I Am The Villain In This Life!

I Am The Villain In This Life!
Chapter 34



[Satu hari pun berlalu]


Karena tidak menemukan bukti yang kuat, Badan Pengawasan tidak punya wewenang untuk menahan Fey, selaku CEO Lippo Grup lebih dari satu hari.


Aksel berjalan menuju arah ruang interogasi. Langkahnya terasa sangat berat, dirinya amat terpaksa berjalan ke ruangan itu.


Ingin sekali dia langsung melempar Fey ke dalam jeruji besi, akan tetapi, hal itu tidak bisa ia lakukan. Dirinya perlu bukti kuat untuk membawa Lippo ke pengadilan lebih dulu sebelum bisa menjebloskannya. Namun dengan keberadaan tim A, hal itu semakin sulit dilakukan.


"Akh! B*jing*n beserta anjing-anjingnya itu seharusnya mati saja!" kutuknya dalam hati.


Sesampainya di depan ruangan interogasi, dimana ruangan itu mempunyai pintu berwarna putih, tepat disamping pintu itu terdapat sebuah jendela kaca berbentuk persegi panjang.


Dari sana, Aksel melihat punggung pemimpin perusahaan, mantan tempat kerja kakaknya dahulu semasa hidup tengah membungkuk.


Dia menutupi kepala yang tertunduk diatas meja dengan kedua lengannya yang terlipat.


Aksel menarik napas, lalu menghembuskannya dengan kasar, mencoba menata sabaris kesabaran sebelum menghadapi pimpinan Lippo itu.


Mungkin saja kali ini, mengetahui bahwa Badan Pengawasan tidak menemukan bukti, bisa saja pria itu semakin merendahkan dirinya.


"Membayangkannya saja sudah membuatku emosi!" sungutnya dalam hati.


Ceklek! Pintu ruangan interogasi dibuka. Pemimpin Badan Pengawasan itu berjalan masuk, dan berhenti tepat di samping satu-satunya meja di ruangan itu.


"Saudara Feyn Fasterholdt, Anda di perbolehkan meninggalkan ruangan ini."


Mendengarnya, pria di samping Aksel mengangkat kepala. Kemudian sepasang mata biru miliknya melirik ke arah kanan, arah Aksel. Sebaris senyum lebar pun terukir di bibir pria itu.


"Selamat pagi wahai Pemimpin Badan Pengawasan," sapanya.


Pria yang tidak lain adalah Fey itu kemudian mengangkat kedua lengannya keatas, merenggangkan badan. Punggungnya terasa pegal luar biasa karena meja tempat dia menyenderkan kepala terhitung sangat pendek, apalagi untuknya yang mempunyai tinggi 187 centimeter.


"Silakan meninggalkan ruangan ini," ujar Aksel kembali. Dia tidak tahan melihat Fey tidak kunjung pergi dan malah meregangkan badan segala.


"Sabarlah dulu," sahut Fey santai.


Setelahnya dia berdiri, memakai kembali mantel miliknya. Kemudian tepat ketika hendak pergi, ia menoleh ke belakang. Sepasang mata birunya melihat Aksel dari atas sampai bawah.


Penampakan pria bermata hijau di belakangnya ini tampak tidak baik, wajahnya pucat serta bagian bawah mata menghitam, sepertinya dia tidak tidur dengan baik.


"Terima kasih atas kerja kerasnya," ujarnya seraya tersenyum, lalu memalingkan pandangan dan pergi dari ruangan interogasi.


Seperginya Fey, Brak! Aksel menggebrak meja dengan keras.


Napasnya naik turun, sebaris kesabaran yang ia bangun beberapa waktu lalu runtuh seketika. Pemimpin Lippo Grup itu terus-terusan mengejeknya secara tidak langsung, terutama tatapan mata serta caranya tersenyum.


"B*jing*n itu! Awas kau Fey!" ancam Aksel dalam hati.


[Sementara itu, di luar kantor Badan Pengawasan]


Orang dari Lippo telah datang untuk mengawal pemimpin mereka. Begitu Fey keluar dari gedung Badan Pengawasan, banyak wartawan yang sudah bersiap di depan kantor sejak semalam langsung datang mengerumuninya, bagai semut yang datang mengerumuni gula.


Para wartawan itu memaksa untuk mewawancarai serta mengajukan pertanyaan untuk Fey. Namun orang-orang Lippo dengan sigap melindungi Fey, serta menghalangi para wartawan untuk mendekat.


Mereka mengawal pemimpin Lippo itu hingga masuk ke dalam mobil, lalu pergi bersamanya.


Kehebohan para wartawan di depan gedung Badan Pengawasan saat Fey keluar gedung, sudah seperti seorang narapidana yang keluar dari penjara.


