
Di tengah persaingan sengit perebutan Area F, Keluarga Henningson yakni isteri Kalle dan kedua anak kembarnya di temukan tewas di kediaman mereka. Hal itu membuat media yang sebelumnya menyoroti Lippo dan Xendra kini langsung beralih meliput berita kematian mereka.
Meski bukti penggelapan dana dan monopoli pasar sudah didapat, namun Kalle belum ditahan, entah apa yang dipikirkan oleh pihak berwajib. Kalle jugalah satu-satunya anggota keluarga Henningson yang selamat.
Dugaan awal kasus itu adalah mereka dibunuh oleh perampok menurut kesaksian Kalle. Tapi setelah diselidiki oleh pihak kepolisian, terdapat kejanggalan. Kalle yang sebelumnya bersaksi bahwa mereka dirampok, diragukan oleh pihak kepolisian.
Barang berharga tidak ada yang hilang sama sekali, dan di temukan racun di makanan mereka. Racun itu tidak hanya menewaskan isteri dan anak kembar Kalle tapi juga seluruh pelayan yang ada di rumah itu.
Kalle yang sebelumnya didakwa atas penggelapan dana, monopoli pasar, kini dakwaanya bertambah dengan pembunuhan berencana, karena pembunuhan menggunakan racun dianggap sebagai pembunuhan berencana.
Meski telah melakukan pembelaan dan banding, Kalle tetep di jebloskan ke penjara. Media memberitakan hal itu ke seluruh negeri.
Di ruang CEO Xendra Grup...
“Pak Wim, selamat hadiah Anda sudah diterima oleh Buston.” ujar Justine membungkuk.
Wim tersenyum, “Tidak-tidak, ini semua berkat kerja keras Tim Creative Crew!”
Kemudian dia berdiri dari kursi, menghampiri Justine, memeluknya seperti seorang sahabat.
“Tapi Kalle masih hidup di penjara, dia juga harus mati.” bisiknya di telinga Justine.
“Kau tenang saja, Vincent memberiku ide itu bukan tanpa alasan.” ujar Justine.
Wim melepas pelukannya, menatap Justine dengan tatapan cukup terkejut.
“Jadi putraku ikut campur? Alasan seharusnya mereka mati bunuh diri jadi perampokan? Lalu berakhir jadi pembunuhan berencana?”
Justine berkedip sekali, “Maaf aku tak mengatakan hal itu. Vincent juga meminta merahasiakannya. Itu ide yang dia utarakan saat aku menemuinya latihan menembak sendirian di Zona K.”
“Dia latihan menembak sendirian? Apa anggotamu tidak melatihnya?” tanya Wim mengerutkan alis.
“Jangan marah dulu, mereka tidak melatihnya karena memang belum jadwalnya. Vincent latihan sendiri karena...” Justine berhenti bicara, mengingat-ingat sesuatu.
“Ah! Karena terjatuh sewaktu bermain di sekolah, dia dipulangkan awal. Dia berpikir mungkin bosan jika di rumah, jadi dia ke Zona K.” lanjutnya.
“Alasannya tidak masuk akal, kenapa di pulangkan hanya karena jatuh saat bermain? Saat aku lihat pun tidak ada yang terluka,” pikir Wim.
“Oh, telapak tangannya! Ya sudahlah itu tidak penting. Dia ikut andil dalam rencanaku tanpa mengatakan apa pun padaku.” lanjutnya membatin.
Wim kemudian terkekeh sendiri, membuat Justine cukup heran mendengarnya.
“Ada apa?” tanya Justine.
“Tidak, aku hanya berpikir Vincent benar-benar mirip denganku,” jawab Wim tersenyum.
“Jadi apa yang direncanakan putraku untuk Kalle?” lanjutnya bertanya.
“Dia akan dibunuh di dalam penjara,” jawab Justine.
“Aku masih tidak percaya mendengar rencana kotor dari mulut anak SD, dan aku benar-benar mengikutinya. Ternyata prediksinya sangat tepat. Bocah macam apa Vincent itu.” ujarnya dalam hati.
...****************...
Di jebloskannya Kalle ke penjara berimbas pada Buston, namun tidak sampai bangkrut. Bawahan Kalle yang sekarang otomatis menjabat CEO masih bisa mempertahankan Buston dari kebangkrutan, namun entah sampai kapan dia bertahan.
Karena tidak lama setelah masuk ke penjara, Kalle ditemukan gantung bunuh diri di selnya. Berita itu tidak hanya berimbas kembali pada Buston tapi juga dengan mantan saingannya, Lippo.
