat anggotanya mulai bertengkar, Carlos menghela napas panjang. Dia sedikit melirik ke anggota tim A lain, mereka semua tidak peduli, hanya mengerjakan tugasnya masing-masing.


Menurut kacamata Carlos, tim A tidak cocok disebut tim. Solidaritas mereka sangat amat kurang. Mereka hanya bisa bekerja sama saat mendapatkan misi, itu pun jika tidak ada yang bertengkar ditengah jalan.


Kemudian dia melirik kembali ke dua pria di depannya. Mereka yang saat ini saling menatap dengan tajam, tergambar dengan jelas di mata mereka, api kemarahan yang saling menyambar satu sama lain.


“Antonio, kenapa kau harus bunuh diri? Hanya kau yang mampu menangani kedua orang ini.” ujar Carlos dalam hati.


“Sudah-sudah. Allan tunjukan saja apa yang ada di genggaman itu,” ujarnya.


Dia tidak mau perseteruan dalam diam antara Allan dan Krok berlanjut menjadi perkelahian.


Mendengar perintah Carlos, Allan pun melepaskan tangan Krok yang ia cengkram. Kemudian dia membuka kertas yang telah kusut karena ia remas dan genggam dalam waktu cukup lama.


Krok langsung menyambar kertas itu dengan kasar. Ketika ia baca, dirinya langsung meremas kertas itu. Rupanya isi dari kertas itu merupakan pernyataan pengunduran diri ketua tim A sebelumnya.


“Peringati Allan, tidak usah menyembunyikan hal yang tidak penting." ujarnya datar sembari melempar kertas itu ke wajah Carlos.


Hingga detik ini, Carlos yang berusaha bersabar pun menjadi terpancing amarahnya karena sikap Krok tersebut sangat tidak sopan. Padahal bagaimana pun dirinya adalah ketua tim A.


“Tidak penting ya,” ujar lirih Carlos memungut kertas kusut itu.


“Ayo Soren,” ajak Krok tanpa rasa bersalah telah berbuat tidak sopan dan kurang ajar pada Carlos.


Tepat ketika Krok hampir lewat disamping Carlos, ketua tim A itu pun menahan Krok dengan tangan kirinya.


“Jangan begitu Krok, perbaiki sikapmu yang kurang ajar. Aku itu ketua tim A, atasanmu.” ujar Carlos sangat menahan amarah.


“Ha? Ketua? Atasan? Carlos, kau itu ngomong apa sih?” sahut Soren.


“Soren, kau diam saja!” sahut balik Allan dari arah belakang.


Soren menoleh ke belakang, kedua alisnya berkerut hingga hampir menyatu, menggambarkan dengan jelas kekesalan di wajahnya.


“Seharusnya yang diam itu kau!" sahut balik Soren pada Allan.


“Benar kata Soren, atasan darimananya? Kau lupa ya Carlos?"


Mendengarnya, Carlos hanya mengernyitkan kedua alis.


Kemudian Krok kembali bicara, "Baik aku, kau dan semua orang di tim A tidak lain hanya anjing Lippo, tidak lebih. Kita itu sama, dan sebutan Atasan hanya untuk satu orang yaitu Tuan Fey."


Wajah serta bicaranya sangat datar, sama sekali tidak menunjukkan sedikit keseganan atau pun rasa hormat pada ketua tim A tersebut. Kemudian dengan kasar, dia melepaskan tangan Carlos yang menahan dirinya, lalu berjalan pergi diikuti oleh Soren.


Dengan kekesalan yang memuncak, Carlos langsung mengeluarkan pistol dari balik jaket, mengarahkannya pada kepala Krok. Jari telunjuknya bersiap menarik pelatuk.


Allan yang melihatnya pun tidak berusaha ingin menghentikan Carlos. Dia juga sudah sangat kesal dengan sikap kedua anggota tim A yang sangat sok itu.


Namun, pada detik-detik ia akan menarik pelatuk pistolnya, bayangan serta perkataan ketua tim A sebelumnya tiba-tiba muncul di pikiran Carlos.


..."Peraturan di tim A, kau tidak boleh membunuh bawahanmu. Jika suatu saat kau menggantikan aku, ingat itu ya Carlos."...


"Antonio," ujarnya dalam hati.


Telunjuk Carlos pun melemas, pada akhirnya ia menurunkan kembali pistol itu.


Melihat ketua tim A yang tidak jadi menembak kepala Krok, membuat Allan heran. Kenapa dia mengurungkan niatnya? Padahal jelas-jelas Krok bersikap kurang ajar padanya!


“Carlos? Kenapa kau tidak menembak kepala mereka?” tanya Allan dari arah belakang.


“Antonio memberi pesan padaku agar tidak membunuh bawahanku sendiri,” jawab Carlos tanpa menoleh.


Antonio, menurut Allan, pria itu terlalu baik jika harus di tempatkan pada tim A yang bahkan lebih anjing daripada anjing itu sendiri. Pada akhirnya pria heterocromia itu tidak kuat dan memilih mengundurkan diri lalu mempersingkat hidupnya.


“Hah? Ketua sebelumnya terlalu baik." sahutnya.


Carlos tidak menggubris sahutan Allan, dan langsung mengalihkan pembicaraan, “Allan selesaikan tugasmu."


Kemudian menoleh ke belakang, "Anggota yang lain telah selesai. Selesaikan tugasmu dengan cepat sebelum orang dari Badan Pengawasan datang,”


Meski agak kesal karena Carlos tidak menanggapinya, namun Allan tetap menuruti perintah ketuanya itu.


“Baik Carlos," ujar Allan, kemudian dia membereskan dokumen yang menumpuk di belakangnya, sebelum akhirnya pergi meninggalkan Carlos.