Salah satu reporter cantik menyiarkan moment itu secara live, tidak jauh dari seberang gedung kantor Badan Pengawasan.


Cuaca saat itu sedang gerimis, sang asisten dari reporter yang tengah menyiarkan berita itu tengah memayungi sang reporter. Dirinya memperhatikan pria yang keluar dari kantor Badan Pengawasan dengan seksama.


...----------...


[Disaat yang bersamaan, ruangan Creative Crew]


Para anggota tim Bruth yang menontonnya pun bersorak dengan kecewa, "Yah!"


"Tuan, mereka lolos!" seru Houtman menoleh ke kursi paling belakang, tempat Vincent duduk.


Vincent menatap televisi tanpa bicara apa pun, kemudian tersenyum. Hal itu membuat tim Bruth yang melihatnya kebingungan.


"Kenapa Anda tersenyum Tuan? Anda senang?" tanya Daniel yang duduk tepat di samping Vincent.


"Bukan, bukan begitu Paman." jawab Vincent tersenyum.


"Aku sudah menduganya, mereka punya tim A. Aksel, kau gagal menundukkan Lippo," ujarnya dalam hati.


Kemudian Vincent bertepuk tangan, "Paman beri tepuk tangan dong untuk Lippo. Mereka berhasil lolos loh,"


Sontak hal itu membuat tim Bruth bertambah bingung, kenapa atasan mereka malah menyuruh untuk bertepuk tangan pada pihak lawan?


"Atasan kita kali ini benar-benar tidak bisa ditebak," bisik Terry.


"Aku dengar loh Paman Terry," ujar Vincent berhenti bertepuk tangan.


Sontak hal itu membuat Terry terkejut lalu langsung membungkuk, meminta maaf.


"Maafkan saya Tuan Vincent!"


Vincent berjalan menghampiri Terry, kemudian menyuruhnya untuk mengangkat kepala, "Iya tidak apa-apa Paman, bangunlah, angkat kepala Paman,"


"Vincent, kau terlalu baik pada Lippo. Kau mau melepaskan mereka begitu saja?


Mendengar itu, Vincent langsung menoleh ke sumber suara. Seorang pria berambut pirang, terlihat lebih tua dari dirinya. Pria bermata abu-abu yang duduk tepat disebelah Daniel itu, kini memandangnya dengan tatapan datar.


"Paman Justine, apa aku terlalu baik selama ini?" Vincent balik bertanya.


Pria yang tidak lain adalah Justine itu hanya terkekeh. Ia tahu dari kecil meski Vincent terlihat tenang dan baik, namun sejatinya dia tidak sebaik citra luarnya.


Lalu di saat keheningan itu, Brak! Pintu ruangan Creative Crew dibuka sangat keras. Muncul sosok pria yang seumuran dengan Justine, tapi dia masih terlihat segar dan bugar, tidak kalah dengan Vincent. Siapa lagi jika bukan Wim.


Dengan tatapan datar namun tajam, membuat orang yang melihatnya akan langsung tertusuk. Dia melangkah masuk ke dalam ruangan seraya berbicara, "Kau senang sekali nongkrong di sini ya,"


Seluruh orang di ruangan itu membungkuk, memberi hormat pada Wim kecuali dua orang yaitu Vincent dan Justine.


"Papa tumben kesini? Ada apa?" tanya Vincent.


Wim pun berhenti tepat di depan putra yang sekarang lebih tinggi darinya. Ia memandang lekat mata Vincent, kemudian bertanya, "Ada apa? Kau lihat berita bukan? Lippo lepas dan kau masih diam saja?"


Mendengar itu, Vincent tertawa terbahak-bahak memegangi perutnya, seolah pertanyaan Wim merupakan lelucon yang amat lucu.


Suara tawa yang tidak pernah ia perlihatkan selama ini, mampu merubah hawa di ruangan itu berubah seketika menjadi mencekam.


Anggota tim Bruth saling memandang, mereka tidak mengerti kenapa sang pewaris Xendra Grup itu tertawa.


"Diam saja? Aku?" ujar Vincent sembari mengusap air matanya yang ikut keluar karena tertawa terbahak-bahak.


Kemudian dia berdiri, memandang ayahnya dengan mata elangnya seraya tersenyum, "Papa, aku punya caraku untuk menjatuhkan Lippo."


"Lalu, bagaimana dengan permintaanku sebelumnya?" lanjutnya bertanya.


"Sebelum itu, mengapa kau tiba-tiba menginginkan permintaan semacam itu?" Wim balik bertanya.


"Untuk uji coba saja sih."


Justine yang mendengar percakapan Wim dan Vincent itu menjadi cukup penasaran. Uji coba apa yang di maksud oleh Vincent?


"Uji coba?" tanya Justine ikut dalam pembicaraan.