
Setelahnya tim beranggotakan lima belas orang, termasuk Carlos itu berangkat ke tempat target mereka berada.
Beberapa saat kemudian, tiga mobil dengan model serta plat nomor palsu itu berhenti di suatu tempat yang cukup tersembunyi. Mereka tidak serta merta berjejer, melainkan berpencar mengitari satu-satunya bangunan restoran bintang empat di tempat itu, Cave Restaurant.
Dari balik jendela mobil van putih, dari luar penampakannya layaknya mobil dari stasiun televisi, Vilius tengah berusaha membobol sistem kamera pengawas di restoran itu. Sedangkan anggota tim A lain yang berada disebelah Vilius—Jonas, mengawasi bangunan restoran yang dominan berwarna putih itu menggunakan teropong.
Setelah bergelut dengan rumitnya bahasa pemrogaman, Tak! Suara jari Vilius dengan keras menekan keyboard enter. Dia tersenyum kemenangan.
Mendengar suara keyboard yang ditekan keras, Laurid dan Torben yang berada di tempat duduk belakang, langsung bergegas ke tempat Vilius duduk.
Di layar monitor laptop yang hanya selebar 10 inchi itu, ketiganya melihat Rebeca dari CCTV dapur. Di bagian dapur restoran yang ramai oleh beberapa orang sibuk lalu lalang, terlihat wanita berambut pirang itu tengah sibuk membantu lima orang berseragam putih dengan topi panjang di kepala mereka.
"Dia koki? Atau pembantu dapur?" tanya Torben melihat gambar Rebeca bergerak kesana kemari seperti setrika.
"Itu namanya asisten koki Ben," jawab Laurid.
"Oh, bukannya sama saja? Asisten 'kan sama saja dengan pembantu," celetuk Jonas tanpa menoleh, ia masih sibuk dengan teropongnya, memantau situasi luar Cave Restaurant.
Mendengar celetukan Jonas, Laurid dan Torben tertawa, tapi tidak dengan Vilius. Dia diam saja, matanya terus mengawasi gerak-gerik Rebeca di layar monitor miliknya.
...**********...
[Sementara itu, dari sisi Rebeca]
"Rebeca! Tolong ambilkan bahan itu untuk pelengkap hidangan meja B!" seru salah satu koki.
"Baik!" sahut Rebeca.
Dia bergegas mengambil bahan yang dibutuhkan oleh koki dari dalam kulkas. Melihatnya tergeletak di dalam kulkas, segera setelah mendapat sayuran berwarna hijau itu, dirinya berlari ke meja dimana sebuah nampan kayu berada.
Diatas nampan itu, tersaji makanan pesanan seseorang yang duduk di meja B. Segera ia menghias makanan itu semenarik mungkin sesuai yang tertera dalam menu, kemudian setelah selesai, Ting! dia membunyikan bel.
Mendengar bel dibunyikan, seorang pelayan wanita langsung menghampiri arah suara itu berasal.
"Meja B," ujar Rebeca semebari menyodorkan nampan kayu berisi makanan yang sudah di hiasnya.
Pelayan itu menganggukan kepala, menyambut nampan kayu, kemudian pergi kearah meja yang dimaksud.
[Beberapa jam pun berlalu]
Jam kerja Rebeca yang hari ini masuk shift pagi telah usai. Namun dia tidak sadar jika sudah saatnya pergantian shif, wanita cantik itu masih sibuk mondar-mandir.
Sam, teman Rebeca yang datang shift sore pun memasuki dapur setelah absen seraya mengenakan celemek berwarna putih.
Dia melihat Rebeca masih sibuk di dapur, padahal jam sudah menunjukkan pukul lima sore hari, dirinya pun menghela napas. Dari sepanjang ia bekerja, Rebeca memang kerap lupa waktu ketika sudah di dapur.
Sam berjalan ke arah Rebeca yang tengah memotong seledri, kemudian menepuk pundaknya, "Woy!"
"Astaga kaget!" seru reflek Rebeca. Saking terkejutnya dia, pisau yang dirinya pegang hingga terjatuh.
