
Mendengar kata mencuri keluar dari mulut sang ayah, Vincent merasa hatinya bak ditusuk oleh jarum, sakit. Bukankah Buston Grup sudah bangkrut sejak 12 tahun lalu, dan ByxBe ditinggalkan begitu saja? Dirinya ini hanya memungut barang yang sudah dibuang!
"Aku tidak mencuri. Buston bangkrut, jadi tidak ada lagi kepemilikan atas ByxBe." jawabnya.
Wim menghela napas begitu mendengar jawaban Vincent. Selama ini ia tahu putranya itu pintar, namun kali ini dia bodoh, benar-benar bodoh. Meskipun Buston telah bangkrut, namun jika hak cipta atas ByxBe belum dijual, maka ByxBe masihlah milik Buston.
"Bodoh," ujarnya.
Mendengar itu, Vincent terperanjat. Dadanya mulai terasa sesak. Bodoh? Maksudnya itu LY? LY yang ia buat dengan susah payah sebagai otak dari LY Pay, dimana pembayaran digital itu akan menggunakan sistem keamanan Biox, dan semua itu dibilang bodoh?
Vincent mengerutkan kedua alis, "Bodoh? Jadi kau pikir LY-ku itu suatu kebodohan?!" tanyanya dengan nada mulai meninggi.
Wim hanya diam, memandang wajah putra di hadapannya ini yang memerah seperti udang setengah matang. Kedua matanya kemudian melirik arah tangan Vincent, genggamannya pada piringan LY itu semakin erat.
"Dia tersinggung?" ujarnya dalam hati.
Kemudian dirinya memejamkan mata, menarik napas dalam. Mencoba setenang mungkin, merangkai kata untuk menjelaskan maksud yang sebenarnya.
"Bukan LY-mu, tapi kau yang bodoh."
Namun ekspresi Vincent tidak sesuai harapan Wim. Putra dihadapannya ini malah semakin mengerutkan alisnya hingga bertaut menjadi satu. Tangannya semakin erat memegangi piringan LY, hingga piringan itu bergetar.
"Dia marah?" tanyanya dalam hati.
Dada Vincent semakin sesak, napasnya tertahan. Rahangnya pun mengeras, tatkala mendengar kata bodoh kembali terlontar dari mulut ayahnya. Ayahnya tidak tahu seberapa berpotensinya LY jika berhasil kelak, dan sekarang ia malah di bilang bodoh?!
"B*ngs*t kau Wim!" makinya dalam hati.
...**********...
[Sementara itu, di penthouse Paradise]
Hanna baru saja pulang dari kerja paruh waktunya sebagai asisten lepas reporter Sohee. Rupanya asisten yang memegangi payung sebelumnya adalah Hanna.
Rasa pegal yang ia rasakan tidak dapat ia tahan lagi, begitu melepas sepatu, dirinya langsung menjatuhkan tas yang kelihatannya lebih berat dari tas gunung itu ke lantai. Lalu langsung menjatuhkan diri di atas sofa yang empuk.
"Wah, mau putus pundakku," keluhnya sembari memijit.
Pundaknya terasa menegang serta sakit sebagai akibat seharian menggendong tas berisi peralatan rekaman kesana-kemari. Ditambah sebagian besar peralatan itu terbuat dari besi.
Ditengah ia merebahkan badan di sofa, dirinya teringat kembali saat bekerja memayungi Sohee, dimana ia melihat sang ayah keluar dari kantor Badan Pengawasan.
"Kenapa ayah keluar dari sana? Apa ada masalah dengan perusahaannya?" tanyanya sendiri.
Dia penasaran kenapa ayahnya sampai diperiksa oleh lembaga yang ditakuti oleh perusahaan non pemerintahan itu.
"Apa Ayah melakukan pelanggaran?" terkanya dalam hati.
Dirinya tidak tahu kabar mengenai perusahaan ayahnya sejak diusir, karena sibuk bekerja paruh waktu.
"Eh," terbesitlah sebuah ide di pikiran Hanna.
Mumpung dirinya bekerja paruh waktu sebagai asisten reporter yang lumayan terkenal itu, sekalian saja dia mencari informasi untuk pria baik yang selalu menolongnya.
Selain menolong, hanya pria itulah yang menghargai, serta menganggapnya ada. Berbanding terbalik dengan orang tuanya. Sebelum diusir, ayahnya bahkan berkata tidak akan memberi Hanna sepeser pun saham Lippo Grup.
"Tcih! Saham? Diberi saham 0,1% dari 1 lembar pun aku tidak sudi!" sungutnya dalam hati.
Hanna memejamkan mata, mencoba mengatur napasnya yang mulai cepat karena terpikirkan keluarga yang sangat ia benci itu. Setelah beberapa saat, napasnya mulai lancar. Agar tidak makin stres, dia ingin berendam air hangat.
