I Am The Villain In This Life!

I Am The Villain In This Life!
Chapter 35



Vincent hanya tersenyum, tidak memberikan jawaban barang sepatah kata pun. Melihat itu, Justine paham jika uji coba yang dibicarakan oleh Vincent merupakan hal yang bersifat rahasia.


Dia sadar, ia hanyalah serigala Xendra Grup, jadi meskipun ia cukup dekat dengan dua orang dari keluarga Hermentsmith itu, dirinya tidak perlu mengetahui hal diluar batas.


"Terserah kalian, aku tidak peduli," ujarnya.


Melihat itu, Vincent terkekeh. Lalu berseru pada seluruh tim Bruth, "Paman sekalian, silahkan kembali bekerja."


Kemudian ia berjalan kearah pintu, seraya mengajak Wim untuk keluar bersamanya, "Ayo Pa."


Mendengar itu, Wim pun mengikut di belakang Vincent. Pada awalnya dia mengira Vincent mengajak keluar ruangan, namun ternyata putranya itu terus berjalan menuju lift.


"Masuklah Papa," ajak Vincent yang sudah masuk kedalam lift terlebih dahulu.


Dengan perasaan heran, Wim menuruti ajakan putranya tanpa bertanya apa pun.


Di sepanjang lift yang bergerak naik ke atas, suasana didalam sangatlah sunyi. Ayah dan anak itu sama sekali tidak berbicara satu sama lain.


Ting! Pintu lift terbuka. Vincent keluar, berjalan tanpa bicara apa pun.


Di titik ini Wim mulai jera, kemana Vincent akan membawanya? Namun dia menahan diri untuk bertanya, putranya pasti mempunyai alasan kenapa melakukan hal itu.


Setelah terus berjalan, sampailah keduanya di rooftop gedung.


Di ujung rooftop, tepat disamping pagar pengaman, Vincent berhenti berjalan. Kemudian menoleh kebelakang, mengibaskan tangan ke atas dan kebawah, mengisyaratkan Wim untuk mendekat.


Untuk apa putranya mengajak hingga ke rooftop? Apakah ada hal penting yang tidak boleh diketahui oleh siapa pun hingga memilih tempat ini? Kepala Wim penuh dengan berbagai pertanyaan.


Setelah berdiri tepat di samping Vincent, dia bertanya hal yang menjadi pertanyaan di benaknya.


"Apa yang ingin kau bicarakan? Kenapa sampai ke rooftop dan tepat dipinggir pagar begini?"


Dia terus memandangi putranya itu penuh selidik, tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.


Dengan senyum terukir di bibir, Vincent menjawab, "Aku ingin menikmati angin segar."


Mendengar itu Wim heran. Angin segar? Tidak mungkin itu angin segar yang di ucapkannya hanyalah angin biasa. Dia pasti punya maksud lain dibalik dua kata itu.


Vincent mengalihkan pandangan ke arah depan, dimana seluruh kota Yarden terlihat dari atas.


W tower, gedung menara pencakar langit paling tinggi di kota Yarden dengan kokohnya berdiri menjulang keatas, berusaha menggapai tingginya langit biru diatasnya.


Berbagai gedung-gedung perusahaan dan parlemen menjulang tinggi. Taman-taman buatan berwarna hijau, serta sejauh mata memandang, berbagai kendaraan berlalu-lalang di jalan raya kota Yarden yang lenggang.


"Papa, kau tahu berapa persen dari seluruh penduduk kota Yarden yang memakai pembayaran P Pay?" tanya Vincent.


P Pay merupakan pembayaran digital yang dimiliki oleh Pix Company, perusahaan asing yang bekerja sama dengan GL Company. GL sendiri adalah perusahaan pembuat ponsel, salah satu anak perusahaan Xendra Grup.


"Sekitar dua puluh persen," jawab Wim.


"Hmm, sekitar? Jawaban yang tepat bukanlah dua puluh persen, melainkan lima belas persen,"


Kemudian Vincent menoleh, "Kenapa perusahaan sebesar Xendra yang dapat membuat bioteknologi secanggih Biox, tidak membuat pembayarannya sendiri? Kenapa harus memakai jasa Pix Company?"


Kini Vincent menanyakan semua hal yang ingin dia tanyakan pada ayahnya itu.


Mendengarnya, Wim memejamkan mata seraya tersenyum. Jadi ini maksud sebenarnya dari angin segar?


