
"Kenapa Hermit harus putar balik?" tanya Justine ketika mendengar Vincent menyuruh Hermit untuk putar balik ke distrik Yellowgreen.
Padahal menurutnya akan lebih efektif jika tim Hermit menyisir distrik Bee, sedangkan mereka menyisir distrik Yellowgreen.
"Rebeca tidak ada disana," jawab Vincent memutuskan sambungan telepon.
"Paman sekalian, siapkan senjata kalian, dan juga diri kalian! Misi kali ini akan cukup berat!" lanjutnya seraya mengeluarkan pistol lain selain yang sebelumnya ia pegang.
"Anjing tadi, anjing Lippo ya Tuan," celetuk Houtman dari kemudi, dia membelokan laju mobil ke arah jalan tikus untuk menghindari pemindai kecepatan jalan serta CCTV di jalan utama.
Mendengarnya Justine terperanjat. Apa hubungannya Rebeca dengan Lippo? Bukankah akhir-akhir ini mereka berurusan dengan Badan Pengawasan? Seharusnya para anjing Lippo itu menggigit Badan Pengawasan, kenapa malah menggigit CJ&E Entertainment?
"Anjing gila itu," desisnya dengan rahang mengeras.
Dirinya sudah sangat lama tidak berurusan dengan anjing perusahaan Lippo tersebut. Terakhir berurusan dengan mereka, membuatnya hampir meregang nyawa. Dia lantas menyentuh lehernya yang terdapat bekas tembakan dari sang anjing rabies.
Vincent secara tidak sengaja melihat Justine memegangi leher serta menelan ludah. Dirinya menduga, ketua tim Bruth itu pasti mengingat dirinya saat dia melepas tembakan dari balik pipa di selokan kota Yarden. Tidak ada rasa penyesalan di hatinya namun, dia merasa sedikit tidak enak pada orang yang sudah ia tembak di kehidupan sebelumnya itu.
"Paman gugup?" tanyanya menepuk pundak Justine.
Justine yang sedang larut dalam pikirannya pun cukup teterkejut dengan tepukan Vincent, “Ah tidak,” sahutnya cepat.
“Paman tenang saja, kita ini serigala. Serigala pastilah menang melawan anjing."
Justine hanya diam, lalu mengangguk. Sebelum kemudian memandang senjatanya, mengenggam erat-erat pistol itu.
...*****...
[Disisi lain]
Aksel yang berusaha keras mencari Rebeca mengalami banyak hambatan dan kesulitan. Gelapnya hutan membatasi jarak pandangnya yang hanya mengandalkan lampu flash dari ponsel, serta tidak bekerjanya compas manual sebagai akibat hutan Yellowgreen yang terletak dekat dengan magnet bumi, mengacaukan jarum kompas.
Dia menggunakan kompas manual karena didalam hutan itu tidak ada jaringan yang dapat dijangkau oleh ponsel, sehingga kompas online pun tidak bekerja.
“Sialan! Jika seperti ini Rebeca—” ucapannya terpotong tatkala membayangkan wanita yang dicintainya itu mati.
“Tidak!” tepisnya sendiri. Dirinya yakin akan menemukan Rebeca tepat waktu, sebelum waktunya habis.
Ditengah dia mencoba mencari jalan, Ngik! Terdengar suara sesuatu.
Aksel lantas menoleh ke sekeliling, tapi karena hutan itu amat gelap, matanya tidak mampu melihat apa pun. Namun dari suaranya, ia rasa ada babi hutan, sehingga dia mulai berlari.
Ngik! Ngik! Suara itu terdengar lagi. Kini lebih jelas, dan asalnya dari arah belakang Aksel.
Dia secara refleks menyorot arah belakangnya dengan flash, nampaklah wajah hewan hitam dengan tanduk di kepalanya itu.
Dugaannya benar, ada babi hutan di hutan Yellowgreen, dan sekarang sedang mengejar dirinya.
“B*ngs*t! Mati saja kau!” monolog Aksel kesal, di saat seperti ini babi hutan itu menambah repot.
Dia lantas menarik pistol dari dalam bajunya, hendak mengarahkan mulut senjata api itu ke arah sang babi.
Seolah tahu jika ingin ditembak, babi berukuran besar itu tiba-tiba berlari kencang dan hendak menyeruduk Aksel.
Karena hal itu Aksel tidak sempat mengarahkan pistol, akan tetapi harus mencari pohon untuk menghindari serudukan babi tidak yang tidak diundang kedatangannya itu.
