I Am The Villain In This Life!

I Am The Villain In This Life!
Chapter 18



“Apa?!" tanya Fey marah di telepon.


"Anda tidak bisa melakukan ini, bukankah sebelumnya Anda setuju untuk memberikan Area F pada Lippo Grup? Buston sedang bermasalah bukan?" tanya Fey kembali pada orang di telepon.


Dari ekspresinya yang kesal, sepertinya orang yang berbicara dengannya di telepon tidak memberinya jawaban yang dia inginkan. Dengan geram dia menutup gagang telepon kabel itu.


Tok! Tok! Nicolas mengetuk pintu, membawa nampan berisi teh, lalu meletakkannya diatas meja kerja Fey.


"Tumben kau yang mengantarkan, Hanna mana?" tanya Fey.


"Aku disuruh Mama, Hanna sedang di kamarnya." jawab Nicolas.


"Dia pasti sedang menangis karena Renata," ujar Fey dalam hati.


"Ayah tadi kenapa?" tanya Nicolas kembali, karena sebelumnya ia melihat raut wajah ayahnya itu terlihat kesal dan marah.


Fey diam sejenak, apakah putranya yang berusia 15 tahun itu akan mengerti? Sepertinya tidak.


Namun pada akhirnya, dia memutuskan untuk mengatakan alasan apa hal yang membuatnya kesal. Terlepas putra sulungnya itu akan mengerti atau tidak.


"Kontrak Area F di Jalan Mawar tiba-tiba ditangguhkan secara sepihak." jawab Fey, kemudian meminum tehnya.


"Memangnya kenapa Ayah? Ada apa dengan Area F hingga Ayah begitu kesal?" tanya Nicolas polos.


Mendengar pernyataan putranya yang ternyata tidak memahami ucapannya, membuat Fey bertambah kesal. Tapi dia hanya bisa menghela napas.


"Tidak apa-apa, kau boleh pergi," ucap Fey.


Tanpa berpikir apa pun, Nicolas berjalan pergi dari ruangan kerja Fey. Alasan CEO Lippo Grup itu begitu kesal dan geram adalah ketika Buston mengalami masalah dengan kejaksaan, seharusnya Area F otomatis diberikan pada Lippo oleh pihak kontraktor.


Tapi disaat emas itu, saingan Lippo—Xendra Grup—malah ikut campur. Mereka masuk sebagai pihak yang akan ikut menawar area itu, bahkan dengan nominal lebih tinggi dari Buston.


Pihak kontraktor yang sebelumnya mengiyakan wilayah itu akan diberikan pada Lippo, kini tiba-tiba secara sepihak mengatakan akan mengguhkan kontrak, dan secara sepihak mengatakan akan mempertimbangkannya kembali.


Merasa penat, Fey pun meraih remot TV dan menyalakan benda persegi panjang yang terletak tidak jauh didepannya. Emosinya bukannya turun, kini malah semakin naik melihat berita di Televisi.


Selain ikut dalam urusan Area F, ternyata Xendra mengumumkan pada masyarakat umum bahwa mereka membuka 1 juta lembar 'calon saham' pada masyarakat.


Melihat berita itu, Fey paham bahwa Xendra menginginkan agar masyarakat ikut andil dalam pengumpulan dana untuk Area F secara tidak langsung.


"Xendra gila, mereka berani menjual saham yang belum ada lembarannya. Bukankah itu sama saja dengan penipuan?" tanya Fey dalam hati.


Dia menyadari sesuatu. Raut wajahnya yang sebelumnya kesal, kini berganti dengan senyuman.


Dirinya belum sadar, sesuatu yang tengah di persiapkan Xendra sebagai pelengkap hadiah atas Buston.


...****************...


Nasib sial sepertinya melekat pada Buston. Hasil penyelidikan dari kejaksaan menemukan bukti yang tidak terelakan. Hal itu cukup untuk membuktikan bahwa mereka telah melakukan penggelapan dana.


Tidak hanya itu, pihak kejaksaan itu juga menemukan bukti tambahan yang tidak hanya menjatuhi dakwaan penggelapan dana, Buston juga memonopoli pasar. Hal itu membuat Buston yang sudah jatuh karena berita sebelumnya, kini semakin jatuh.


Seluruh harga saham Buston benar-benar merosot, mereka pun mengalami kerugian hingga banyak dari para investor memilih hengkang dari Buston.


Hadiah yang selama ini dipersiapkan oleh Xendra tidak sampai disana. Beberapa hari kemudian, usaha rumah bordil ilegal yang bergerak dibawah Buston pun kena imbas. Pihak berwajib menggeledah serta menutup seluruh rumah bordil yang tidak memiliki ijin tersebut.


Hal itu membuat Kalle semakin pening, dan tentu saja isterinya—Sarah, selaku owner dari bisnis rumah bordil itu.


