
Mobil Toyota Alpard hitam berhenti di teras kediaman utama keluarga Hermentsmith. Lalu dari dalamnya, seorang bocah laki-laki yang memakai seragam sekolah turun dengan raut wajah gembira. Membuat wajah tampannya yang mirip dengan sang ibu semakin bersinar.
"Kenapa dia sudah ada di rumah?" ujar Vincent dalam hati melihat Wim berdiri di depan pintu rumah.
Wim berjongkok, lalu merentangkan kedua tangannya, bersiap menyambut Vincent. Namun di luar ekspektasinya, Vincent hanya berjalan santai tanpa berlari atau memeluk dirinya.
"Loh Vincent, kau tidak mau memeluk Papa?" tanya Wim dengan wajah sedih yang dibuat-buat.
"Ekspresi wajahmu itu bikin jijik tahu!" ujar Vincent dalam hati menatap Wim.
"Iya deh sini aku peluk." jawab Vincent seraya tersenyum memeluk Papanya.
"Setidaknya ini balasanku karena kau telah membantuku memberi J***** itu pelajaran." ujarnya dalam hati.
Wim pun menggendong Vincent masuk ke kamarnya. Setelah Vincent ganti baju, Wim yang duduk di sofa kamar putranya itu memberi isyarat agar Vincent duduk di sampingnya.
“Kau akan mendapat kelas Taekwondo dengan beberapa anggota tim Bruth." bisik Wim.
"Kelas Taekwondo?! Ini yang aku harapkan!" ujar Vincent dalam hati senang.
"Berarti nanti latihan menembak sama Paman Justine lalu kelas Taekwondo bersama Paman anggota yang lain?” tanyanya dengan penuh semangat.
"Paman Justine juga akan sibuk. Papa nanti juga akan sibuk." jawab Wim.
"Ha? Wim dan Justine sibuk? Mereka pasti sedang merencanakan sesuatu,” pikir Vincent.
"Kau akan berlatih dengan anggota tim lain. Ferrell, Brick, Bogdan, Jackob, Houtman, Martin dan Andreas." lanjut Wim.
"Siapa sih mereka? Kenapa namanya asing sekali?" ujar Vincent dalam hati mengernyitkan kedua alisnya.
Wim tersenyum melihat ekspresi putranya yang tampak keheranan mendengar nama anggota tim Bruth yang ia sebutkan.
"Kenapa? Asing ya? Mereka tidak kalah hebat dari Paman Justine loh. Latihan menembak dan Taekwondo akan digabung, jadi latihanmu akan lebih keras. Apa kau siap?" tanya Wim serius.
Mendengar kata latihan yang keras, mengingatkan Vincent pada dirinya di kehidupan sebelumnya. Di mana Antonio mendapatkan pelatihan keras bagai di neraka hingga membuatnya hampir gila.
Untuk melepaskan stress Antonio biasanya menyambangi rumah bordil. Melihat kecantikan, kemolekan, serta pelayanan para wanita penghibur itu membuat pikirannya sedikit lebih waras.
Meskipun saat itu Antonio berumur di bawah 18 tahun, ia bisa masuk ke rumah bordil dengan kekuasaan Lippo.
Tapi saat ini dia adalah Vincent, anak kecil biasa. Tidak mungkin dia pergi ke rumah bordil, apalagi Wim sangat membenci wanita penghibur dan semua hal yang berkaitan dengan mereka.
Pernah suatu waktu ketika Jane dan Wim sedang bertengkar, Jane sengaja mengirim wanita penghibur untuk menemani suaminya tidur, karena dirinya tidur dengan Vincent. Lalu keesokan harinya wanita penghibur itu ditemukan tewas, tertikam di bagian leher.
Dengan tubuh masih berlumuran darah, Wim masuk ke dalam kamar putranya untuk menemui sang isteri yang tengah memangku Vincent.
"Aku hanya menyukai dan menginginkan satu wanita, yaitu kau Jeannie Elizabeth, camkan itu!" ucap Wim dengan tatapan murka.
Jane yang biasanya berani membantah Wim pun, sampai tidak berani membuka mulut, begitu juga dengan Vincent yang ada di pangkuannya.
...----------------...
"Vincent!" panggil Wim dengan nada tinggi, karena sudah lima kali ia memanggil, dia tidak merespon.
Vincent pun tersentak kaget, “Hah?!”
"Bagaimana?” tanya Wim.
Vincent menoleh ke arah ayahnya dengan wajah memucat, "Em tidak."
"Oh kau tidak siap? Baiklah, Pa—"
"Tidak! Tidak! Bukan begitu!" potong Vincent gelagapan.
