
[Disisi lain, rumah Aksel]
Aksel tengah duduk di kursi putar, memandang dengan seksama layar monitor, sembari mengetuk-ngetukan ujung bolpoin ke atas lembaran kertas.
Di ruangan yang tidak besar yakni berukuran dua kali dua meter itu, dia mengamati kembali rekaman CCTV rumah yang sebelumnya telah ia pulihkan. Dia sangat ingin tahu, siapa pria yang ada didalam rekaman CCTV itu.
Dia memberi dokumen pendukung, meski pada akhirnya dokumen itu tidak cukup kuat tanpa bukti lain yang dapat menguatkannya di pengadilan. Membuat Aksel berpikir, mungkin pria ini juga mempunyai dendam pada Lippo, sama seperti dirinya.
Tidak sadar ia sudah menonton rekaman itu puluhan kali, hingga jam pintar yang dikenakan olehnya mengeluarkan bunyi.
"Peringatan! Anda telah duduk lebih dari 30 menit! Silahkan berjalan-jalan selama 3 menit untuk kesehatan tulang belakang anda!"
Mendengar peringatan itu, bibir Aksel tersenyum kecut. Bisa-bisanya selama ini dia hanya diperhatikan oleh jam pintar, bukannya manusia.
"Aku juga ingin diingatkan oleh seseorang bukan mesin," ujarnya dalam hati.
Dia kemudian beranjak dari kursi, lalu berjalan ke luar. Sesampainya di ruang tengah, ia tidak sengaja melihat ke arah pintu rumahnya yang terkunci.
Dirinya mengingat rekaman CCTV yang menunjukkan pria asing yang sama memencet pin pintu rumahnya dengan mudahnya.
Kemudian Aksel menoleh ke belakang, lalu ke depan. Dia memperhatikan jarak pintu dengan kamarnya yang cukup jauh ini. Kemudian pandangannya tertuju pada meja kaca yang berada tepat di sebelah kirinya.
Dia berpikir lagi. Selain pria asing di CCTV mengetahui kode pin pintu, dia juga langsung meletakkan dokumen pendukung diatas meja.
Kemudian langsung berjalan ke arah kamarnya. Pria itu nampak hafal dengan denah rumah ini, seolah dia memang tinggal disini.
"Tapi itu mana mungkin!" bantahnya sendiri.
Dirinya ini hanya tinggal sendiri sejak dinyatakan dewasa dari panti asuhan Gunver, dan Kakak yang mensponsorinya juga tidak pernah tinggal di rumah ini.
Jika rekaman CCTV serta akses kodenya di retas, itu tidak mungkin. Sebab dia sudah mengeceknya berulang kali. Hasilnya semuanya baik-baik saja, tidak ada jejak peretasan.
"Akh!" bentak Aksel seorang diri, sembari menjambak rambutnya.
Memikirkan Lippo sudah membuat kepalanya pening, ditambah sekarang memikirkan pria asing yang merupakan anonim itu. Kepalanya terasa mau pecah!
Aksel pun menjatuhkan diri diatas sofa, memegangi kepalanya yang terasa sakit.
Ditengah-tengah itu, dia baru sadar ponselnya mati sedari pagi karena kehabisan daya.
Hal itu terjadi lantaran ia lupa belum membeli pengisi daya baru. Karena pengisi daya milik Aksel sebelumnya meledak karena keteledorannya sendiri.
Aksel kemudian beranjak dari sofa, berjalan ke kamarnya. Dia membuka pengisi daya baru yang sudah ia beli ketika pulang bekerja, kemudian mengisi daya ponsel itu.
Setelah beberapa saat, ketika daya cukup terisi, Aksel menyalakan ponsel. Logo Xendra sebagai induk dari perusahaan pembuatan ponsel GL muncul di layar.
Rupanya Aksel menggunakan ponsel buatan anak perusahaan Xendra Grup, GL Company.
Begitu layar menyala dan tersambung ke jaringan internet, banyak pesan masuk.