Melihat ayahnya tersenyum, Vincent menduga Wim menangkap ke arah mana pembicaraan mereka.


"Lalu, apa rencanamu?" tanya Wim seraya membuka mata.


"Rencanaku? Jawab dulu Papa, kenapa Xendra tidak membuat pembayaran mereka sendiri," ujar Vincent menanyakan pertanyaannya yang belum di jawab oleh Wim.


"Itu, karena..."


"Karena apa?" tanya Vincent penasaran.


"Karena Xendra tidak ada waktu untuk membuatnya. Toh ada GL, dan P Pay masih bisa digunakan sebagai metode pembayaran digital," jawab Wim.


Dia tidak berfikir untuk membuat pembayaran digital yang langsung disematkan pada ponsel Xendra, karena Xendra lebih fokus pada pembuatan serta pemutakhiran otomotif mereka, yakni mobil.


Di negeri ini, sebagian besar kendaraan yang digunakan masyarakat adalah mobil. Sedangkan komoditas otomotif sebagian besar dikuasai oleh Erley Motors, salah satu perusahaan utama Xendra Grup.


Bukan tanpa alasan mobil dengan merk Erley laris dipasaran. Hal itu di karenakan, Erley adalah mobil yang mengedepankan keselamatan, kecanggihan serta estetika dalam waktu bersamaan.


Tidak hanya mobil berbahan bakar bensin, Erley Motors juga mengeluarkan mobil listrik yang ramah lingkungan.


Merk Erley dari Xendra, sudah melekat di hati masyarakat negeri ini sebagai salah satu merk mobil nomor satu. Bisa dibilang jika ingin membeli mobil, Erley-lah merk mobil pertama yang terlintas di pikiran masyarakat.


Oleh karenanya, Xendra tidak terlalu memusingkan pembayaran dompet digital. Karena sebagian besar masyarakat membeli mobil mereka dengan metode cicilan kartu kredit, atau langsung di potong dari gaji.


"Apa karena Erley Motors? Jadi Papa tidak berniat membuat gerbang pembayaran mandiri?" tanya Vincent.


"Memangnya kenapa? Kau ingin membuatnya?" Wim balik bertanya.


Vincent tersenyum. Tangan kirinya terangkat, ujung jari telunjuknya menunjuk ke arah gedung tinggi.


"Papa tahu itu gedung apa?" tanyanya tanpa menoleh, juga tanpa menjawab pertanyaan Wim sebelumnya.


"Tcih, anak ini," ujar Wim dalam hati sedikit kesal dengan sikap putranya yang sering tidak menjawab, dan malah berganti ke topik lain ketika dalam pembicaraan.


Dia kemudian menoleh kearah yang di tunjuk oleh putra semata wayangnya. Ujung telunjuk itu mengarah pada sebuah gedung tinggi, tidak jauh dari W Tower.


Gedung yang memiliki panel surya di hampir seluruh badan luar itu memiliki nama besar bertuliskan; LP Pay Building.


"Itu gedung LP Pay." jawab Wim.


Vincent tersenyum kembali, menurunkan tangannya, kemudian menoleh ke arah Wim, "Aku mengincar gedung itu, dan pertanyaan Papa di awal tadi benar. Aku ingin membuat gerbang pembayaran mandiri milik Xendra."


Setelah mengatakan demikian, dia mengeluarkan suatu benda dari balik jaket yang ia kenakan.


Benda itu berbentuk bundar, mirip piringan yang di gunakan gramaphone tempo dulu untuk menyimpan melodi musik. Namun ukuran piringan ini jauh lebih kecil, hanya seukuran tidak lebih dari telapak tangan orang dewasa.


Selain itu, di bagian tengah piringan itu memiliki lapisan berwarna emas, titik-titik kecil berwarna tembaga menyembul di sepanjang badan piringan tersebut.


"Itu apa? tanya Wim penasaran.


"Ini LY. Otak untuk pembayaran Xendra yang baru, LY Pay. Aku memodifikasinya dari sebagian badan Biox dengan ByxBe." jawab Vincent tersenyum melihat benda yang ia namai LY itu di tangannya.


Mendengar kata ByxBe, Wim cukup terkejut. ByxBe merupakan salah satu komponen otak Artificial Intelegent yang dulunya dibuat serta dimiliki oleh Buston Grup.


"Kau mencuri ByxBe?" tanya Wim.