"Aku siap Papa!" lanjutnya.
"Ini kesempatan bagus, jangan malah kau sia-siakan Antonio! Tapi," ujar Vincent dalam hati dilema.
"Dia di gantikan oleh Bu Kelly. Bu Kelly bilang Bu Dita berhenti bekerja karena pindah rumah." jelas Vincent.
Wim mengangguk, "Oh pindah rumah,"
"Lebih tepatnya pindah alam tidak sih Pa?" sahut Vincent.
Wim terkekeh mendengar ucapan putranya itu. Dirinya tidak menyadari usaha putra semata wayangnya itu ketika akan memberi pelajaran pada Bu Dita sebelum tim Bruth bertindak.
Keberadaan 2 botol racun yakni Arsenik dan Tetradoksin di gudang yang hanya bisa di akses oleh sidik jari keluarga Hermentsmith, menandakan bahwa semua orang asing (pekerja/pelayan) yang masuk ke rumah utama sama saja dengan mempertaruhkan nyawa mereka.
Karena jika membuat kesalahan sedikit saja, maka salah satu atau kedua racun itu siap membunuh para pelayan dan pekerja yang bekerja di rumah besar nan mewah itu.
Wim beranjak dari sofa, "Ambil pistolmu, ayo pergi sekarang. Bukan hanya Taekwondo, tapi Muai Thai dan Karate, kau akan belajar 3 jenis beladiri."
Setelah berkata seperti itu, dia keluar dari kamar Vincent.
"Mati aku!" gumam Vincent merebahkan tubuhnya ke sofa.
...****************...
Tim Bruth sedang sibuk di ruang Creative Crew, menyiapkan suatu hadiah untuk Buston Grup atas perintah langsung dari tuan mereka, Wim Hermentsmith.
"Bagaimana? Sudah kau temukan Endrew?" tanya Justine.
"Sebentar Ketua," jawab Endrew tanpa menoleh, tangannya mengetik di keyboard dengan sangat cepat, dan pandangannya pun terus beralih dari satu layar monitor ke monitor lain.
"Baiklah mungkin pertahanan mereka sulit kau tembus, berusahalah! Semangat Endrew!"
"Baik Ketua!" sahut Endrew.
Daniel merasa bosan hanya mengawasi server Zona K yang saat ini dalam kondisi aman. Ia pun menoleh ke rekan-rekannya yang sedang sibuk.
"Ketua, apa aku juga diperbolehkan ikut membantu?" tanya Daniel.
"Tidak! Tugasmu itu sebagai server yang mengawasi Zona K! Jangan alihkan pandanganmu darinya, karena itu adalah wilayah penting!" sahut Justine.
"Padahal aku juga ingin membantu." gumam Daniel cemberut, lalu kembali melihat layar monitor server.
"Ketua," panggil Cleric pelan seraya meletakkan dokumen di atas meja Justine.
"Apa?" tanya Justine tanpa menoleh. Mata dan tangannya membolak-balik dokumen.
"Anda 'kan mengenal Tuan Muda secara lebih pribadi, apakah anda merasakan hal sama dengan yang aku rasakan?"
Justine berhenti membaca, lalu menoleh ke arah Cleric karena anggota Tim Bruth A itu jarang sekali membuka obrolan, apalagi mengenai keluarga Hermentsmith.
"Memangnya kenapa? Apa yang kau rasakan?"
"Aku merasa Tuan Muda seperti Tuan Wim tapi lebih menakutkan." jawab Cleric.
Dia mengingat bagaimana ekspresi Vincent setelah membunuh kelinci yang ia dan tim Bruth A tangkap.
"Ternyata bukan hanya aku saja yang merasakan hal itu." ujar Justine dalam hati.
"Sebenarnya dari pada menakutkan, Tuan Muda terlihat lebih mengerikan." ujar Cleric dalam hati.
"Tidak, itu hanya perasaanmu saja Cleric. Dia berbakat seperti ayahnya, bukan menakutkan." ucap Justine.
Tim Bruth baik A atau pun B sangat mempercayai Wim, tapi pada awalnya mereka kurang percaya pada kemampuan putranya. Meski dia pendiam seperti Wim, tapi Vincent tampak lemah, tidak seperti ayahnya. Ditambah ia juga terlihat menye-menye.
Namun statement mereka terpatahkan ketika beberapa anggota tim Bruth A melihat dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana cara Vincent memperlakukan 'kelinci' sebelum di eksekusi.
Tim yang beranggotakan 16 orang—dengan Justine ikut dihitung—itu pun menjadi percaya bahwa Vincent akan menjadi pemimpin pendiam yang lebih mengerikan dari pada Wim.