Mulai dari anggota dewan yang menjadi atasan Aksel, hingga Dino. Namun ada satu pesan yang begitu melihatnya, membuat hati Aksel seketika berbunga.
Pesan yang mampu membuanya tersenyum, siapa lagi jika bukan dari wanita yang sangat ia cinta dan sayangi.
Ibu jari Aksel menyentuh layar yang menampilkan pesan dari kontak bernama Rebeca itu, kemudian isi pesan muncul.
..."Aku pulang, dan sedang di jalan menuju halte Eron."...
Setelah membaca isi pesan itu, ibu jari Aksel mengetik keyboard di layar ponselnya.
Dia mengetikan kata, 'Ya,' kemudian mengirimkannya, sebelum akhirnya meletakkan kembali ponsel itu.
Sembari menunggu balasan dari Rebeca, dia pergi ke dapur untuk menyeduh segelas kopi.
Beberapa saat hingga Aksel menghabiskan kopi, ponselnya tidak kunjung berbunyi. Rebeca belum memngirim pesan balasan.
Hal itu cukup aneh, karena dia hapal sikap Rebeca yang cerewet jika pesannya hanya dibalas dengan kata 'Ya'.
Dia akan langsung mengirim pesan balasan yang tidak kalah panjang dari gerbong kereta.
"Mungkin dia sedang apa kali ya," pikirnya.
Dia pun membuka laptop, dan menyelesaikan beberapa pekerjaan. Hingga pukul 8 malam, Aksel selesai mengerjakan pekerjaan, Rebeca tetap tidak membalas.
Disaat itu, pikiran akan sesuatu yang tidak bagus terlintas di kepala Aksel. Jangan-jangan terjadi sesuatu padanya?
Dia segera beranjak dari kursi, kemudian berlari ke arah ponsel yang tengah ia isi dayanya itu.
Ternyata ada pesan masuk dari Rebeca. Pikiran buruk yang sebelumnya terlintas di kepala Aksel sedikit menghilang. Namun perasaan lega itu berubah menjadi perasaan panik bercampur marah serta geram, tatkala ibu jari Aksel membuka isi pesan itu.
Isi pesan Rebeca menampilkan Rebeca itu sendiri tengah diikat, dengan mulut disumpal kain lalu diikat dengan sebuah tali.
Tidak cukup sampai disana, kepala Rebeca juga ditutupi kain hitam. Di lehernya diikatkan tali tambang yang terhubung pada sebuah tuas. Disamping tuas itu terdapat angka berwarna merah, menandakan batas waktu sebelum tuas itu akan berputar, menarik tali yang mengikat leher Rebeca.
"B*jing*n!" seru Aksel menggebrak meja dengan keras, kedua matanya melotot ke arah layar ponsel yang tengah ia pegang.
Video itu lalu beralih ke angka yang tertera di samping tuas. Terlihat angka hitungan mundur 7 jam dari pesan video dikirim.
Melihat itu, Aksel melihat jam di pergelangan tangannya. Jam menunjukkan pukul setengah sembilan malam.
Tring! Muncul pesan di bawah video itu bertuliskan, "Tangkap aku jika kau bisa. Jadi kau bisa menyelamatkan wanitamu, hahahaha!"
Membaca pesan tantangan itu membuat rasa panas meluap di dadanya. Bak lava panas menyembur dari kawah gunuh berapi.
Dia berlari menuju lemari baju, tempat dia menyimpan pistol pemberian mendiang sang kakak, lengkap dengan peluru penuh di dalamnya.
Aksel mencoba melacak GPS ponsel Rebeca, namun GPS itu hanya terakhir menyala di dekat kawasan Cave Restaurant.
"Sial!" monolognya dengan nada kemarahan.
Tidak mau membuang-buang waktu, dan melihat Rebeca hanya tinggal nama, Aksel pun segera berlari keluar rumah. Dia menyusuri seluruh kota Yarden untuk menyelamatkan kekasihnya itu.
"Rebeca! Bertahanlah!"