"Sepertinya cukup," pikirnya.
Dia mematikan kerain air tersebut, kemudian membuka keran air berwarna biru ke kiri, air dingin pun keluar. Setelah air di bathup terisi penuh, ia mematikan keran itu. Di celupkannya tangan kanan Hanna ke dalam air bathup.
"Pas!" ujarnya tersenyum.
Tidak sabar untuk mandi, ia segera berlari ke arah pintu kamar mandi. Di baliknya berjejer berbagai bola kecil seukuran kelereng berwarna pink. Dirinya mengambil 3 buah bola lalu berlari kembali ke bathup.
Dimasukannya ketiga bola itu ke dalam bath up berisi air. Begitu terkena air, ketiga bola itu meluruh. Sembari menunggu bola itu meluruh sempurna, Hanna berlari ke tempat mencuci baju.
Diambilnya handuk berbentuk mantel yang terhanger di tembok, tepat disebelah mesin cuci. Kemudian di lepasnya seluruh kain yang menutupi tubuhnya, diganti dengan handuk. Sedangkan pakaian kotor, ia masukan ke dalam mesin cuci. Setelah mengatur timer pada mesin cuci otomatis itu, dirinya bergegas lari ke kamar mandi.
Ketika sampai, ketiga bola sabun sebelumnya telah meluruh sempurna. Hanna pun mengobok-obok air hingga bathup itu penuh dengan buih. Kemudian senyum lebar tersungging di wajahnya.
"Inilah waktunya!"
Dia lantas menanggalkan handuk, meletakkannya pada gantungan baju, lalu berendam. Air hangat yang merendamnya begitu nyaman, membuat pundak yang sedari tadi terasa seperti digantungi oleh batu ini, kini terasa lebih ringan.
"Nyaman sekali," ujarnya memejamkan mata.
...**********...
[Disisi lain]
Vincent mengendarai mobil cukup kencang. Kedua alisnya masih terus bertautan menjadi satu, rasa sesak dalam dadanya belum mereda. Dia masih marah akan perkataan Wim ketika di rooftop.
"Hanna,"
Entah kenapa saat ini hanya nama itu yang terlintas di pikirannya. Dia sangat ingin melihat wajah serta senyuman wanita itu. Beberapa saat kemudian, mobil Pajero putih yang dikendarai oleh Vincent berhenti di pelataran gedung apartemen Paradise.
Dia segera turun, lalu berlari kearah lift. Didalam lift yang bergerak naik ke atas itu, tiba-tiba Aksel muncul dipikiran Vincent.
"Apakah dia sudah mengantisipasi B*jing*n itu?" pikirnya.
Dia ingin sekali memberitahu Aksel untuk berjaga-jaga pada Fey, karena pria itu besar kemungkinan akan balas dendam. Namun jika saat ini ia tiba-tiba muncul di hadapan Aksel, apalagi mengaku sebagai reinkarnasi Antonio, dipastikan dirinya malah dianggap gila oleh adiknya itu.
Vincent menghela napas panjang. Amarah di dadanya belum reda, ditambah sekarang kepikiran tentang sang adik, membuat kepalanya bertambah pening.
"Akh!" serunya memukul lift dengan keras.
Ting! Pintu lift terbuka. Begitu keluar, dan memasuki penthouse, dirinya tidak melihat siapa pun disana. Hanya ada tas besar hitam tergeletak begitu saja di depan pintu.
"Kemana dia?" tanyanya dalam hati.
Vincent masuk, mencari Hanna tanpa memanggilnya sama sekali. Setelah mencari di area kamar, dapur serta ruang cuci baju, Hanna sama sekali tidak terlihat batang hidungnya.
Hati Vincent bagai tersentil, ia kecewa tidak dapat menemukan wanita yang sangat ia ingin temui itu. Dengan langkah berat, dia berjalan kembali ke arah ruang tengah. Namun tepat disamping sofa, seketika langkahnya terhenti. Perhatiannya tertuju pada kamar mandi yang terletak dibalik tembok pembatas ruang tengah.
"Hem, Hmm," terdengar suara gumaman melodi dari arah sana.
Seketika rasa kecewa dan kekesalan yang mengganjal di hati Vincent runtuh. Suara lembut itu bagai nyanyian siren, begitu menghipnotis. Dirinya merasa tertarik oleh magnet yang sangat kuat, tanpa sadar kakinya bergantian melangkah mendekati arah suara itu berasal.
Tap! Tap!
Tepat diambang pintu, langkah Vincent terhenti. Matanya melebar, ia begitu tercengang dengan pemandangan menakjubkan di hadapannya saat ini.
"Wah."