Dewi fortuna masih memihak pada Aksel rupanya. Pemimpin Badan Pengawasan itu menemukan pohon yang cukup tinggi dan kokoh. Meski sulit memanjat pohon dengan pakaiannya yang masih memakai pakaian kerja, pada akhirnya dia dapat memanjat ke atas.
Dari atas dia terus memperhatikan hewan itu seraya berpikir, padahal hutan ini terletak tidak jauh dari kota Yellowgreen, namun masih memiliki hewan liar seperti itu.
Dirinya lantas menduga rumor yang mengatakan orang yang masuk ke hutan ini tidak dapat keluar karena serangan tiba-tiba dari hewan itu.
Ditunggu beberapa saat, namun si babi hutan tidak kunjung pergi. Hal itu membuat Aksel yang tengah dikejar oleh waktu semakin geram.
Dia mengeluarkan pistol dari bajunya, lalu mengarahkannya ke kepala hewan liar itu, "Dasar babi!”
Kemudian ia menarik pelatuk, Dor! Peluru dari pistol itu melesat dengan cepat menembus kepala sang babi hutan, membuatnya mati seketika.
“Makanya jangan menghalangiku! Dasar babi!" hardik Aksel, kemudian berusaha untuk turun.
...*****...
Sementara itu di pinggir hutan Yellowgreen, tim Bruth B yang telah sampai tengah memperhatikan mobil Brio yang terparkir kasar tepat didepan plang hutan itu.
"Ini mobil anjing-anjing itu?" ujar Andreas memegangi pistol, berjalan mendekati mobil Brio itu.
"Siapa lagi yang punya urusan disini selain mereka," sahut Justine yang juga turun dari mobil.
Vincent yang ikut mendengarkan percakapan bawahannya itu curiga, setahu dirinya mobil tim A bukanlah Brio, apalagi dengan bodi mengkilap. Terlihat jika pemilik mobil itu sangat menjaga serta menyayangi kendaraan roda empat tersebut.
Dia lantas mendekat, dan ketika melihat secara dekat. Dirinya melihat sebuah gantungan berupa boneka jerami orang dewasa yang menggandeng anak kecil. Gantungan itu diletakkan tepat di atas dashbord dekat dengan setir mobil.
Ia terperanjat bukan main, gantungan itu sangat familier baginya.
Itu adalah gantungan yang dia berikan pada adiknya yang masih berada di panti asuhan Gunver, saat dia masih hidup sebagai Yohan. Dia memberi itu sebagai simbol bahwa ia tidak akan meninggalkan, dan akan selalu menjaga sang adik.
“Aksel!” ujarnya dalam hati. Dirinya tidak menyangka adiknya itu bisa berada di hutan Yellowgreen.
Dilihat dari jumlah mobil yang hanya satu, dan tidak ada tanda-tanda orang selain sang pengemudi, sepertinya Aksel datang seorang diri.
Apa yang membawanya sampai ke tempat ini? Apakah dia berhubungan dengan Rebeca? Atau dia dipancing oleh tim A?
Berbagai pertanyaan muncul dibenaknya, namun yang pasti, sekarang adiknya itu dalam bahaya. Dirinya tahu seperti apa tim A itu, seorang diri menghadapi anjing gila Lippo sama saja dengan menawarkan hidup pada kematian.
Dor! Terdengar suara tembakan dari dalam hutan.Dia langsung menoleh ke arah suara senjata api itu berasal.
Pikirannya tidak lagi mengarah ke Rebeca, namun ke sang adik. Kemungkinan besar suara tembakan itu berasal dari tim A.
"Jika Aksel sampai mati, aku akan membunuh kalian tim A!” desisnya geram. Ia langsung berlari masuk kedalam hutan.
Sementara tim Bruth yang melihat Tuan mereka tiba-tiba pergi tanpa berbicara apa pun, lantas ikut berlari.
“Vincent! Tunggu! Kau mau kearah mana?!” teriak Justine dari belakang Vincent.
“Tentu saja ke arah suara tembakan itu berasal!” sahut Vincent.
“Memangnya kau yakin Rebeca ada disana?!”
Vincent hanya diam, tidak menghiraukan Justine dan terus berlari jauh ke dalam hutan. Hal yang dimata Justine terlalu gegabah itu menyulut api kekesalan dibenaknya.
Dia lantas menarik baju pria yang berlari di depannya itu cukup keras, "Kau dengar aku tidak?!”