Hal itu membuat masyarakat umum meragukan jika itu murni bunuh diri, atau pembunuhan berencana seperti yang di beritakan oleh media. Melainkan sebuah konspirasi Lippo.
Perusahaan besar yang sebelumnya di pandang perusahaan baik-baik kini citranya mulai miring. Hal itu ternyata juga berdampak pada harga saham mereka dipasar saham. Harga saham Lippo mengalami penurunan yang cukup membuat Lippo lumayan merugi.
“Oke, rencana Bell boleh juga,” ujar Vincent dalam hati melihat harga saham di ponselnya di ruang tengah.
Dia tidak menyadari jika Jane diam-diam memperhatikannya dari jauh. Dirinya mengira putranya masih terpukul atas kepergian kakeknya beberapa waktu lalu.
“Sudah satu minggu, tiap pulang sekolah dia terus duduk disana. Biasanya dia bermain sendiri di kamar atau taman belakang.” ujar Jane dalam hati.
“Sepertinya aku harus melihat berita,” gumam Vincent meraih remote TV.
Dia sudah tidak terlalu sedih atas kematian Abraham. Karena menurutnya bersedih lama pun tidak akan membantu rencana balas dendamnya.
Ketika menyalakan televisi, berita tentang turunnya harga saham Lippo atas konspirasinya terhadap Buston. Melihat itu Vincent tertawa mengejek, tidak dia sangka media akan memberitakan hal itu juga.
Puas melihat berita, Vincent mematikan kembali televisi lalu berjalan ke kamarnya. Namun ketika hampir sampai di depan kamar, ia melihat Jane telah berdiri menunggunya di depan pintu.
“Mama? Ada apa? Kenapa berdiri di depan pintu kamarku?”
Jane merendah, memegang pundak Vincent, “Mama tanya, jawab jujur ya.”
“Dia mau bertanya apa sih? Tidak biasanya dia seperti ini, mencurigakan.” ujar Vincent dalam hati.
“Mama mau bertanya apa?” tanyanya polos.
Jane menarik napas lalu menghembuskannya, “Kau memberi ide pada Paman Justine untuk mengubah sedikit alur hadiah untuk Buston Grup?”
Dia bertanya serius, karena saat ini Jane tidak menganggap putranya sebagai anak kecil. Melainkan sebagai orang dewasa.
Rupanya sewaktu dia mengawasi Vincent di ruang tengah, Wim mengiriminya pesan. Pesan itu berisikan pemberitahuan bahwa rencana hadiah Wim sedikit bergeser karena ide dari Vincent.
Sebelumnya, Jane meminta dirahasiakan keikutsertakannya dalam rencana Wim, pada akhirnya terungkap juga karena Justine tidak bisa berbohong dari atasannya itu. Dan kini ia tahu putranya yang masih kecil dan pendiam memberi ide dalam pekerjaan kotor membuat Jane berpikir dia memang tidak seperti anak seusianya.
“Aku harus jawab apa?! Ini pasti ulah Justine! Sudah kubilang untuk di rahasiakan! Aku merasa dikhianati dua kali!” ujar Vincent dalam hati kesal.
“Vincent?” panggil Jane.
“Ya Mama?”
“Kenapa diam saja, Mama tanya dan kau harus menjawab. Apa benar kau memberi ide pada Paman Justine?” tanya Jane kembali, kali ini dia lebih serius dari sebelumnya.
“Ya sudahlah jawab jujur saja. Aku juga mau melihat reaksimu dan juga Wim. Aku berharap kau tidak lagi drama dan membantuku balas dendam!” ujar Vincent dalam hati.
“Iya Mama. Aku memberi ide untuk tidak menyamarkan pembunuhan keluarga Henningson sebagai bunuh diri, tapi sebagai perampokan. Dengan begitu ketika racun ditemukan di tubuh mereka, pihak berwajib akan melirik Kalle sebagai tersangka utama karena hanya dia yang selamat.” jawab Vincent datar tapi serius.
“La—”
“Lalu,” Vincent memotong ucapan Jane.
“Maaf jika aku menyela ucapanmu Mama. Lalu ketika Kalle sudah tidak punya siapa pun, dia akan lebih mudah di bunuh di dalam penjara. Tim Bruth 'kan juga punya anggota bayangan di dalam penjara.” lanjutnya menjelaskan.
Jane cukup terkejut dengan apa yang di katakan oleh putranya. Ternyata dibalik sikap ceria dan diam Vincent, dirinya mengetahui hal itu dengan cukup baik, bahkan sampai ke anggota bayangan tim Bruth.
“Vincent, kau itu sebenarnya siapa?” tanya Jane lirih.