Ketika ia hendak memungut pisau itu, Sam langsung mendahuluinya, "Eits,"
"Sana pulang, sudah jam 5 tuh." lanjutnya seraya mencuci pisau yang ia ambil dari lantai itu.
"Jam lima lebih sepuluh menit! Aku harus absen pulang!" ujarnya dalam hati.
"Aku pulang Sam!"pamit Rebeca seraya melepas celemeknya.
"Ya, sana pulang." sahut Sam tanpa menoleh. Dia melanjutkan pekerjaan Rebeca sebelumnya.
Rebeca berlari dengan membawa celemek di tangan kirinya. Ketika sampai di ruangan tempat mesin absen berada, dirinya segera absen dengan menempelkan sidik jari ke mesin pemindai itu.
Tring! Nama Rebeca muncul dilayar absen, menandakan absennya berhasil. Fyuh! Dirinya menghela napas panjang, sebab jika terlambat 1 menit untuk absen pulang, dia bisa dimarai oleh manager restoran itu.
Cave Restaurant mempunyai aturan, tidak memperbolehkan pegawainya pulang melebihi lima belas menit waktu seharusnya.
Dia kemudian bersiap pulang, meletakkan celemek di loker dan mengambil jaketnya. Setelah memakai jaket, dia berjalan keluar melewati pintu belakang.
Beberapa hari ini, Kota Yarden terus diguyur hujan, meski hanya sebatas gerimis kecil.
Hal itu tetap membuat Rebeca cukup heran. Disaat musim yang seharusnya kembali menghijaunya dedaunan yang telah tumbuh selepas musim gugur ini, malah lebih sering diguyur oleh hujan.
Dia berjalan menuju halte, karena setiap hari ia berangkat kerja dan pulang menggunakan alat transportasi umum itu. Ditengah jalan, dirinya menyempatkan mengirim pesan untuk kekasihnya.
"Aku pulang, dan sedang di jalan menuju halte Eron."
...**********...
[Disaat bersamaan]
Ketiga mobil dari tim A yang sedari pagi hingga petang mengintai gerak-gerik Rebeca pun berjalan pelan dibelakang wanita yang sibuk dengan ponselnya itu.
Mobil Civic hitam yang saat ini tepat berada di belakang Rebeca, berhenti ketika wanita itu masuk diluar jangkauan CCTV jalan.
Meski sebelumnya, CCTV jalanan sudah diretas oleh Vilius. Tidak main-main, peretas tim A itu sampai menghancurkan file rekaman hingga ke bagian paling dalam.
Dia mengantisipasi jika rekaman CCTV jalan mencoba di pulihkan oleh pihak berwajib, hal itu akan sulit atau malah tidak mungkin, karena dia menggunakan virus yang paling berbahaya untuk merusak isi file rekaman itu.
Internet memang pedang bermata dua, satu sisi sangat memudahkan segala urusan namun disisi lain, peretas kelas kakap seperti Vilius mampu merusak file dengan mudahnya melalui internet.
Dari dalam mobil Civic hitam itu, keluar Hansen dan Allan. Kawasan itu yang sepi pejalan kaki maupun kendaraan memudahkan aksi Hansen dan Allan.
Segera mereka membekap Rebeca dan menyuntikan obat bius tepat dilehernya.
Rebeca mencoba melawan, namun dirinya yang seorang wanita tidak mampu jika melawan tenaga pria, apalagi dua orang sekaligus.
Jarum yang ditancapkan ke lehernya itu membuat pandangannya mulai berat, hingga ia pun pingsan. Allan segera mencabut jarum berisi obat bius—tidak! Itu adalah sejenis nark*ba.
Hansen kemudian membopong Rebeca menuju mobil yang telah dimajukan ke tempatnya oleh anggota tim A lain, Thomas.
Sebelum masuk ke dalam mobil, Allan menoleh ke arah mobil sedan biru tua, tempat Carlos dan anggota tim A lain berada. Dia memberi kode bahwa Rebeca berhasil ditangani, setelahnya masuk kedalam mobil.
Senyum seringai pun tersungging di bibir Carlos, "Kerja Bagus!"