Berita tentang kejatuhan Buston kembali menyeruap di seluruh media massa. Masyarakat heboh kembali, karena ternyata perusahaan yang citra luarnya baik-baik saja itu, selain melakukan penggelapan dana juga memiliki kedok busuk lain.


Di internet tersebar ribuan makian dan sumpah serapah untuk Buston. Tidak hanya perusahaannya saja, akan tetapi diseluruh media sosial isteri hingga kedua anak kembar keluarga Henningson, Martha dan Morgan Henningson juga kena imbas.


Sementara itu, di ruangan CEO Xendra Grup...


"Yah sesuai prediksi," jawab Wim tanpa menoleh.


Rupanya hal yang dibicarakan oleh Wim dan Justine di taman belakang beberapa waktu yang lalu adalah perintah serta pendiskusian untuk menjatuhkan Buston yang telah berani dan terang-terangan menyentuh Vincent.


Mereka belum menyadari, rencana yang tengah disiapkan oleh Lippo untuk membalas Xendra yang ikut campur dalam urusan Area F.


...****************...


"Vin, kau lihat berita di TV?" tanya salah satu anak dari kelompok kucing—Joseph.


"Berita apa?" Vincent balik bertanya.


"Sini dong! Aku tidak mau jika dia ikut dengar! Nanti dia ngadu ke Mamanya yang singa itu!" tunjuk Joseph pada bocah perempuan yang duduk disamping Vincent—Hanna.


Seketika raut muka Hanna langsung sedih, dia pun memalingkan wajahnya ke arah jendela yang persis berada di sebalah kiri dari bangkunya. Lalu menutupi kepalanya dengan buku.


Memanfaatkan hal itu, Vincent diam-diam beranjak dari kursinya kemudian menemui anak di kelompok kucing tersebut.


"Berita apa yang kalian maksud?" tanya Vincent bisik-bisik.


"Kau 'kan tahu, ayahnya itu yang punya Mall besar di Distrik Luinol bukan?" Joseph balik bertanya.


"Iya aku tahu, Mall Lippo bukan?"


"Iya itu! Tadi pagi, aku lihat berita waktu Ayah sedang menonton TV. Kata berita itu, gara-gara yang punya Mall Lippo, Buston jadi jatuh!" ujar bocah laki-laki yang salah satu giginya omong itu pada Vincent.


"Hah? Bukannya itu adalah ulah Wim? Hebat juga dia bisa membuat masyarakat berpikir itu siasat Lippo!" ujar Vincent dalam hati senang.


"Benarkah?" tanyanya kembali dengan sangat penasaran.


"Iya loh! Ibuku juga bilang, itu adalah ulah dari lawan Buston!" sahut bocah perempuan di kelompok Kucing—Marine.


"Wah anak kelas satu SD sudah mengerti lawan perusahaan rupanya. Anak-anak konglomerat memang berbeda dariku dulu sebagai anak buangan di panti asuhan." ujar Vincent dalam hati tersenyum miring.


"Kenapa kau tersenyum Vin? Kau suka melihat ayahnya dia berbuat jahat?" tanya Rogger—bocah laki-laki ompong, ia menunjuk ke bangku Hanna.


"Ti-dak kok. Aku hanya berpikir, kenapa dia tega membuat mereka seperti itu," jawab Vincent dengan nada kasihan.


"Makanya Vin, jangan dekat-dekat dengan dia!" ucap Steven—bocah laki-laki lain dari kelompok Jerapah.


"Aku lihat loh dulu, waktu pulang sekolah Vincent di dorong sama Mamanya Hanna!" timpal Joseph.


Sontak Marine, Steven, dan Rogger bertanya bersamaan, "Benarkah Vin?!"


"Ssstttt." Vincent mendekatkan ujung jarinya ke mulut.


Ketiga bocah itupun mengangguk, mengerti bila ucapan mereka sebelumnya terlalu keras. Vincent pun menjawab dengan menganggukan kepala.


"Tuh kan Vin, apa yang pernah di bilangin sama Peter benar. Jangan main sama Hanna!" ucap Rogger memberi peringatan.


Tentu saja Vincent tidak bisa menuruti saran dari ketiga bocah SD itu, karena dia membutuhkan Hanna sebagai perantara untuk mengorek informasi mengenai Lippo, agar ia lebih mudah mencari celah untuk menjatuhkan perusahaan yang menghianatinya tersebut.


"Ta-tapi, Hanna baik kok. Dia nggak jahat. Mungkin Mamanya juga enggak jahat, tapi emang sedikit galak." ucap Vincent dengan nada bicara sengaja dibesarkan.


"Hih galak?! Wanita J*l*ng itu tidak hanya jahat, tapi dia juga busuk! Amat sangat busuk!" cacinya dalam hati.


Mendengar hal itu dari suara Vincent, Hanna yang diam-diam menangis dibalik buku yang menutupi kepalanya pun tersenyum.


"Vin, terimakasih. Kau sangat baik padaku," ujarnya dalam hati.